Maryati Arifudin, 27 Ramadhan 1442

Perintah dari Sang Pencipta dalam menjalani kehidupan ini, sungguh mengajak seorang hamba tuk berpikir. Berpikir tuk makin bertambah keimanannya atau makin kufur.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Sebagian kecil dari mereka yang menyambut perintah dari Tuhannya dengan bergembira. Begitu mendengar perintahnya, mereka berkata,” kami mendengar dan kami taat”. Ingat, hanya sedikit hamba yang menyambut perintah itu.

Dalam surat Fushilat ayat 3-4 yang artinya: “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan”.

Perintah puasa jika semua hamba mengamalkannya karena ketundukan ajaran yang mulia pasti jiwa akan bahagia. Bahagia akan hadir  jika usai puasa ada perubahan diri sehingga amalannya selalu meningkat. Bukti itu juga terlihat, jika setelah puasa mampu menggunakan nikmat-nikmat Alloh sesuai dengan ketentuan-Nya.

Renungkan! Lafazd kalimat takbir yang berkumandang  setiap 1 syawal adalah bentuk pengagungan seorang hamba kepada Alloh SWT semata. Sebagai ucapan syukur atas semua nikmat yang telah diberikan pada umatnya akan hadirnya bulan mulia.

Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali puasa. Sebab pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.” ( HR Muslim)

Hadirnya bulan ramadhan mampu mewarnai jiwa menuju bahagia. Bahagia akan didapat manakala nilai puasa membawa perubahan nyata dalam pribadi setiap jiwa. Jadi, bahagia itu bukan karena puasanya usai. Tetapi mereka bahagia kerena mampu menjalani puasa dan ada hasil usai puasa terlihat dalam kesehariannya.

Cobalah belajar dari peristiwa metamorfosis kupu-kupu. Ulat untuk merubah bentuknya menjadi seekor kupu-kupu saja harus berpuasa hampir dua minggu. Setelah dua minggu kepompong itu akan berubah wujud menjadi kupu-kupa yang cantik. Itulah perjuangan si ulat lebih dua minggu berbentuk kepompong demi berubah bentuk menjadi kupu-kupu.

Ustadz Adi Hidayat dalam tausyiahnya ada tiga amalan usai ramadhan. Salah satu nikmat bahagia menyambut idul fitri mampu mensyukuri nikmat yang ada. Bahagia hadir karena masuk tanggal 1 syawal  bisa berbagi kebaikan. Bahagia jika mampu mensyukuri nikmat yang Alloh titipkan. Mereka sangat berbahagia karena puasanya mampu membuat perubahan diri. Akhirnya, setelah puasa berakhir setiap jiwa mampu menggunakan nikmat-nikmat Alloh sesuai dengan ketentuan-Nya. Begitulah, gambaran bahagia yang sesungguhnya.

Indahnya ajaran-Nya jika mau mengaplikasikan akan muncul jiwa bahagia selamanya. Mereka sadar segala nikmat adalah pemberian-Nya ia akan selalu bersyukur. Jika ujian hidup singgah pada dirinya mereka akan bersabar.

Perhatikanlah! Mensyukuri nikmat ada dalam perintah ajaran yang lurus ini. Perintah tuk menggunakan seluruh anggota badan bekerja sesuai dengan syariat-Nya yang tertera dalam ayat-ayat Al Qur’an nyata.

Setiap perintah-Nya pasti ditujukan bagi hambanya yang beriman saja. Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”. (Surat An Nur ayat 31)

Artinya bahwa perintah bagi orang beriman tuk menjaga pandangannya terhadap lawan jenisnya. Jagalah penglihatan anda karena itu perintah-Nya. Selama puasa, orang-orang beriman telah diajarkan tuk menundukan hawanafsu itu.

Jadi, memasuki bulan 1 syawal disadarkan tuk mensyukuri nikmat penglihatan berupa mata guna menumbuhkan ketaatan pada-Nya. Nikmat mata bukan untuk memperturutkan hawanafsunya. Jiwa-jiwa yang beriman akan selalu menundukkan pandangan matanya. Mereka sadar dan takut jika tidak mengikuti perintah-Nya akan tumbuh dosa berupa zina mata yang ada dalam jiwanya.

Demikian juga perintah menjaga lisan bagi orang-orang beriman itu ada dalam Al Qur’an yang mulia. Lisan mereka akan dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang baik. Kalimat yang bersumber dari Tuhannya berupa  istighfar dan dzikir-dzikir lainnya. Mereka sadar dan takut bahwa semua perbuatan yang ia jalani dalam pengawasan Sang Illahi Robbi.

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]: 18).

Perintah itu nyata ditujukan bagi orang-orang beriman agar menjaga lisannya. Barang siapa beriman pada Alloh dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam.

Sungguh, sempurnanya ajaran yang lurus ini ada perintah sederhana tuk berbicara yang baik-baik saja bukan pembicaraan yang tak berguna. Apalagi, bicara kotor pantang bagi orang yang beriman melakukannya. Karena mereka menyadari bahwa lisan selalu diawasi oleh kedua malaikat sisi kanan dan kirinya.

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Islam telah mengajarkan batasan-batasan hamba yang beriman agar selalu mensyukuri nikmat yang diberikan. Nikmat mata, lisan, pendengaran dan seluruh anggota tubuhnya sungguh tuk menumbuhkan ketaatan pada-Nya. Hamba yang beriman akan menjaga nikmat-nikmat sesuai yang disyariatkannya. Mereka akan menggunakan dengan sebaik-baiknya, sebelum nikmat itu diambil satu persatu oleh pemilik-Nya.

Percayalah! Hanya hamba-hamba yang terpilihlah yang mampu menjaga batasan-batasan sesuai syariat-Nya. Yaitu hanya  golongan orang-orang yang beriman yang mau menundukkan hawanafsunya usai ramadhan. Keistimewaan bagi orang yang beriman jika  mereka mampu menjaga syariatnya, maka Alloh akan selalu menjaganya. Sungguh sangat beruntung seorang hamba yang hidupnya  dalam penjagaan-Nya. Pasti mereka akan beruntung hidupnya bahagia dunia dan akherat.

Sesuai hadits riwayat Tarmidzi, Rasululloh bersabda, “Jagalah (batasan-batasan syariat) Allloh,  maka Alloh akan menjagamu (dari segala keburukan). Jagalah (batasan-batasan syariat) Alloh! maka kamu akan mendapati Alloh di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu)”.

Kesempatan terbuka bagi semua umatnya mau masuk golongan yang beriman atau kufur. Pilihan ada ditangan anda! Usai menunaikan puasa jiwa-jiwa mau berubah tuk perbaikan diri atau  berdiam diri.

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS An Nahl [16]: 97).

Ingatlah! Janji Alloh dan Rasulnya selalu benar. Mari bersegera mensyukuri seluruh nikmat yang ada dalam jiwa sesuai dengan syariat-Nya. Jadikan, momentum bulan syawal tuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *