MaryatiArifudin, 16 Maret 2021

Dalam ruang menulis Pak Cah menyampaikan, “menulis dapat memberikan jalan keluar yang sehat untuk melalui pasang surut kehidupan”. Pesan menarik ini, akan membuat tantangan baru bagiku tuk memulai mempraktekkan.

Jika hanya teori saja sulit kita mempercayainya. Sungguh! Tantangan awal tuk mengubah suatu keadaan. Bagaimana, Pak Cah sang murobi tidak bosan-bosannya selalu memotivasi mutarobinya tuk menulis dan menulis.

Menulis bagi Sang murobi merupakan aktivitas semudah bagai bernafas. Ku selalu ingat pesan Beliau jika menulis segeralah tuk menulis, jangan sambil berpikir. Berpikir aktivitas yang sangat berbeda dengan menulis. Jika digabungkan kedua aktivitas itu, maka kita akan terasa sulit untuk menulis.

Jadi menulislah apa yang membuat hatimu merasa lega untuk disampaikan pada dirimu. Minimal membuat pesan kebaikan untuk diri, agar tidak mengulangi jika kita telah melakukan kesalahan. Siapa yang tak pernah melakukan kesalahan, pastilah kita sering melakukkan. Dari bangun tidur, sampai tidur lagi apakah benar kita tidak pernah melakukkan suatu kesalahan? Pasti, banyak ragam kesalahan atau dosa yang kita lakukkan. Bahkan, tanpa sadar dosa itu lewat hati kecil kita yang selalu berprasangka buruk.

Maka tulislah agar menjadikan diri ini mempunyai aktivitas positif. Aktivitas positif yang produktif walau berbentuk tulisan sederhana. Tulisan walaupun hanya  berisikan pribadi kita untuk selalu berintropeksi diri. Sehingga tulisan intropeksi diri mampu mencegah perbuatan negatif yang merugikan hidup ini tak akan terulang kembali.

Instropeksi diri adalah sikap mawasdiri agar tidak terjebak oleh kegiatan yang tidak bermanfaat. Banyak kegiatan yang tidak bermaanfaat yang sangat merugikan diri sendiri. Istilah mager, gabut, dll secara bahasa membuat aktivitas yang tak mau dan tak mampu mengoptimalkan potensi diri. Jika waktu hanya terbuang dengan mager, gabut? Bagaimanakah dengan kebiasaan itu mewarnai generasi masa kini. Sungguh merugilah seseorang yang aktivitasnya hanya mager dan gabut!

Hidup ini penuh warna, banyak tantangan hidup yang harus diselesaikan. Selesai satu pekerjaan, pasti akan mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Itulah hidup, hidup itu diisi dengan dinamika pekerjaan. Ada pekerjaan itulah, yang membuat hidup terwarnai. Jika tidak ada pekerjaan maka kita tak akan mampu hidup. Jadikan, pekerjaaanmu tuk mengenal dan mendekatkan pada Sang Maha Hidup.

Jika kita hanya diam saja tidak aktivitas apapun, pasti hidup dengan kesuntukan waktu. Waktu kita tidak optimal, dan sifat waktu tak bisa kembali. Maka itu, gunakan waktumu untuk mengenal yang maha hidup. Sungguh suatu kehidupan pasti ada suatu tujuan. Tujuan hidup tentu ingin mendapat suatu kebahagian. Baik itu kebahagian dunia apalagi kebahagian akherat yang hakiki.

Imam al-Ghazali, dalam karyanya yang monumental Ihya Ulumiddin, merupakan sebuah kondisi spiritual disaat manusia berada dalam satu puncak ketakwaan itulah bahagia. Kebahagiaan itu adalah manifestasi berharga dari mengingat Allah.

Jadi inti bahagia bersumber dari Alloh SWT. Ia akan merasa hidup jika seluruh hidupnya tuk mengabdi pada-Nya. Ia akan merasa terhina, jika ia lalai dengan aturan-aturan-Nya. Seluruh hidupku, ibadahku, dan  matiku hanya ku persembahkan pada Tuhan Semesta Alam Alloh SWT.

Ia akan selalu menggunakan waktunya untuk beraktivitas yang positif sesuai dengan koridor-Nya. Mereka akan berjuang menimbun amal sholeh selagi tinggal di dunia. Karena, ia menyakini bahwa ada hari akhir yang kekal dan abadi. Dimana hari itu, seluruh hidup ini akan kita pertanggung jawabkan di hadapan-Nya.

Banyak khilaf dan dosa yang kita perbuat, menjadi tempatnya tuk instropeksi diri. Agar hari ini lebih baik dari hari yang telah dilalui. Mudah-mudahan, kita diberi kesempatan tuk bertobat dan memperbaiki diri. Mari, kesempatan itu kita gunakan tuk selalu beristigfar pada-Nya. Semoga, kita termasuk golongan yang suka mensucikan-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Surat Al-Hasyr, Ayat 18)

Selalu bermuhasabah diri ataupun melakukan intropeksi diri adalah amalan yang dicintai. Lakukan secara kontinyu, agar hati ini selalu tentram. Usaha yang keras untuk merubah diri kearah jalan yang di ridlai adalah sikap yang terpuji. Pesan ini, tersampaikan di ruang tulis  Pak Cah. Tulislah apa saja yang membuat hatimu bersemi kembali. Agar pikiranmu, terasa terasah setiap waktu tuk menuliskan walau satu kata yang mengandung arti. Tulisan sederhana berupa instropeksi diri sungguh dapat menciptakan dan menjadi pelipur hati. Tulislah kalimat bermuhasabah diri, agar hari-harimu terasa indah dan hatimu kian bersemi kembali.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *