Oleh: Moh. Anis Romzi

Barangsiapa mencintai sesuatu, maka dia menjadi Hamba

Rutinitas pekerjaan acap kali menimbulkan kejenuhan. Itu karena selalu berulang dari awal. Sesuatu yang dikerjakan berkali-kali tidak akan membawa dampak pada diri,, apabila hanya dirasakan sebagai sebuah ritual. Ini perlu menghadirkan rasa agar sebuah rutinitas menjadi bermakna. Tidak ada yang sama pada setiap rutinitas sebenarnya. Ia selalu berbeda. Minimalnya ada perbedaan waktu dan ruang yang berbeda. Dari sinilah rasa itu dapat dipanggil.

Menemukan cinta dalam pekerjaan. Cinta itu ditemukan karena rutinitas terkadang. Dalam ungkapan Bahasa Jawa waiting tresno saka kulino.( Awal cinta itu karena biasa).  Ketika mampu memaknai rutinitas sebagai sebuah keindahan itulah sejatinya cinta. Termasuk dalam dunia pekerjaan. Ketika setiap hari kita mampu menemukan kebaikan dan keindahan tidak akan rasanya pindah ke lain hati. Inilah yang saya maksudkan dengan cinta. Keindahan itu ditemukan bukan datang sendiri. Di mana saja, aktivitas apa saja ada cinta. Bila kita bisa memaknai pekerjaan sebagai ibadah mengharap cinta-Nya.

Saat lelah bekerja, mengingat-Nya menjadi tenang. Itu menyegarkan. Karena cinta sudah tertanam lelah itu menjadi indah. Semua pengorbanan serasa telah terbayar lunas dengan janji-Nya. Banyak hal yang patut disyukuri karena lelahnya rutinitas dalam bekerja. Bahwa pekerjaan hari yang diamanahkan kepada kita adalah harapan bagi para pencari pekerjaan. Nikmat mana lagi yang pantas didustakan. Seketika rasa tenang membawa semangat cinta pada pekerjaan karena-Nya.

Melaksanakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari sifat amanah. Setiap kita akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang Ia berikan. Waktu, harta, pekerjaan, bahkan hidup wajib dipertanggungjawabkan. Tanggung jawab tertinggi adalah kepada-Nya. Kenapa mesti mendua. Selain Dia hanyalah ikutan. Tunaikan pekerjaan dengan cinta dan semangat pengabdian kepada-Nya.

Menikmati pekerjaan sebagai panggilan jiwa. Ini adalah pesan hati. Ketika ia dirasakan sebagai suara hati ini akan menuntun kepada keselamatan. Hidupkan jiwa dengan nilai rohani dalam menjalani pekerjaan. Kita tidak akan terbawa suasana melainkan menciptakan nuansa keindahan dalam pekerjaan. Jika jiwa sudah terpanggil dalam melaksanakan amanah pekerjaan tidak akan ada penghalang berarti.

Pekerjaan kita adalah ladang pahala di dunia. Bukankah dunia tempat menghimpun bekal untuk kampung akhirat? Allah meminta kita untuk berbuat baik sebagaimana Ia telah berbuat baik kepada kita. Ia juga memerintahkan untuk mencari bekal untuk akhirat tanpa melupakan nasib di dunia. Persiapkan bekal melalui melaksanakan amanah pekerjaan dengan memberikan yang terbaik.

Saat hati gelisah melihat suasana di luar, tarik ke dalam dengan zikir. Ini bukanlah aktivitas yang hanya dilakukan di masjid atau musala. Zikir dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Saya menyebut sebagai menarik Tuhan keluar dari masjid dan musala. Hasil dari zikir adalah ketenangan dan semakin bertambahnya ketaatan.

Mencintai pekerjaan membuahkan berkah dalam hidup. Ada penghasilan yang bersih karena tunainya amanah. Ini linear dengan usaha yang bersih akan menghasilkan nafkah yang bersih pula. Sungguh Allah mencintai kepada kebersihan. Cintai pekerjaan Anda karena Dia.

Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan ‘efek samping’ sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam. Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekedar kekuatan fisik.” (Cinta, Seksualitas, Monarki, Gender; 291;2002). Ini saya kutip dari kiriman anggota KALIMAT Ibu Maryati Arifuddin Moersahid, Kepala SMK Kehutanan Pekan Baru. Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah, 23/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *