MENENGOK PENGHARGAAN ISLAM TERHADAP ILMU PENGETAHUAN
Abdul Mutolib Aljabaly

Tidak diragukan lagi penghargaan Islam terhadap ilmu. Bahkan tidak berlebihan jika mengatakan bahwa Islam adalah agama yang paling nyata penghargaannya terhadap ilmu pengetahuan. Wahyu pertama dalam Islam adalah perintah membaca dan isyarat ilahiah tentang pentingnya qalam (pena) (QS. Al-Alaq:1-5).
Perintah”‘iqra’” tidak hanya berarti ‘membaca’ tetapi juga mengkaji, meneliti, dan aktivitas intelektual lainnya. Qalam atau pena dijadikan oleh Al-Qur’an sebagai simbol transformasi ilmu pengetahuan. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting tradisi tulis-menulis yang dilambangkan dengan qalam.
Di dalam Al-Qur’an juga terdapat banyak ayat yang mengandung dorongan mengembangkan ilmu. Al-Qur’an misalnya memerintahkan manusia untuk mengamati fenomena alam dan menggunakan akal untuk berpikir. Melakukan pengamatan (penggunaan empiri) dan berpikir (penggunaan rasio) merupakan dua dasar metodologi ilmu.
Al-Qura’an dan hadis juga secara lugas memberikan penghargaan kepada orang yang berilmu. Allah Swt berfirman, “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah:11). Sedangkan Rasulullah saw bersabda, “Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian (sahabat) (HR. At-Turmudzi)
Dari spirit ilahiah untuk pengembangan ilmu itulah maka Rasulullah saw memberi perhatian besar terhadap literasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Di tengah-tengah masyarakat yang secara umum ummi (buta aksara, illetered), Nabi Muhammad saw telah melakukan langkah yang sangat strategis dan futuristik ketika melakukan perjanjian dengan 70 tawanan Perang Badar agar mereka mengajarkan baca tulis (literasi dasar) terhadap orang Islam sebagai tebusan bagi pembebasan mereka. Satu orang tawanan menjadi guru bagi 10 orang penduduk Madinah, dan dari kebijakan itu telah membebaskan 700 penduduk Madinah dewasa dari buta huruf. Mereka pun kemudian menjadi guru bagi penduduk yang lain.
Spirit ini juga telah mendorong orang-orang muslim awal dan pada abad-abad keemasan Islam menjadi dinamo penggerak kemajuan peradaban dunia. Masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam) pada periode Abbasiyah ditopang oleh tingginya budaya literasi baik dalam bentuk membaca, meneliti, berdiskusi dan menulis. Perpustakaan sebagai jantung pembudayaan literasi mendapat perhatian besar dari para pemimpin muslim pada waktu itu. Bait al-Hikmah dikenal sebagai perpustakaan umum pertama dalam Islam yang didirikan di Baghdad oleh penguasa Abbasiyah, menjadi tempat membaca, berdiskusi dan melakukan aktivitas penerjemahan.
Setelah itu muncul berbagai macam perpustakaan yang memiliki koleksi buku dari berbagai jenis ilmu pengetahuan dan dilengkapi dengan fasilitas ruang baca, ruang seminar atau diskusi dan ruang pembelajaran. Di Mesir, pada masa Fathimiyah berdiri perpustakaan Dar al Hikmah yang mengoleksi sekitar 2 juta judul buku. Di Andalusia, kaum muslim telah memiliki 20 perpustakaan umum. Perpustakaan Cordova misalnya, memiliki koleksi 400.000 judul buku. Sungguh suatu jumlah koleksi buku yang luar biasa untuk ukuran zaman itu. Perpustakaan gereja Canterbury saja yang terbilang paling lengkap pada abad 14, hanya memiliki 1800 judul buku menurut catatan Chatolique Encyclopedia.
Maka tidak heran dengan budaya literasi yang tinggi, bermunculan ilmuan-ilmuan kelas dunia yang karya-karyanya tetap menjadi rujukan hingga zaman sekarang seperti Ibnu Sina, al-Kindi, al-Khawarizmi, dan lain-lainnya.
Dalam menggambarkan kegemilangan Islam, seorang sejarawan sains terkemuka, George Sarton menulis dalam bukunya Introduction to the History of Science, “ Cukuplah kita menyebut nama-nama besar yang tak tertandingi di masa itu oleh seorang pun di Barat; Jabir bin Hayyan, Al-Kindi, Al-Khawarizmi, Al-Farqani, Ar-Razi, Tsabit bin Qurra’, Al-Battani, ….Mereka semua hidup dan berkarya dalam periode yang amat singkat dari tahun 750 M. hingga 1100 M.”
Islam juga tidak memiliki sejarah pertentangan dengan ilmu pengetahuan sebagaimana terjadi dalam dunia Barat dalam konteks agama Barat pada abad pertengahan. Banyak ilmuan yang diasingkan bahkan dibunuh karena dianggap mengemukakan pemikiran dan pandangan ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan doktrin gereja.
Kita mengenal Copernicus yang memperkenalkan teori matahari sebagai pusat tata surya. Pemikiran itu dianggap sesat oleh gereja yang menyakini bumi sebagai pusat tata surya. Karena teorinya mempengaruhi banyak ilmuan dan dianggap membahayakan, ia dikucilkan dan menjadi pesakitan sepanjang hidupnya. Kita juga mengenal Giordano Bruno filusuf dan matematikawan asal Italia, yang dihukum mati dan dibakar hidup-hidup. Ada juga juga Galileo Galilei astronom asal Italia yang membuktikan teori Copernicus bahwa matahari adalah pusat tata surya. Karena pandangannya itu ia dihukum seumur hidup.
Kondisi ini terus berlanjut hingga muncul era pencerahan pada abad 17 dan 18 yang mengakhiri dominasi gereja dan menguatnya pandangan sekularisme yang memisahkan urusan gereja (agama) dengan urusan negara. Setelah itu Eropa mengalami kemajuan hingga sekarang.
Kebangkitan Eropa dari era kegelapan (dark age) tidak terlepas dari transmisi ilmu pengetahuian Islam ke Eropa. Dunia Islam sendiri telah mengalami era kemajuan dan keemasan pada abad 8 hingga abad 15. Jalur transmisi ilmu pengetahuan Islam ke dunia Barat antara lain melalui Andalusia (Spanyol), Sisilia (Italia) dan Konstantinopel.
Masuknya Islam ke Spanyol telah berhasil menorehkan kemajuan pada abad 9 M dan mencapai puncaknya pada abad 11 M. termasuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuan muslim memboyong berbagai literatur ilmu pengetahuan ke Andalusia. Spanyol pun menjadi pusat pembelajaran (centre of learning) bagi masyarakat Eropa dengan adannya Universitas Cordova. Para pencari ilmu dari Eropa juga berduyun-duyun mendatangi Andalusia untuk menimba ilmu.
Philip K. Hitti dalam bukunya History of the Arabs mengungkapkan bahwa kaum muslimin Spanyol telah menorehkan catatan yang paling mengagungkan dalam sejarah intelektual pada abad pertengahan di Eropa. Antara abad 2-7 H/ 8013 M, cendekiawan dan ulama Islam telah membawa perkembangan kebudayaan dan peradaban ke seluruh pelosok dunia. Di samping itu mereka juga memiliki peranan yang menghubungkan ilmu dan filsafat Yunani klasik sehingga khazanah kuno itu ditemukan kembali. Tidak hanya sebagai mediator, tetapi mereka juga memberikan beberapa penambahan dan proses transmisi sedemikian rupa sehingga memungkinkan lahirnya pencerahan di Eropa Barat. Dalam semua proses tersebut bangsa Arab-Spanyol mempunyai andil yang sangat besar.
Bagaimana kondisi ilmu pengetahuan di dunia Islam sekarang? Simak ulasannya di tulisan berikutnya!

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *