close up photo of raisins and dates

Menakar Diri Dari Tingkatan Puasa Imam Al Ghazali

Adalah Al Ghazali dalam sebuah karyanya yang berjudul Ihya Ulumuddin, membagi puasa menjadi 3 tingkatan. Puasa Awam, puasa khawas, dan puasa khowasul khowas.
Tingkatan pertama, puasa awan. Puasa awam adalah puasanya orang umum. Puasanya kebanyakan orang pada umumnya, yaitu puasa yang dilakukan seseorang yang hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan minum serta hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan.
Puasa seperti ini tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Sebagaimana sebagaimana dalam sebuah hadis yang berbunyi
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.”
Tingkatan kedua, puasa khowas. Yaitu puasa yang istimewa. Puasanya orang-orang khusus, yaitu seseorang yang berpuasa lalu menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa dan menjaga dari segala macam dosa baik yang besar maupun yang kecil. Puasa ini tidak sekedar menahan lapar dan haus saja tapi menghindari hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa.
Orang pada tingkatan puasa kedua ini, mengikutsertakan seluruh anggota badannya untuk berpuasa. Mulutnya terjaga dari ghibah, menggunjing dan sebagainya. Matanya digunakan hanya untuk melihat kebesaran Allah dan terhindar dari penglihatan yang tidak halal. Tangannya tidak untuk menyakiti orang lain. Kakinya terhindar dari tempat-tempat maksiat. Saat berbuka pun hatinya berada di antara takut dan harapan, apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah Swt.
Puasa khowas ini banyak dilakukan oleh orang-orang saleh yang dekat kepada Allah Swt.
Tingkatan puasa ketiga adalah puasa khawasul kahawas. Merupakan puasa yang paling istimewa. Yaitu puasa yang dilakukan seseorang yang mencakup kedua tingkatan puasa. Puasa ini disertai menjaga hati dan pikiran dari segala urusan duniawi. Lalu totalitas berkonsentrasi hanya kepada Allah saja.
Puasa khoawasul khowas sedikitnya mengandung tiga katakter utama. Pertama, seluruh panca indera ikut berpuasa. Tangan, kaki, telinga, lidah. Kedua, puasa yang disertai dengan menjaga hati. Ketiga, menjaga pikiran dari segala urusan dunia. Keempat, berkonsentrasikan diri secara total hanya kepada Allah Swt.
Menurut Imam Al Ghazali, puasa khowaul khowas dianggap tidak sempurna apabila di dalam pikiran terbesit tentang urusan dunia yang tidak bersadar pada kepentingan agama.
Puasa pada derajat ketiga ini merupakan puasanya para nabi, wali dan orang-orang khusus di mata Allah Swt.

Dari paparan di atas, kira-kira di mana posisi kita? Tingkatan pertama, kedua atau ketiga? Diri sendirilah yang lebih mengetahuinya.
Secara umum, sangatlah sulit kita berada pada derajat yang ketiga. Namun kita juga tak rela hanya selalu berada pada posisi tingkatan yang pertama. Puasa yang sekedarnya tanpa mengikutsertakan panca indera lainnya untuk berpuasa. Perlu muhasabah diri agar tak terpaku pada puasa awam saja dari tahun ke tahun tanpa ada peningkatan kualitas puasa.
Paling tidak, kita berusaha untuk meraih tingkatan puasa yang kedua yaitu puasa khowas. Puasa yang dilakukan oleh orang-orang saleh. Puasa tak sekedar lapar dan haus tapi semua anggota tubuh ikut berpuasa. Puasa yang mendekati pada derajat takwa.
Kita sebagai muslim tentunya berharap dapat meraih derajat puasa yang paling tinggi, puasanya para nabi, wali dan orang-orang pilihan. Walau nampak sulit, kita berdoa dan berikhtiar agar Allah memberikan kemudahan dan kekuatan untuk dapat mencapai puasa khowasul khowas.
Jadi sampai saat ini, berada pada posisi manakah diri kita dalam melakukan puasa di bulan Ramadhan tahun ini? []

Azwar Richard
19 April 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *