Klotok Paman Imi
Oleh : Yani Lestari

Meski diselimuti kabut tipis dan angin dingin yang menyusup ke tulang, pagi itu kami harus tetap berangkat bekerja karena sudah merupakan konsekuensi kami sebagai abdi negara. Kami bertiga berjalan keluar dari gang Indra Jaya menuju dermaga kecil tempat berlabuhnya perahu perahu bermotor yang oleh masyarakat Banjarmasin disebut dengan klotok. Setelah melewati jalan beraspal kurang lebih 200 meter, kami sampai ke kawasan dermaga tersebut. Di sana tampak berderet perahu-perahu bermotor yang ditambatkan oleh pemiliknya. Aku dan Mbak Prapti segera mencari klotok Paman Imi yang entah nama panjangnya kami juga tidak tahu. Sedangkan kawan kami Nur Widati segera mencari klotok langganannya, sebab kami beda jurusan.

Ada seni tersendiri ketika kami harus menuju ke klotok langganan kami. Jika klotok ditambatkan dekat dengan dermaga, kami akan mudah menjangkaunya untuk segera duduk di dalamnya, namun jika klotok ditambatkan agak jauh karena deretan klotok-klotok itu berdasarkan urutan datangnya, maka kami harus naik ke atas atap klotok yang pertama kemudian meloncat dari kelotok satu ke klotok yang lain. Setelah jurus-jurus lompatan kami kerahkan, akhirnya kami sampai ke klotoknya Paman Imi. Kemudian kami masuk lalu duduk dengan manis sambil meredakan rasa deg-degan kami yang harus loncat sana loncat sini.

Di dalam klotok tersebut sudah ada beberapa orang guru SMP yang sama-sama berlangganan klotok tersebut. Tidak berapa lama datang sekelompok siswa-siswi SMP yang juga ikut berlangganan klotok tersebut. Setelah dirasa cukup penumpangnya, klotok segera dijalankan oleh Paman Imi untuk menyeberangi Sungai Barito. Sepanjang perjalanan melewati Sungai Barito banyak yang kami lewati, diantaranya kawasan Pasar Terapung kemudian sisi dari Pulau Kambang yang merupakan tempat pariwisata di Kota Banjarmasin dan melewati sederet Perusahaan Plywood yang ada di sekitar perairan Sungai Barito.

Dikutip dari Wikipedia, berdasarkan beberapa naskah Hikayat Banjar dan naskah kuno lainnya diketahui Sungai Barito dahulu disebut juga Sungai Banjar khususnya yang berada di hilir dekat kampung Banjar-Masih (sekarang Kuin Utara, Banjarmasin) sampai ke hulu pada kota Marabahan, sebab di kota ini sungai tersebut bercabang dua anak sungai yaitu Sungai Barito/Sungai Dusun dan Sungai Negara/Sungai Bahan. Wilayah daerah aliran Sungai Negara/Sungai Bahan inilah yang oleh kesultanan Banjar dinamakan wilayah Hulu Sungai atau Banjar Hulu Sungai yang terdiri atas dua kawasan pemukiman Banjar Batang Banyu/Banjar Lembah dan Banjar Pahuluan/Banjar Darat. Sedangkan daerah aliran sungai di hulu kota Marabahan sering dinamakan daerah Barito/Tanah Dusun atau pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda merupakan Onder Afdeeling Barito atau pada masa orde lama merupakan kabupaten Barito yang beribu kota di Muara Teweh.
Wilayah Barito ini dalam Kitab Negarakertagama disebutkan sebagai salah satu daerah taklukan kerajaan Majapahit yang berada di pulau Tanjung Negara di samping daerah tetangganya yaitu Sungai Tabalong (sungai Negara). Diduga pada zaman dahulu kala kedua anak sungai tersebut masih terpisah karena bagian hilir sungai besar ini belum terbentuk tetapi karena aliran endapan lumpur ke arah muara menyebabkan kedua anak sungai itu akhirnya menyatu dalam Transportasi dan nilai ekonomi Daerah Aliran Sungai.
Sejalan dengan pendapat Hall, penduduk Kalimantan Selatan pada abad XIX pada umumnya memang terkonsentrasi di mulu-mulut sungai atau di wilayah pertemuan dua sungai. Sungai merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari penduduk di wilayah ini. Sebagian besar sungai di Kalimantan Selatan dapat dilayari. Salah satu sungai terpanjang dan terbesar adalah sungai Barito (disebut juga Sungai Dusun) yang menjadi tempat bermuaranya beberapa sungai utama di Kalimanatan Selatan, seperti Sungai Martapura dan Sungai Negara. Sungai-sungai tersebut beserta seluruh anak sungainya merupakan jaringan prasarana perhubungan dan pengangkutan yang sangat penting bagi penduduk karena masing-masing sungai mengalir melalui ibu kota-ibu kota kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan.
Di sepanjang perjalanan banyak cerita, canda tawa antara guru dan siswa. Sesekali klotok bergoyang ke kanan dan kiri karena gurauan anak-anak tersebut. Aku dan Mbak Prapti kadang merasa ngeri kemudian secara spontan kami pun berteriak. Akhirnya anak-anak menyadari bahwa ada kami yang masih belum terbiasa dengan keadaan seperti ini, dan klotok pun tidak oleng lagi. Kurang lebih 30 menit kami sampai di rumah ibu kepala sekolah. Perjalanan kami selanjutnya ke sekolah disambung dengan bersepeda bersama-sama.

0Shares

By Admin

One thought on “Klotok Paman Imi”
  1. Semangat ya, mba Yani.
    Semoga selalu sehat, dimudahkan dan selalu dilindungi selama menjalani tugas mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *