Oleh: Cicik Setyorini

Suara bening adik ragilku terdengar bergetar di seberang sana. Menyela kesibukanku hari ini.

“Mbak, tak bisakah pulang barang sehari dua hari?”

“Ada apa, Nok? sahutku sambil kuteruskan mencermati konsep rencana kerja yang harus clear siang ini.

“Pekan ini bisa pulang apa tidak, Mbak?” tanya adikku sekali lagi.

Walaupun kali ini aku dengar geram dalam warna suaranya, tapi tidak begitu aku hiraukan. Aku asyik tenggelam dalam rangkaian angka dan huruf di depanku, jari tangan kananku mengempit pena dan mencoretkan beberapa deretan angka di atas kertas yang hampir penuh dengan coretan angka tak beraturan.

“Mbak!” teriak tertahan suara bening adikku.

Teriakannya cukup menyadarkanku bahwa adikku masih menunggu jawaban.

“Heh! Iya aku dengar. Gak usah teriak. Aku lihat dulu agenda bulan ini. Nanti aku kabari,” elakku. Aku tutup sambungan jarak jauh itu.

Sebenarnya tidak perlu membuka agenda, karena aku cukup hafal, bahwa bulan ini berjibun kegiatan harus dikerjakan dan dituntaskan. Pekerjaan yang tidak hanya di dalam kota, melainkan juga beberapa pekerjaan di luar kota. Konsultan perencanaan wilayah, sebuah pekerjaan yang aku asyik menikmatinya. Walaupun hampir tidak ada lagi waktu luang untuk urusan pribadiku. Apalagi berpikir untuk pulang.

Pulang? Untuk apa? Menghirup udara kota kecil itu terlalu menyesakkan nafasku. Mataku menyipit dan dahiku berkerut. Bibir sensual berusapkan gincu merah darah membentuk satu garis tegas rapat.

Nafasku tidak beraturan. Satu kata “Pulang” untukku bagaikan memantikan api di tumpukan jerami mengering.

Tidak! Aku tidak akan pulang! Tekad kubulatkan, tangan ini sibuk meringkas dan memasukkan barang-barang ke dalam tas kerja. Ruitsleting tas kutarik keras dan kucangklong lengan tas punggung abu-abu itu dengan kasar.

“Hai? Hendak ke mana kau, Tyas?” sergah Rio yang dengan cepat memegang lengan kananku hingga menghentikan langkahku.

“Ke lokasi!” sambil kutarik lenganku agar dia lepaskan pegangannya, dan kuteruskan melangkah bergegas keluar kantor.

“Tunggu aku! Kamu tidak bisa sendiri ke sana!” seru Rio kembali.

Rio adalah patner kerjaku sejak awal. Dia dan aku klop dalam satu tim dan selalu dapat menyelesaikan pekerjaan dengan nilai memuaskan di mata atasan dan rekanan.

Tak kupedulikan Rio yang terdengar bersegera meringkas perlengkapannya dan bergegas menyusulku. Kulempar tas punggungku di jok belakang dan kuputar kunci mobil. Injakan kaki pada pedal gas kubatalkan, ketika Rio tampak berlari tepat di depan mobil yang kukendarai.

“Tyas, kamu ini bagaimana! Pekerjaan ini, pekerjaan tim. Kamu dan aku. Tidak bisa kamu memutuskan sendiri apapun yang akan kamu lakukan pada pekerjaan kita!” teguran keras Rio mampir ke telingaku sambil duduk sebelahku setelah dia lemparkan tas punggung dan beberapa tas lapangan lainnya.

“Udah, jalan!” perintahnya.
Kujalankan mobil dalam diam. Kukatupkan erat mulutku hingga beradu gigi gerahamku. Kukemudikan mobil dengan menahan segala emosi yang membumbung karena satu kata “Pulang.”

Entah berapa kali klakson beberapa mobil berteriak memprotes laju mobilku, dan entah berapa kali harus kuinjak rem dengan tiba-tiba … hingga suara di sebelahku kali ini terdengar lebih keras menampar …

“Tyas … stoopp!”

Aku kaget dan reflek kuinjak rem mobil dan tak pelak lagi mobil berhenti mendadak hingga Rio dan aku terpental ke depan. Alhamadulillah tidak sampai membentur kemudi atau dashboard mobil.
“Rio! Kenapa kamu berteriak melulu padaku?” teriakku.

“Lihat di depanmu! Kalau mau nyemplung, jangan ajak aku!” bentak Rio.
Aku terpana, mobil berhenti tepat tiga meter sebelum bibir sungai. Tuhan …

“Aku gantikan kamu mengemudi!” perintah tegas Rio sambil keluar dari mobil. Brak!!! Bunyi suara pintu mobil dibanting.

Aku masih terpaku, terasa lemas kakiku. Hingga Rio mengetuk pintu sisi kemudi. Aku buka sabuk pengaman dan bertukar tempat dengan Rio. Mobil berbelok untuk kembali berjalan di atas jalan beraspal.

Berulangkali kutarik nafas mencoba membuang sesak yang terasa. Kulihat sekilas Rio mencuri pandang ke arahku.

“Kamu itu kenapa, Tyas? Hampir saja kamu kirim aku menemanimu tinggalkan dunia ini,” suara keras Rio memecah keheningan. “Kamu tahu tidak, Tyas? kalau saja tadi tidak kau hentikan mobil, kita berdua sudah terjun ke sungai itu dan tamat!”

Aku membuang muka dengan mengalihkan pandangan. Ya, andai tadi Rio tidak mengagetkanku, mobil ini pasti sudah nyemplung ke sungai yang sedang penuh berisi air berwarna coklat.

“Maaf,” gumamku lirih.

“Tyas, kita sudah lama kerja bareng. Aku minta maaf sebelumnya jika yang aku katakan ini nanti membuatmu tersinggung.” Aku pandang wajah Rio dengan rasa ingin tahu.

“Bagiku kamu perempuan yang sangat tertutup. Tak pernah sedikitpun kamu bercerita tentang hal-hal di luar pekerjaan. Bahkan ketika aku mencoba memancing untuk membicarakan hal-hal lain selain pekerjaan,” Rio melirikku sekilas dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan.

“Dan maaf, jika aku beberapa kali mencuri dengar ketika kamu menerima telepon. Setiap usai menerima telepon dari seseorang yang kamu panggil Nok atau Denok, bisa kupastikan kamu akan uring-uringan tidak jelas,” lanjut Rio, “Hingga akhirnya aku mikir dari caramu bekerja yang seakan esok kiamat itu adalah bentuk pelarianmu. Kamu lari dari apa, Tyas?” Rio berhenti bicara. Aku tak ingin menanggapinya.

“Tak usah kamu jawab pertanyaanku, jika kamu tidak suka, dan kau anggap aku mencampuri urusan pribadimu,” ralat Rio atas tanyanya.

Ya, kali ini kamu lancang, gerutu hatiku. Namun, aku tidak bisa marah pada Rio, tidak pernah bisa. Selama ini dia sangat menghargaiku sebagai perempuan partner kerjanya. Tidak pernah dia usik sedikitpun privasi yang kubangun sedemikian kokoh. Dia benar-benar memahamiku bahwa aku dan dia adalah tim, tidak lebih dari itu.

“Aku tidak bisa pulang,” jawabku dalam lirih, “Aku tidak mau pulang, Rio. Tidak bisa!” suaraku tiba-tiba meninggi. Kembali bibirku terkatup rapat membentuk segaris.

“Kenapa? Aneh kamu, Tyas. Sejauh apapun burung terbang, dia akan kembali ke sarangnya,” protes Rio mendengarku bergeming.

Berulang kali aku ambil nafas untuk mengurangi sesak dada ini namun tidak berhasil. Rio pun diam dan tampak serius mengemudikan mobil yang kami tumpangi.

“Bukan tidak ada rindu, bukan. Bahkan rindu itu menumpuk hingga tercecer di seluruh sudut rumah pun kampungku,” gumamku, “Tapi, bagaimana aku mampu injakkan kakiku kembali di rumah itu? Jika aku harus bertemu dengan orang yang telah mengambil seluruh hatiku namun tidak menjadi milikku?”

Hah! Aku akhirnya menyerah untuk tetap tegar dengan benteng yang kokoh menutupi seluruh jiwaku.

Aku tatap Rio, “Kamu … adakah hati yang telah memenuhi hatimu? Hingga kamu bertekad untuk memilikinya?”

Rio melihatku sekilas, dan kembali memandang ke depan. Aku masih menatapnya mencari jawaban pada wajahnya.

“Jika kamu telah memiliki hatinya hingga memenuhi dadamu, namun dia menjadi milik orang lain, dan mereka akan selalu kamu temui setiap kamu pulang. Apa yang kamu rasakan Rio? Apa yang akan kamu lakukan?” emosi menguasaiku.
Aku hela nafas, kualihkan mataku mencoba menikmati hamparan sawah yang menguning.

“Aku dan hatiku telah kuberikan pada seseorang. Seseorang yang menggenggamnya erat dan berjanji setia. Hari itu, dia memberitahuku bahwa akan menemui Bapak dan memintaku menjadi miliknya seutuhnya. Tak ada kata-kata yang dapat keluar dari bibirku kala itu, larut oleh rasa bahagia yang membuncah.”

Kuperbaiki posisi dudukku yang terasa serba salah, kemudian kulanjutkan kisah terpendam itu, “Hari yang dia janjikan tiba. Dia datang, namun pertemuan mereka di mana dan apa yang mereka bicarakan tak ada seorang pun yang tahu dan tak ada yang berani mencari tahu. Jika bapak diam dan tidak banyak bicara, itu pertanda yang tidak baik.”

Bagus? Oh, iya Bagus nama dia. Aku mencoba menghubungi Bagus.. Namun, tak ada lagi nada sambung untukku. Akhirnya aku hanya bisa menunggunya tanpa kepastian,” hampa rasaku.

Aku pandang Rio, “Hingga suatu malam, Bapak memanggilku. Sepekan setelah Bagus bertemu Bapak. Beliau menyampaikan padaku bahwa esok hari, keluarga Bagus akan datang melamar secara resmi untuk ‘kakakku,’ duniaku gelap seketika. Kenapa kakakku?

Aku terhenti bercerita, menahan tumpahan air mata yang sudah tidak ada artinya. Rio terdengar mendesis, entah apa yang dia desiskan.

“Malam itu menjadi lebih pekat bagiku. Aku hanya diam dan hanya bisa mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut Bapak. Menyakitkan, semua kalimat Bapak terasa sangat menyakitiku. Namun, tidak ada keberanian membantah atau menentang apa yang telah diputuskan Bapak.”

“Malam itu, di dalam kamar, kutumpahkan tangis dan amarah yang aku tak tahu harus kuberikan pada siapa. Tak mungkin aku marah pada kakakku. Kakak semata wayang. Seorang kakak yang lembut dan penyayang. Aku sangat menyayanginya. Apalagi setelah dokter memberikan vonis kanker pada kakakku. Kanker stadium 3. Alasan inilah yang membuat Bapak memintaku untuk mengalah demi kebahagiaan kakakku. Hanya sebentar, kata Bapak. Ya, kata dokter usia kakakku tidak akan panjang,” hela nafasku masih terasa berat.

“Terjadilah apa yang harus terjadi. Bagiku semuanya telah berakhir. Aku kemas rapi semua kisahku dengan Bagus. Aku lari, Rio. Iya! aku melarikan diriku dan hatinya yang masih bisa kumiliki. Tidak salah bukan jika aku tidak bisa pulang!?” jeritku tertahan.

“Semudah itu dia beralih?” gumam Rio.

“Bagus bukan orang asing dalam keluargaku. Dia teman akrab kakakku ketika di SMA. Aku dan dia sepakat untuk menyembunyikan bentuk hubungan kami, hingga saat untuk menyatakan tiba.” Ada kelegaan walau setitik setelah kuceritakan hampir semuanya kepada Rio.

Gawaiku berdering. Panggilan dari Denok, “Mbak, Jangan tutup telponk! Kutunggu jawabanmu sekarang!” galaknya muncul.
“Aku belum bisa pulang pekan ini, Nok. Pekan depanpun aku tidak tahu.”

“Mbak, sungguh aku heran denganmu. Sejak mbak Nia menikah dengan mas Bagus, mbak Tyas gak pernah pulang walau sekedar menengok ibu dan bapak. Lebaran pun tidak balik, bersembunyi dalam alasan pandemi. Mbak Tyas berubah banget. Tapi aku gak peduli. Terserah kamu, Mbak, Kali ini mbak Nia yang memintamu pulang. Mbak Nia ingin ditungguin saat melahirkan. Lusa mbak Nia operasi Caesar. Udah ya, Mbak. Jawabanmu adalah kepulanganmu, demi mbak Nia!” tutup Denok.

Aku terhenyak. Melahirkan … ya Allah … aku tidak mengingatnya. Ya … aku pernah berjanji akan menemaninya jika dia melahirkan. Janji yang keluar tanpa kusadari, sekedar membuat hatinya tenang.

Air mataku meleleh pelan. Aku akan punya keponakan buah cinta kekasihku dengan kakakku. Mampukah aku pulang? Bertemu dan berlama dengan mereka berdua?

Rio melambatkan laju mobil. “Kenapa, Tyas? Perlu kualihkan arah kendaraan kita?”

“Tidak,” jawabku lirih.

Gawaiku berdering kembali. Kali ini nama Mbak Nia tampak di layar. Aku atur nafasku

“Ya, Mbak …,” sapaku mendahului.

“Tyas, operasiku diajukan esok usai subuh. Aku ingin kamu menemaniku dan menjadi orang pertama yang mendekap anakku setelah mas Bagus. Pulang ya, Tyas,” terdengar suara lemah Mbak Nia namun masih ada semangat dalam warna suaranya.

Aku tergugu. Air mata tak bisa kutahan lagi, “Insyaa Allah, Mbak.”

“Makasih, Tyas. Hati-hati di jalan ya.”

Gawai kugenggam erat. Air mata ini tumpah ruah, entah untuk apa.. Pulang? Bertemu dia? Kuatkah aku? Aku tutup wajahku dan kembali kupuaskan tangisku, sekedar tepiskan bimbang yang menyakitkan.

Rio menghentikan kendaraan. “Kuantar kamu pulang, Tyas,” tegas suaranya. Aku tidak mau melanjutkan perjalanan ini ke lokasi pekerjaan kita.” Kulihat Rio mengangkat gawainya dan berbicara dengan Pak Irwan, meminta ijin menunda rencana survey.

“Kita istirahat di sini dulu. Ada masjid besar di depan sana. Ayok turun. Puaskan segala gundahmu di sana. Aku temani.”
Aku ambil air wudlu untuk sholat jamak dhuhur-asar. Entah berapa lama aku bersimpuh hingga basah kain mukenaku. Kuatkan aku Tuhan, demi kakakku. Suara panggilan Rio lewat gawai menyadarkanku. Kutemui Rio di teras masjid.

“Perjalanan ke rumahku masih jauh, Rio. Sampai di sana mungkin tengah malam. Apa kamu tidak capek?”

“Insyaa Allah tidak. Nanti kita jalan santai saja. Berhenti jika aku capek,” jawab Rio mantap menenangkan.

“Baiklah, jangan paksakan ya,” harapku.

Kabut tipis mulali turun. Kami kembali meneruskan perjalanan dengan berbelok arah. Sepanjang perjalanan tidak terlalu banyak yang kami bicarakan. Rio memutar lagu-lagu lembut dari gawainya yang terhubung dengan audio mobil. Aku pejamkan mataku yang sembab.

Menguatkan hati untuk kembali bertemu dengannya, sungguh tidaklah mudah.
Gawaiku bergetar ketika malam telah menyambut kepulanganku. Setengah jam lagi aku akan sampai.

“Ya, Nok. Aku otw pulang,” sahutku tanpa menunggu Denok membuka pembicaraan.
“Alhamdulillah. Mbak, langsung ke RSIA Aminah ya. Mbak Nia semakin lemah dan diputuskan untuk segera dioperasi. Ini sudah hampir satu jam operasinya,” gagap adikku menjelaskan. Suaranya mengemu tangisan.

“Ya Allah,” serasa lemas seluruh ragaku,

“Rio,perempatan depan itu belok ke kiri ya. Kita langsung ke rumah sakit,”

“Perubahan keputusan yang sangat cepat, Tyas. Kenapa?”

“Nia, kakakku, bersikeras untuk memberikan keturunan buat Bagus. Walaupun hal itu akan membuat kakakku dan Bagus harus memilih, keselamatan ibunya atau anaknya. Sejak dinyatakan hamil, kakakku berpesan pada semuanya, bahwa kami harus menyelamatkan anaknya. Bukan dia,” jawabku.

Tak berapa lama sampailah di RSIA Amanah. Bergegas aku susuri koridor rumah sakit, menuju ruang operasi. Rio pun bergegas mengikutiku. Denok berlari memelukku, ketika aku sampai di ruang tunggu operasi. Aku mencoba menguatkan diri.

“Di mana mbak Nia?” tanyaku lirih.

Denok hanya mampu memberi isyarat tangan menunjukkan di mana aku bisa bertemu kakakku. Aku langkahkan kakiku menuju ruang itu. Kubuka pintu perlahan, menyeruak bau harum melati lembut masuk ke lubang hidungku. Tampak punggung kekar tertelungkup memeluk dua tubuh. Ada isak yang menggoncang bahunya. Ada lirih kata permohonan maaf kudengar. Pelan aku mendekatinya.

“Mbak Nia … mbak… ini aku pulang, mbak,” desisku penuh galau memandang tubuh diam itu. Punggung kekar yang memeluknya terangkat dan menoleh lemah kepadaku.

“Nia sudah pergi, Tyas,” suara yang menggetarkan hatiku itu kudengar lagi. Tuhan…

Aku bergerak mendekati tubuh yang terbaring diam itu. Tidak! Aku pulang untuk menemanimu, Mbak. Bukan untuk menemuimu dalam diam begini.

Kuguncang pelan tubuhnya. Kupandangi wajahnya yang ayu mengulas senyum di bibir membiru. Aku peluk dengan lemas tubuh mbak Nia. Aku ciumi pipi dan keningnya. Maafkan aku, mbak. Maafkan aku. Kurebahkan kepalaku di dadanya, harum bau melati itu menyeruak lembut dari tubuh pucatnya. Kutumpahkan tangisku di dadanya yang dingin.

“Tyas …” Suara Bagus menyadarkanku. Kuangkat lemah kepalaku. Tampak dia berdiri di sampingku sambil membopong tubuh mungil yang tampak tidur dengan tenang dalam balutan lembut selimut biru.

Perlahan dia sodorkan tubuh mungil itu padaku, “Nia ingin kau mendekapnya dan Nia minta kau mau ikut menjaganya.”

Perlahan tangan kekar Bagus mengulurkan bayi mungil itu. Aku berdiri perlahan, tepat dihadapannya.

Kupandangi tubuh mungil itu. Tanganku perlahan terulur, menerimanya. Bagus meletakkan lembut anaknya dalam pelukanku. Sesaat tatapan mata kami beradu. Namun, segera aku kembali menatap tubuh mungil cantik yang lelap itu.

Kembali air mata ini meleleh. Aku sentuh hidung mungilnya dengan ujung jariku. Kamu sungguh cantik, nak. Pandangan mataku tak lepas dari wajah mungil itu.
Bagus berlalu dari hadapanku dan kembali memeluk tubuh dingin kakakku. “Nia, anak kita sudah ada dalam dekapan Tyas. Terima kasih atas seluruh pengorbananmu untukku, Nia. Aku menyayangimu. Tuhan, aku menyayanginya,” repih Bagus. Bahu itu kembali berguncang pelan.

Tuhanku, duka ini terlalu perih untukku. Kupandangi wajah mungil itu dan semakin erat kupeluk tubuh mungilnya. Deras air mata ini mengalir basahi malam.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *