Oleh: Moh. Anis Romzi

Berangkat dari Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) berbasis diferensiasi pada pembelajaran. Sebuah tugas dalam diklat penguatan kepala sekolah. SMPN 4 Katingan Kuala berupaya mengangkat isu diferensiasi dalam pembelajaran. Ini didasarkan pada permasalahan motivasi dan prestasi belajar peserta didik. Penerapan diferensiasi adalah upaya penyelesaian atas masalah yang dihadapi SMPN 4 Katingan Kuala.

Kepala sekolah perlu memahami berulang bahwa semua peserta didik adalah unik. Semua memiliki potensi kecerdasan yang sama. Hanya cara perlakuan yang semestinya berbeda untuk menghargai keunikan mereka. Gardner ( Hoerr: 2007) menyatakan setidaknya ada 8 kecerdasan. Pendidikan konvensional masih mengarah pada pemberdayaan kecerdasan verbal atau lingusitik semata.

Ada hubungan yang signifikan antara penerapan diferensiasi dalam pembelajaran dengan apresiasi pada kecerdasan majemuk. Keduanya bertemu pada penghargaan terhadap keragaman. Hoerr (2007)  teori kecerdasan majemuk mengajari kita bahwa semua anak cerdas, tetapi mereka cerdas dalam cara yang berbeda-beda. Semua anak memiliki potensi. Kecerdasan Majemuk tidak hanya meningkatkan kesempatan murid untuk belajar, tetapi juga memberikan orang dewasa jalan dan cara untuk tumbuh secara profesional dan personal.

Ada tiga modalitas utama dalam pembelajaran. 1. Visual, 2. Audiotory , 3. Kinestetik. Jalaludin Rahmat dalam pengantar Buku Kerja Multiple Intellegencies karya Thomas R. Hoerr, jenis kompetensi yang berbeda tidak saja berpengaruh pada bahan ajaran, tetapi juga pada kegiatan belajar mengajar. Ia menyebutkan bahwa gaya belajar lebih dari tiga gaya belajar umum di atas. Jalal menambahkan dengan gaya belajar intelektual, dan somatik.

Beberapa temuan terhadap peserta didik di SMPN 4 Katingan Kuala. Beberapa siswa yang diuji dengan cara penilaian kecerdasan linguistik pada jangka panjang memiliki hasil yang konstan. Kemampuan menjawab soal dalam bentuk tertulis didominasi oleh peserta didik yang memiliki kecerdasan ini. Begitupun sebaliknya, para peserta didik yang sulit diam, kecenderungannya mereka lemah pada hasil tes tulis menjawab soal.

Perbedaan gaya belajar dan kecerdasan majemuk membawa perlakuan terhadap pembelajaran, penilaian, dan apresiasi. Semua aktivitas pembelajaran diarahkan untuk mendukung potensi mereka. Pada akhirnya para peserta didik dapat terlayani dan berprestasi sesuai dengan potensi kecerdasan yang dimiliki.

Kepala sekolah sebagai pemimpin perlu membangun terobosan untuk pembelajaran yang memerdekakan. Para pendidik perlu disadarkan bahwa pola pembelajaran konvensional belum cukup untuk mewadahi aneka kecerdasan yang dimiliki peserta didik. Ke depan, kurikulum, pembelajaran, dan penilaian perlu di rekonstruksi. Ini akan lebih mudah apabila dimulai dari kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.

Fondasi di atas berbagai kecerdasan adalah karakter. Ini adalah hal yang tetap harus dipegang oleh kepala sekolah dalam mengembangkan potensi aneka kecerdasan peserta didik. Apapun jenis kecerdasan yang dimiliki wajib didasari atas nilai-nilai moralitas.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 10/3/2021 Bahan bacaan: Hoerr, R. Thomas, Buku Kerja Multiple Intellegences, Kaifa, Bandung. 2007

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *