Oleh: Ade Zaenudin

Memori senja itu kembali menyelinap saat sore ini saya terjebak macet yang entah kenapa penyebabnya. Bayangan itu terlihat jelas, sosok lelaki paruh baya bersama pasangannya di pinggir jalan, samping kali Mookervart, persis di Jalan Daan Mogot Cengkareng arah Kalideres.

Lelaki gagah berhelm itu berdiri sambil memaki perempuan yang juga masih berhelm. Sepi. Hanya mereka berdua ditemani sepeda motor yang sebelumnya mereka tunggangi, dan saat tragedi itu terjadi, motor terdiam seribu bahasa.

Tidak ada yang tahu apa penyebab naik pitamnya lelaki itu, yang jelas pemandangan itu sejenak menjadi perhatian siapa pun yang lewat. Satu hal yang pasti, saya jadi ikut terbawa emosi.

Perempuan itu duduk tertunduk, diam tak melawan menerima hardikan. Ah tak peduli siapa yang salah, saya bilang sama istri, perempuan selalu saja jadi korban. Ternyata kata-kata emosi saya dijawab sama istri, apaah sih? Waduh rupanya istri gak sempat melihat pemandangan sekejap itu.

Memori itu sejenak hilang saat radio yang terpasang di dashboard menyiarkan bahwa terjadi gencatan senjata yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Konflik yang saya sudah dengar sejak kecil dan tak berhenti sampai saat ini. Anehnya banyak manusia yang mendukung tindakan yang tidak manusiawi itu. Ah… saya pun teringat judul sinetron “Dunia Terbalik” yang diperankan Akum, Aceng, dan Dadang. Benar ternyata dunia ini adalah panggung sandiwara seperti yang dilantunkan Ahmad Albar.

Rupanya perseteruan di bumi ini tidak cukup diwakili pasangan senja kali mookevart. Atau jangan-jangan karena diberi contoh para tokoh?

Macet sedikit terurai, penyebabnya juga terkuak. Rupanya beberapa meter di depan ada dua motor bersenggolan. Gak ada yang terjatuh, tak ada yang terluka, hanya luka hati yang membuat mereka menumpahkan emosi. Maklum sama-sama anak muda.

Lalu tiba-tiba terlintas satu kata dalam benak saya, empat huruf. Maaf.

Andai ada maaf di pasangan senja kali Mookevart, ada perdamaian abadi di semua negeri, dan ada kebesaran hati di kedua anak muda pengendara sepeda motor, mungkin laju mobil saya tak akan terganggu. Kencang menghantar rindu sama anak di rumah.

Memang berapa sih harga maaf?

Ternyata bukan persoalan harga maaf, persoalannya adalah harga diri yang membuat harga maaf menjadi tak terbeli. Nyatanya pula tidak semua konflik merugikan karena bisa saja ada pihak lain yang memanfaatkan keadaan.

Lihat saja kasus perseteruan Deddy Corbuzier dan Panca di acara Indonesia’s Next Top Model yang sedikit banyak membawa berkah bagi para pewarta gosip. Sangat mungkin ngefek ke rating TV-nya juga.

Teori konflik yang dikemukakan Lewis A. Koser bahkan menyatakan konflik memiliki fungsi positif jika bisa dikelola dan diekspresikan dengan wajar. Menurutnya konflik mampu mempererat hubungan antar individu dalam satu kelompok.

Dalam kasus konflik Israel-Palestina misalnya, betapa konflik ini bisa menjadi perekat soliditas dan solidaritas bahkan untuk negeri-negeri para pendukungnya, mereka rela berkorban atas dasar kesamaan prinsip dan pandangan.

Sejatinya kata maaf bukan merupakan sesuatu yang ekslusif dan berharga mahal karena kehadirannya menjadi satu paket dengan fitrah manusia yang menjadi tempat salah dan lupa. Ibarat dua garis besi jalan kereta api yang kehadirannya saling melengkapi.

Atas dasar potensi manusia yang tidak luput dari salah dan dosa maka sejatinya pula kata maaf menjadi hak milik semua orang, bukan hanya milik orang yang berseteru dan bersalah tapi seyogyanya juga menjadi hak milik pihak yang saat itu dinyatakan tidak bersalah. Inilah makna saling maaf-memaafkan.

Mari tengok tradisi maaf-memaafkan di hari raya, bahkan sebagian umat Islam mentradisikan “ruwahan” menyambut bulan puasa dengan saling meminta maaf sama sanak saudara, yang muda menyambangi yang tua. Ini adalah kearifan lokal yang sangat menyejukkan dan perlu dilestarikan dalam rangka menghadapi krisis karakter.

Dalam kitab Mausu’ah min Akhlaqir-Rasul, Mahmud al-Mishri mengatakan bahwa memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai di antara sesama manusia. Jika orang lain mencerca, sebaiknya kita membalasnya dengan memberi maaf dan perkataan yang baik.

Orang yang hebat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan. Sesungguhnya orang yang hebat adalah yang mampu mengendalikan nafsunya ketika marah. Memaafkan dan mengampuni juga merupakan perbuatan yang diperintahkan Sang Khalik. Begitu kata Nabi Muhammad SAW.

Bukan hanya dalam kata, Nabi Muhammad SAW pun memberikan contoh teladan memaafkan dalam bentuk perbuatan. Kita ingat kisah Tsumamah bin Itsal yang sengaja datang dari Makkah ke Madinah dengan penuh emosi hendak membunuh Nabi. Setelah ditangkap Umar, Nabi malah menjamu dengan hidangan susu segar dan kemudian membebaskannya.

Kesan itu begitu mendalam bagi Tsumamah, dia katakan, “Ketika aku memasuki Kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.

Lalu dari mana logika yang mengatakan bahwa bom bunuh diri adalah ajaran Islam, membunuh orang tidak sepaham adalah jihad?

Sekali lagi, selalu ada yang mengail di air keruh, memanfaatkan keruwetan. Ini bukan fitrah manusia tapi fitrah setan yang selalu iri dengan kedamaian.

Mari tebar kedamaian dengan senantiasa maaf-memaafkan, karena maaf ternyata gak mahal-mahal amat.

Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *