Mager dan Gabut
MaryatiArifudin, 11 Maret 2021

Dua istilah yang membuatku harus belajar lagi dengan istilah judul di atas. Akibat zaman telah berkembang atau berubah, jadi istilah anak muda tak pernah ku kenal lagi.
Mungkin inilah ciri anak muda zaman kekinian yang mau instan atau mudah untuk mencapai tujuan. Cara dan gaya bicaranya saja, banyak memunculkan pertanyaan. Semua yang disampaikannya mau disingkat-singkat, agar tidak terjadi pemborosan huruf.
Percakapan masa lalu, aku diajari berlaku sabar kelas tinggi. Jikalau, bukan memperbaiki dan membimbing anak tersebut mungkin udah kuambilkan air satu gayung tuk menyiram muka bocah itu.
Ku coba mengulang diskusi pagi itu. “Dik, ayo bangun segera mandi karena pembelajaran daring segera dimulai”, kataku dengan suara lembut. Si anak berlagak menguji emosiku. Dia ku bangunkan berkali-kali dengan banyak alasan. Hatiku masih berpikir positif, agar kelak anak ini mau berubah.
Setiap hari kami bangunkan, keponakan ini. Tak ada kesadaran diri untuk memperbaiki diri. Setiap diminta bangun pagi, alasannya selalu mager dan mager. Istilah mager atau malas gerak selalu dijadikan jurus untuk malas bangun pagi.
Jika keponakan itu, menjadi siswi di SMK ku pastilah yang akan ku jadikan bidikan pertama tuk bangun pagi. Ku selalu mengitari asrama saat sebelum adzan subuh berkumandang. Entah asrama putra ataupun asrama putri, aku selalu berusaha membangunkan pagi. Tujuanku, hanya satu yaitu mengajak peserta didikku taat pada Illahi Rabbi.
Saat menjalankan tugasku cukup ku gunakan mukena putihku sambil membawa gayung, sebelum adzan berkumandang. Peserta didikku telah tahu jurus-jurusku. Jurus pertama, jika terlambat bangun pagi cukup ku percikkan air surga di tempat tidurnya. Jurus kedua, jika masih terlambat lagi bangunnya cukupku basuh muka peserta didik dengan air salju. Jika belum berubah lagi, pasti ku panggil ke ruangan tuk sepakat membangun komitmen agar mau sholat subuh berjamaah di masjid.
Jurus ketiga ku bangun kesepakatan baru dengan peserta didik agar tetap fokus belajar mendirikan sholat tepat pada waktunya. Sistem boerding school cukup memudahkan, kami untuk membentuk sikap dan fisik yang prima. Dalam sistem ini, tidak ada alasan mager, gabut, dll. Alasan-alasan itu, hanya dipakai oleh orang-orang yang tidak mau move on dengan total.
Gabut istilah anak sekarang dengan sebutan gaji buta. Kemauan anak itu jika ditanya, mereka akan menjawab tidak mau melakukan aktivitas apapun dan dia bingung mau melakukan aktivitas apa. Gaya bahasa yang singkat padat dan maknanya menyekat diurat leher bagi pendengarnya.
Istilah defenisi kata-kata generasi gen Z yang maunya instan dalam berucap, tanpa memikirkan resiko yang ia ucap. Generasi z yang harus diarahkan sejak kecil, agar tumbuh sempurna kedewasaan diri. Dampingi dia, dekatkan Al Quran yang mulia, agar masuk dalam akal dan pikirannya. Sehingga apa yang dipikirkan dan diamalkan bersumber dari fitrah yang suci. Akhirnya, akan terlahir generasi yang tahu sikap dan perbuatan terpuji.
Generasi terpuji karena mewarisi sikap para nabi yang suci. Yang selalu mengkaji Al Quran setiap waktu, agar selalu mengharap karunia dan rahmad dari Sang Illahi Robbi. Sehingga hidup ini mampu menundukkan hawa nafsu menuju nafsu muthmainah.
Hawa nafsu yang tidak pernah tersiram oleh isi dan muatan ayat suci Al Qur’an, akan muncul nafsu amarah dalam jiwa dan raga. Hawa nafsu yang selalu menyuruh pada keburukan dan kedzaliman. Surat Yusuf, ayat 53 artinya : Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Hanya bermunajat pada-Nya, mari bersama-sama memohon keluarga kita diberi kekuatan untuk selalu mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an sampai penghujung waktu. Mudah-mudahan generasi yang akan datang mau dan mampu membebaskan diri dari sifat mager dan gabut.
Bersama Al Qur’an kita mampu mewujudkan generasi yang kita impikan. Dengan mewarnai hidup dengan Al Qur’an, maka generasi gen Z akan mudah menundukkan hawa nafsu.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *