Memetik Ibrah dari Kisah Isra’ Mi’raj

Oleh: Husin Ludiono

1400 tahun silam, saat dunia tidak secanggih dan semegah hari ini, dimana kereta cepat, pesawat jet, pesawat terbang, pesawat apollo atau space x belum ada. Di saat perjalanan darat antar wilayah masih ditempuh dengan berjalan kaki, atau naik hewan tunggangan (kuda, unta, keledai), di saat itulah seorang lelaki bernama Muhammad Saw, memberi tahu kepada orang-orang sekitarnya bahwa ia sudah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Baitul Maqdis (Palestina), kemudian dilanjutkan perjalanan naik ke langit sampai Sidratul Muntaha dalam waktu satu malam saja. Padahal di masa itu perjalanan dari mekkah ke palestina ditempuh dalam kurun waktu 1 bulan, mengingat jarak antara keduanya berkisar 1.462 km, jika anda buka google map, perbandingannya kurang lebih seperti jarak antara Banten-Pulau Lombok.

Pict: Islamidia.com

Maka ketika disampaikan kisah itu dihadapan orang Quraisy, banyak diantara mereka tidak mempercayai apa yang disampaikan Muhammad Saw, malah kebanyakan menertawakannya, menganggap cerita itu fiktif belaka/karangan saja. Beberapa orang yang lemah imannya malah menjadi musyrik kembali, orang musyrik Quraisy semakin tambah yakin bahwa merekalah yang benar. Di tengah situasi seperti itu, Abu Bakar ra, ketika ditanya oleh orang musyrik mekah, “Apakah Anda percaya hal itu?” Abu Bakar menjawabnya “Bahkan lebih dari hal itu aku akan percayai”,berdasar dari sikap yang membenarkan apa yang disampaikan nabi disaat banyak orang yang meragukan, Abu Bakar di kemudian hari dikenal sebagai Ash-Shiddiq (yang paling membenarkan).

Kisah nyata tentang Isra Mi’raj itu diabadikan Alquran dalam surat Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda, (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Riwayat-Riwayat terkait Peristiwa Isra’

Menurut Syeikh Dr. Said Ramadhan Al-Buthi (Ulama asal Damaskus Suriah-wafat tahun 2013) dalam “Fiqh Sirah”, peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi 18 bulan sebelum nabi hijrah ke Yastrib (Madinah). Perjalanan yang menakjubkan itu, dilakukan secara fisik (jasad dan ruh).

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah Adz-Dzahabi al-Fariqi, yang lebih dikenal sebagai Imam Adz-Dzahabi (Ulama yang lahir tahun 1274-wafat tahun 1348, di Damaskus, Suriah) dalam salah satu karyanya “Sirah Nabi”, menuliskan hadits yang berkaitan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dari Abu lsmail At-Tirmidzi berkata; dari lshaq ibn lbrahim ibn Al-‘Ala ibn Adh Dhahhak Az-Zabidi; dari lbnu Zibriq; dari Amr ibn Al-Harits: dari Abdullah ibn Salim, dari Az-Zabidi. dari Muhammad ibn Al-Walid: dari Al-Walid ibn Abdurrahman; dari Jubair ibn Nafir: dari Syaddad ibn Aus. ia berkata: “Kami bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaimanakah Anda di-isra’-kan? Beliau menjawab: “Ketika aku sedang shalat bersama para sahabatku di Mekkah. Jibril mendatangiku dengan membawa binatang tunggangan berwarna putih yang besarnya melebihi himar dan lebih kecil dari baghal’ la berkata kepadaku, ‘Naiklah’. Aku pun ragu-ragu untuk menaikinya hingga Jibril membisikkan di telinganya kemudian membawaku kepadanya. Kami pun menaikinya dan ia melesat secepat kilat sejauh mata memandang.

Ketika kami tiba di negeri yang berkurma, maka ia menurunkan aku, lalu ia berkata kepadaku: “Shalatlah!”, “Aku pun shalat dan setelah selesai shalat kami menaikinya lagi.” Jibril bertanya kepadaku: “Tahukah kamu, di manakah kamu shalat? Sesungguhnya kamu telah shalat di Yatsrib.” Kami pun terbang lagi dengan Buraq sampai tiba di suatu tempat, kemudian kami turun untuk shalat ditempat itu’ Setelah selesai maka Jibril bertanya kepadaku: “Tahukah kamu di manakah kamu shalat?” ‘Allahlah yang lebih mengetahui.” kataku. “Sesungguhnya kamu telah shalat di Madyan, di samping pohon Musa,” katanya. Kemudian kami terbang lagi sampai tiba di suatu tempat lalu turun untuk melakukan shalat lagi. Setelah selesai maka Jibril berkata kepadaku, “Sesungguhnya kamu telah shalat di Baitullahmi (Betlehem) tempat Nabi lsa dilahirkan.” Kemudian kami pergi lagi, sampai kami memasuki sebuah kota dari pintu Al-Yamani. Jibril kemudian mendatangi kiblat masjid dan mengikatkan Buraq di situ. Kami pun masuk masjid dari pintu sebelah barat dan melakukan shalat untuk beberapa saat lamanya. 

Ketika aku merasa haus, Jibril mendatangkan kepadaku dua gelas yang berisi susu dan madu. Aku pun langsung memilih diantara keduanya dan Allah memberiku hidayah untuk memilih madu, Ketika aku meminumnya, kulihat di depanku ada orang tua yang memegang tongkatnya seraya berkata: “Temanmu tetah memilih pilihan yang tepat. Sesungguhnya ia telah mendapat hidayah.”

Setelah itu kami terbang lagi sampai tiba di sebuah lembah di kota tersebut, di situ kami diperlihatkan neraka Jahanam. Syaddad ibn Aus (yang meriwayatkan hadits ini) bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah. bagaimana Anda melihatnya?” beliau menjawab: “Seperti api yang meluap-luap lagi panas.”

Kemudian kami terbang lagi dan melewati karavan (kafilah) dagang Quraisy yang sedang melakukan perjalanan di suatu tempat, waktu itu mereka kehilangan seekor onta yang diambil oleh seseorang. Aku pun mengucapkan salam kepada mereka. salah seorang dari mereka berkata: “ltu adalah suara Muhammad.”

Pagi harinya menjelang shubuh aku mendatangi teman-temanku, lalu Abu Bakar menghampiriku dan bertanya kepadaku: “Di manakah Anda tadi semalam? Sesungguhnya aku telah mencari Anda kemana-mana.” ‘Aku telah pergi ke Baitul Maqdis malam ini,” jawabku. “(Wahai Rasulullah, sesungguhnya perjalanan ke BaituI Maqdis membutuhkan waktu satu bulan. oleh karena itu gambarkanlah kepadaku tentang bentuk masjid tersebut,” kata Abu Bakar.

Beliau berkata: “Aku telah diperlihatkan Baitul Maqdis hingga aku dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Quraisy..”, Mendengar penjelasanku Abu Bakar berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” orang-orang musyrik yang hadir di situ berkata: “Lihatlah lbnu Abi Kabsyah, ia menyangka bahwa ia telah mendatangi Baitul Maqdis pada malam ini…”.  Aku berkata kepada orang-orang Quraisy: “Sesungguhnya aku telah melewati karavan dagang kalian di suatu tempat, di mana mereka sedang kehilangan salah satu onta mereka. Mereka singgah di suatu tempat dan akan mendatangi kalian pada hari tertentu. Mereka akan datang dengan membawa onta yang jangkung dan berwarna hitam beserta dua onta muda yang berwarna hitam pula.” Beliau melanjutkan: “Pada hari yang telah ditentukan orang-orang Quraisy menunggu kedatangan mereka. Menjelang tengah hari, karavan Quraisy benar-benar tiba dengan membawa onta yang telah digambarkan olehku”.

*Sanad riwayat di atas shahih menurut Al-Baihaqy. sedang Adz-Dzahabi mengatakan: “lbnu Zibriq adalah perawi yang masih dipermasalahkan oleh An’Nasa’i.” Abu Hatim menyebutkan. ia adalah perawi yang sudah tua. Wallohu a’lam.  

Riwayat-riwayat terkait Mi’raj

Muhammad bin Ismail yang dikenal sebagai Imam Al-Bukhari (Seorang Ahli Hadits bergelar “Amir al-Mu’minin fi al-hadits” asal Bukhara, Khurasan sekarang Uzbekistan, Asia Tengah, wafat tahun 870 M/256 H) meriwayatkan sebuah hadits:

Telah bercerita kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhriy. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepada kami Ahmad bin Shalih telah bercerita kepada kami ‘Anbasah telah bercerita kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab berkata, Anas bin Malik radhiallahu’anhu berkata bahwa Abu Dzar bercerita bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“(Pada saat aku di Makkah) atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang malaikat Jibril ‘alaihissalam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman lalu dituangnya di dadaku kemudian ditutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia. Tatkala sampai di langit dunia, berkata Jibril ‘alaihissalam kepada malaikat Penjaga langit, “Bukalah”. Berkata Malaikat Penjaga langit, “Siapa Ini?” Jibril ‘alaihissalam menjawab, “Ini Jibril”. Malaikat penjaga langit bertanya lagi, “Apakah kamu bersama orang lain?” Jibril menjawab, “Ya, bersamaku Muhammad”. Penjaga itu bertanya lagi, “Apakah dia diutus sebagai Rasul?”. Jibril menjawab, “Ya, benar, untuk itu bukalah pintu”.

Ketika dibuka dan kami sampai di langit dunia, ada seorang yang sedang duduk, di sebelah kanannya ada sekelompok manusia, begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat kepada sekelompok orang yang disebelah kanannya, dia tertawa dan bila melihat ke kirinya, dia menangis. Lalu dia berkata, “Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih”. Aku bertanya, “Siapakah dia, wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Dialah Adam ‘alaihissalam dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahlu surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahlu neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.

Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua lalu Jibril ‘alaihissalam berkata kepada penjaganya, “Bukalah”. Penjaganya bertanya seperti pada langit pertama tadi. Maka langit pun dibuka”. Berkata Anas radhiallahu’anhu, “Kemudian Nabi Saw menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu beliau Saw  bertemu dengan Adam, Idris, Musa, ‘Isa dan Ibrahim Alaihimussalam. Dan beliau Saw tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut kecuali bahwa beliau Saw bertemu Adam ‘alaihissalam pada langit dunia dan Ibrahim ‘alaihissalam pada langit keenam.

Anas melanjutkan, “Ketika Jibril ‘alaihissalam berjalan bersama Nabi Saw lalu berjumpa dengan Idris. Dia berkata, “Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih”. Aku bertanya, “Siapakah dia?” Jibril menjawab, “Dialah Idris. Lalu aku berjalan melewati Musa, seraya dia berkata, “Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih”. Aku bertanya, “Siapakah dia?” Jibril menjawab, “Dialah Musa. Kemudian aku berjalan melewati ‘Isa ‘alaihissalam, dia berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih “. Aku bertanya:: “Siapakah dia?” Jibril menjawab, “Dialah ‘Isa. Kemudian aku melewati Ibrahim ‘alaihissalam lalu dia berkata, “Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih”. Aku bertanya, “Siapakah dia?” Jibril menjawab, “Dialah Ibrahim”.

Ibnu Syihab berkata; Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu ‘Abbas dan Abu Habbah Al Anshariy keduanya berkata, Nabi Saw  bersabda, “Kemudian aku dimi’rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang disitu aku dapat mendengar suara pena yang menulis”.

Berkata Ibnu Hazm dan Anas bin Malik radhiallahu’anhu berkata; Nabi Saw bersabda, “Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menfardlukan kepadaku lima puluh kali shalat. Maka aku pergi membawa perintah itu, hingga aku berjumpa dengan Musa ‘alaihissalam, lalu dia bertanya, “Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? Aku jawab, “Allah memfardlukan kepada mereka shalat lima puluh kali”. Lalu dia berkata, “Kembalilah kepada Rabb-mu, karena umatmu tidak akan sanggup”. Maka aku kembali lalu Allah mengurangi setengahnya. Lalu aku kembali bertemu Musa dan aku katakan Allah mengurangi setengahnya. Tapi dia berkata, “Kembalilah kepada Rabb-mu karena umatmu tidak akan sanggup”. Lalu aku kembali menemui Allah dan Allah kemudian menguranginya lagi setengahnya. Kembali aku menemui Musa dan dia berkata lagi, “Kembalilah kepada Rabb-mu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup”. Maka aku kembali menemui Allah Ta’ala, lalu Dia berfirman, “Ini lima sebagai pengganti lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku”. Maka aku kembali menemui Musa dan dia kembali berkata, Kembailah kepada Rabb-Mu”. Aku katakan, “Aku malu kepada Rabb-ku.

Lalu Jibril membawaku hingga sampai di Sidratil Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, terlihat kubahnya terbuat dari mutiara dan tanahnya dari misik”. (HR. Bukhari: 3094)/http://hadits.in/bukhari/3094

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Isra’ & Mi’raj, antara lain:

  1. Isra’ dan Mi’raj menjadi bukti & fakta bahwa keberadaan Tuhan sebagai Penguasa Alam Semesta itu nyata adanya, dan bahwa Tuhan telah memilih Muhammad Saw sebagai utusanNya di bumi.
  2. Selain itu Peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu menjadi suatu ujian bagi manusia. Apakah mereka tetap pada kebenaran hasil dugaan mereka, sehingga semakin  tidak percaya atau justru menjadi sebab meningkat kepercayaannya/keimanannya terhadap Allah dan RasulNya.
  3. Isra’ Mi’raj menampilkan fakta bahwa keberadaan malaikat-malaikat itu memang ada, surga & neraka itu ada, para nabi terdahulu itu ada persis sama dengan apa yang diajarkan dalam agama Islam.
  4. Sebetulnya kita tidak usah ikut latah meragukan kebenaran peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu, sebagaimana kita tidak sulit untuk percaya bahwa udara itu ada, padahal ia tidak tampak oleh mata. selain itu lagi pula pertanyaan dan keraguan yang sama tentang Isra’ dan Mi’raj, sudah terwakilkan oleh kaum musyrikin Quraisy. Pada waktu itu alih-alih tersudut ketidak percayaan publik, justru nabi Saw malah dengan percaya diri menampilkan data dan bukti fisik kepada mereka, dimulai nabi menyebutkan ciri-ciri Baitul Maqdis lengkap detail (ditampakkan oleh Allah Swt gambar baitul Maqdis dalam pandangan nabi), lalu bukti fisik lainnya nabi Saw memberi tahu bahwa kafilah dagang dari golongan mereka, saat itu sedang kehilangan untanya di tengah padang pasir, dan akan datang menemui mereka dalam beberapa hari dengan unta yang dijelaskan dalam riwayat di atas, dan itu terjadi persis sama dengan apa yang dijelaskan nabi. Wallohu a’lam.

0Shares

By Admin

One thought on “Memetik Ibrah dari Kisah Isra’ Mi’raj”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *