Oleh: Cicik Setyorini

Pemakaman Nia telah usai --- gundukan tanah itu masih basah --- sekian banyak hati pun masih berduka --- hanya tangisan sang buah hati yang mampu membuat lupa akan duka.

Pagi menghembuskan angin dingin menusuk tulang. Baru saja kubaringkan bayi mungil cantik di atas pembaringan. Kusandingkan dua guling mungil, semungil si empunya, sekedar memastikan kehangatan untuknya. Sebuah aktifitas yang tiba-tiba harus kujalani. Tanpa ada persiapan yang kumiliki. Bersama ibu dan seorang perawat yang hadir kala ritual mandi pagi dan sore, aku belajar membuang kikuk merawat si mungil cantik ini.

Kembali aku pandangi wajah polosnya yang nampak semakin polos kala terlelap. Ah, sejak pertama memandangnya aku telah jatuh hati padanya. Terlupa semua lara atas sejarah kehadirannya. Terlupa? Tepatnya tak sempat lagi untuk mengingat masa itu. Si mungil cantik menyita seluruh perhatian dan waktuku.

Tiba-tiba si mungil cantikku terbangun dan menangis pelan. Reflek aku tepuk halus pantatnya yang terbungkus kain bedong. Mulutku mendesis menenangkannya. Pandangan mataku berkeliling mencari botol mungil yang biasanya telah kusiapkan di sisi si mungil cantik. Tak ada kutemukan. Duh, aku terlupa menyiapkannya. Sambil masih menepuk halus pantatnya, aku beringsut hendak ke meja tempat perlengkapan minuman si mungil tersedia. Ada setitik kepanikan mendengar tangisannya yang semakin keras.

“Ini susunya, Tyas,” bisik pelan sebuah suara di belakangku.

Suara Bagus. Spontan aku membalikkan badan yang setengah berbaring menenangkan tangisan si mungil cantik itu. Kuterima begitu saja botol mungil yang diulurkannya. Kusentuhkan perlahan dot botol mungil itu ke bibir si mungil cantik. Sigap bibir mungilnya mengulum dot itu dan dengan lahap menyedot susunya. Kupegangi botol mungilnya, kupandangi lagi wajahnya. Kuelus rambut di keningnya. Kudendangkan pelan lagu Nina Bobok dan dia kembali terlelap.

 Kulepas perlahan botol mungil dari mulut mungil si mungil cantik. Kembali aku beringsut pelan menjauh. Aku hendak mandi. Ya, sejak mencoba belajar dan menikmati bersibuk dengannya, maka seluruh jadualku berubah. Mandi pagi kulakukan setelah dia lelap, pun hampir hilang nafsu makanku. Entah karena lelah yang tidak kurasa, entah karena tak kusisakan waktu untuk diriku.

Sebuah deheman mengagetkanku. Kuputar balik tubuhku yang masih setengah duduk di sisi si mungil cantik. Ya Tuhan … Bagus masih di kamar ini. Duduk di kursi kamar sebelah meja rias. Kehadirannya di kamar ini bukan hal yang biasa. Sejak mbak Nia dimakamkan, Bagus tidak pernah memasuki kamar ini. Sampai dengan hari ini dia tidak pernah menyentuh si mungil cantik, anaknya. Bahkan selalu menghilang entah kemana, muncul kembali ketika malam telah larut, tanpa menyapa kemudian menutup diri di kamar tamu.

“Makasih sudah dibantu bikinin susunya,” ucapku datar.

Kulihat Bagus hanya menatap kosong tubuh mungil yang terlelap. Perlahan dia berdiri dan mendekati anaknya. Beringsut pelan dan mengulurkan tangannya menyentuh kening dan pipi anaknya. Sentuhan pertama sejak kelahirannya. Seulas senyum tipis tampak menghias bibir hitam sang ayah. Kabut menyelimuti bola mata elang itu.

“Kemana saja kamu?” tanyaku pelan namun sengit.

Aku betulkan posisi dudukku di pinggir pembaringan si mungil cantik yang sedang terlelap. Sekilas kutatap lagi sang ayah, sesaat … Aku masih tak akan sanggup untuk berlama menatapnya. Kudengar helaan nafas serasa hendak singkirkan beban.

Usai pemakaman Nia, ketika sore menjelang , ketika si mungil menangis keras di usia yang belum genap sehari, Ayahnya menghilang. Pergi, entah kemana membuat seisi rumah pun kalut. Masing-masing sibuk mencari keberadaan sang ayah. Hingga hari ketiga ini pun Bagus tak pernah berlama di rumah. Pulang hanya untuk tidur dan menghilang kembali ketika semua mulai sibuk dengan si mungil cantik. Pergi begitu saja tanpa pamit.

Aku mencoba menguatkan hati menatapnya. Emosi atas kepergiannya yang tanpa pamit dan tanpa pesan mengurangi ketaksanggupanku memandangnya. Kulihat wajah yang lelah penuh gurat duka. Baju yang leseh dan tidak rapi membungkus tubuh kekarnya. Sungguh bayang duka memenuhi aura tubuh tegap itu.

“Kamu keterlaluan! Dia butuh ibunya namun tiada. Dia butuh ayahnya sekedar menyentuhnya, pun tidak dia dapatkan!” keluh amarahku tertahan.

Aku beranjak menjauh dari tubuh mungil yang semakin lelap dalam belaian sang ayah yang telah lama dinantinya.

Kubuka tirai jendela perlahan dan kukaitkan tali pengikatnya. Sinar matahari pagi membersit menerobos masuk. Hangatkan tubuh singkirkan dingin. Aku buang pandanganku jauh ke pekarangan samping rumah tua ini.

“Anakmu butuh nama dan aqiqah untuknya. Dia butuh ayahnya,” keluhku, “Kuharap kamu tidak pergi menghilang lagi. Aku tidak bisa berlama menjaganya.”

Suaraku tercekat galau. Mataku nanar menahan rasa. Kudengar langkah perlahan mendekatiku. Langkah itu berhenti, berjarak dari tempatku berdiri.

“Tyas, aku pergi karena aku tak tahu aku harus bagaimana tanpa Nia. Aku tak tahu harus bagaimana dengan anakku, dan setiap kulihat kamu, aku semakin tak tahu lagi aku harus bagaimana untuk menahan kepergianmu dari sisiku … lagi,” serak suara tanpa asa dari pria bertubuh tegap itu.

Aku bertahan untuk tidak membalikkan tubuhku. Aku tak ingin dia melihat galau di bola mataku, apalagi kabut perlahan membuat buram pandanganku

“Yang aku tahu, aku telah membuatmu tidak pernah pulang. Akulah yang memutuskan semua komunikasi kita, karena aku pun tak akan sanggup bertemu denganmu. Mendengar suaramu saja aku tak akan kuat. Aku tidak mungkin memilihmu. Demi Allah, cukup Dia yang tahu segalanya tentangku,” lanjut kelunya terdengar di telingaku. “Terima kasih, atas penjagaanmu selama ini pada anakku. Esok hari masa cutimu akan habis. Siap tidak siap, aku akan menjaga anakku. Pergilah. Lanjutkan langkah hidupmu.”

Aku balikkan badanku, kupicingkan mataku menatap wajah yang pernah memenuhi seluruh ruang rinduku. Rapuh nian sekarang laki-laki di hadapanku ini.

“Kamu egois. Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku. Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk mengerti apa maumu padaku. Tak usah kamu usir aku! Esok aku pasti pergi!” suaraku berdesis geram.

Aku bergegas tinggalkan kamar itu. Namun suara tangis si mungil tiba-tiba melengking menahan langkah kakiku. Aku tertegun sesaat, berkecamuk kata hatiku antara menenangkan si mungil cantikku atau teruskan langkah meninggalkan kamar itu, toh sudah ada sang ayah.

Akhirnya aku kuatkan diriku untuk meninggalkan kamar itu. Aku menuju kamarku. Kukemasi baju yang tidak seberapa banyak ke dalam tas punggung. Suara tangisan si mungil cantik masih nyaring dan bertambah nyaring menggedor gendang telingku. Aku terduduk diam hentikan kemasan. Galau dan rasa egoisku saling memberontak.

Suara pintu kamar terdengar ada yang mengetuk. Aku berjalan lemas untuk membuka pintu. Ibu berdiri di hadapanku dengan wajah penuh harap.

“Nduk Tyas, tolong tenangkan ponakanmu ya. Bagas dan Ibu sudah berusaha, tapi ponakanmu tetap masih menangis begitu. Kau dengar bukan kalua tangisnya tidak mereda, tapi semakin keras. Tolong ya, Nduk,” suara lembut ibu membujukku.

Aku tak mampu menjawabnya, hanya mampu anggukkan kepala dan kulangkahkan kaki menuju kamar itu lagi.

Bagas terlihat panik dan hanya bisa menepuk dan mendesis berusaha menenangkan anaknya. Botol mungil yang berusaha dia berikan tidak diterima oleh anaknya. Bahkan lengkingan tangis sebagai jawabannya.

Aku dekati si mungil cantikku yang tampak payah dengan tangisannya. Aku angkat dan kugendong dalam pelukanku, seketika mereda lengkingan tangisnya, hinngga tersisa sesenggukan yang mengiris hati.

“Cup … cup … sayang … jangan nangis lama-lama ya … nanti cantiknya hilang … kuayun pelan dia dalam dekapanku … kucium keningnya yang lembut harum. Sejenak dia kembali tenang.

Tanpa kusadari, Bagas telah berdiri di sisiku. Dia berikan botol susu si mungil padaku.

“Tyas, tolong jangan tinggalkan dia,” suara galau dan penuh putus asa itu menghentak dadaku.

Aku bertahan untuk tidak menampakkan apapun reaksiku. Kuterima uluran botolnya dan kesentuhkan ke mulut si mungil yang semakin tenang. Aku gendong dan bawa si mungil menuju kamarku. Kubaringkan perlahan tubuh mungilnya yang terlihat mulai memejamkan mata kembali. Aku baringkan pula tubuhku yang tiba-tiba merasa lelah sambil kutepuk pantatnya dan kudesiskan kalimat-kalimat sayangku padanya.

Senyum si mungil cantikku terlukis menghantarkan tidur lelapnya.

….

*Ohh … di kedalaman tidurmu

Kau tersenyum lugu

Mendekap damai dan tak berdosa

Kubelai gelombang rambutmu

Menitipkan kasih sayang

Semoga berlimpah ruah bahagia

Tidurlah tidur bidadari kecilku

Mimpikan dirimu dalam istana

Menari penuh suka

….

Kubelai rambutnya yang hitam bergelombang, hingga terkulai lemas tanganku … menyusulnya dalam lelap … Aku akan menemanimu bidadari kecilku tuk menari bersama penuh suka*liriklaguklatidurlahtidur

0Shares

By Admin

One thought on “Lengking Tangisnya”
  1. Cerita yang sangat menginspirasi sekali. Terhanyut dan terbawa arus emosi dalan jiwa. merangkul setiap dekapan pilu. meronta dan tenggelam dengan ucapan Bagas terhadap cinta Tyas yang tak pernah terbalaskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *