(sebuah Jawaban dari berbagai Pertanyaan tentang Lupa)

Oleh: Hermi Pasmawati

Lupa merupakan sifat alamiah manusia, yang dianugrahkan Tuhan YME kepada kita, tak terbayangkan seandainya otak kita mengingat semua informasi yang pernah melintas dipikiran kita. Sepertinya kita tidak akan bisa tidur nyenyak. Lantas Apakah kita harus bersyukur dengan sifat lupa ini? Benarkah orang pelupa itu indikasi orang yang pintar atau sebaliknya karena daya ingat yang rendah?, benarkah orang yang pelupa itu sudah termasuk gejala stres atau gejala keabnormalan secara psikologi? Baiklah kita akan mencoba mengupas lebih jauh tentang lupa dari berbagai dimensi. Pertama lupa dalam perspektif Psikologi; bahwa lupa merupakan ketidakmampuan mengingat informasi yang pernah dipelajari atau dialami, tetapi bukan hilangnya informasi atau pengetahuan dari kognitif seseorang, Menurut (Gulo 1982, Reber 1988, Muhibinsyah 2008). Kedua, dalam perspektif Islam lupa dibahas dalam beberapa surat, salah satunya ada dalam surat Mujadallah:11, Al-A’raf:146, At-Taubah: 67, Al_Kahfi:28, dari beberapa kandungan surat ini, dalam Islam Lupa yang dimaknai sebagai sifat lalai, yaitu lalai dalam mengingat Allah SWT. Namun keduanya memiliki relevansi, sama-sama berkorelasi dengan ingatan.

            Selanjutnya benarkah orang yang pelupa itu adalah orang yang cerdas, atau justru sebaliknya. Berdasarkan temuan Profesor Blake Richards dari Universitas Of Toronto, Canada sebagai salah satu TIM dalam Riset yang dipublikasikan pada journal Neorun Edisi 94 tahun 2017 yang menyimpulkan bahwa menjadi pelupa sebenarnya bisa menjadi manfaat bagi kecerdasan Anda. Kita tidak bisa membayangkan seandanya semua yang pernah kita alami semuanya dapat kita ingat secara detail. Jika ingatan yang positif tentu akan berkontribusi dalam memunculkan perasan bahagia, namun jika yang kita ingat justru hal-hal yang Negatif secara detail, kita juga tidak dapat membayangkan begitu banyak rasa sedih yang harus kita rasakan setiap harinya. Beberapa laman blog artikel populer juga banyak yang membahas tentang asumsi bahwa, orang pelupa merupakan indikasi sebagai orang yang cerdas; salah satu artikel yang diterbitkan di blog compas.com liputan6.com, dalam artikel tersebut yang dimaksud sifat lupa sebagai indikasi orang yang cerdas karena otak sudah bekerja dengaan sangat efektif, melupakan hal-hal yang dianggap tidak terlalu urgent, dan lebih banyak memfungsikannya pada informasi yang baru, dan ini terjadi secara alamiah, perilaku lupa yang dimaksud diantaranya, lupa meletakan barang-barang seperti handphone, kunci, lupa setting tempat dan waktu bertemu dengan sesorang, dan perilaku ini masih wajar dan tidak ada hubungannya dengan demensia atau Azaimer.

            Benarkah asumsi bahwa lupa terjadi karena seseorang stres, jawabannya ya, karena dalam kondisi stres atau sibuk, perhatian sesorang atau fokus seseoranga akan lebih tinggi pada hal tertentu yaang menjadi pusat kesibukannya, pada saat kondisi seperti ini terjadi maka tubuh akan menghasilkan hormon yangmemicu ketegangan pada tubuh, dalam situasi seperti ini tentu akan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir atau mengingat seseorang. Perilaku lupa yang timbul karena stres ini biasanya, lupa dengan hal-hal yang sifatnya masih baru ataupun yang lama, yang detail maupun sederhana, lupa tanggall kelahiran sendiri, lupa nama panjang salah satu anak. Sebagaimana dilansir dari artikel health.com dalam situasi stres atau sibuk, otak seseorang akan bekerja keras untuk melakukkan dan menyelesaikan hal-hal tersebut, sehingga akan menghambat akses ke memory lainnya ,yang memicu terjadinya lupa.

            Dikaji dari berbagai dimensi lupa juga dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti usia, tidak dapat dipungkiri semakin bertambah usia seseorang akan menjadi turun juga fungsi dari organ tubuh termasuk fungsi dari daya ingat yang berkaitan dengan Otak, namun ini tidak selalu menjadi tolak ukur, banyak orang yang justru secara usia jauh lebih muda tapi tingkat pelupanya lebih tinggi, hal ini bisa jadi dipicu oleh faktor stres, kurang tidur atau kurang istirahat, pola makan, gangguan kecemasan serta berbagai keabnormalan secara psikologi misalnya Azaimer atau Amnesia. Namun dalam kondisi yang normal kerja otak ibarat pisau semakin digunakan akan semakin tajam, sel-sel syarafnya terhubung sehingga akan meningkatkan daya ingat seseorang.

Disisi lain ada beberapa kondisi bahwa sifat lupa memang menjadi salah satu ciri khas dari tipe kecerdasaran sesorang sebagaimana dijelaskan dalam kajian STIFIn Tes temuan Farid Poniman, salah satu tipe kecerdasan yang memuat sifat pelupa adalah tipe intuiting. Jika kita hubungkan dengan pembahasan sebelumnya bahwa lupa terjadi karena ketidakmampuan otak bekerja dalam mengambil kembali informasi yang telah tersimpan, dipicu atau disebabkan bercampurnya berbagai informasi yang baru, atu karena sudah terlalu lama tidak digunakan. Hal ini juga sangat relevan dengan tipe kecerdasan Intuiting. Tipe kecerdasan yang memiliki ciri khas rasa ingin tahu yang tinggi menjadikan tipe individu yang memiliki kecerdasan ini memasukan lebih banyak informasi baru pada memory, sehingga menyebabkan kesulitan dalam mengambil kembali memori yang pernah terlintas di otak. Bisa jadi anda yang pelupa memiliki kecerdasan Tipe Intuiting.

Dapat disimpulkan bahwa dalam menyikapi sifat lupa ini kita harus mengidentifikasinya perilaku lupa yang sering kita alami. Jika itu masih sebatas hal-hal yang sederhana, ya sudahlah syukuri saja kembali sebagai penghibur diri telaah hasil reset Blake Ricards bahwa pelupa mengindikasikan bahwa kita adalah orang yang cerdas, namun perlu diingat lupa yang dimaksud dalam penelitian tersebut adalah lupa pada hal-hal yang sederhana seperti lupa meletakan kunci, Handphone, Kacamata, asal bukan lupa mengenali nominal uang bergambar presiden pertama Indonesia. Jika ini sudah terjadi maka perlu tentunya memeriksakan fungsi syaraf kita. Satu hal lagi kata lupa berbeda jauh dengan melupakan. Lupa artinya tidak sengaja terjadi, sedangkan melupakan itu disengaja dan direncanakan, misalnya melupakan mantan, meskipun pada kenyatannay tidak mampu untuk dilupakan.

Referensi:

Muhibbin Syah ,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,( Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2008).

https://www.sehatq.com/artikel/lupa-ingatan-belum-tentu-karena-alzheimer.
https://www.liputan6.com/global/read/3655875/riset-pelupa-tanda-bahwa-anda-orang-yang-pintar

https://stifinfamily.com/hasil-tes-stifin-intuiting-introvert/https://health.kompas.com/read/2016/05/12/105338223/Ini.Penyebab.Kita.Jadi.Pelupa

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *