Oleh: Moh. Anis Romzi

Lazimnya peran kepemimpinan, pemimpin laksana superhero. Mereka ingin berperan sebagai pahlawan bagi yang dipimpinnya. Jika kepemimpinan adalah ibadah maka harus ada pengorbanan. Setidaknya itulah yang dikatakan Mahatma Gandhi dalam salah satu dari tujuh dosa sosial. Pemimpin harus rela mengorbankan dirinya, termasuk kesenangannya sebagai bagian yang melekat dari kepemimpinan.

Faktanya pemimpin juga manusia yang tidak luput dari alpa. Banyak orang menganggap pemimpin adalah sebuah jabatan. Bahkan yang lebih menakutkan lagi bahwa pemimpin adalah harta. Ini akan sangat berbahaya. Adalah sebuah ungkapan Khrisna dalam sebuah film Mahabharata.” Aku memilih tidak membela Duryadana karena ia menganggap raja adalah harta, bukan kewajiban.” Sebuah kata bijak yang patut direnungkan. Pada akhir cerita bahwa kekuasaan (baca; kepemimpinan) yang didasari atas nafsu maka akan berakhir buruk.

Contoh peran antagonis sebagai pemimpin dilakukan oleh Gus Dur. Banyak keputusan ‘kontroversial: yang diambilnya saat menjadi presiden. Mulai dari penghapusan departemen sosial dan penerangan. Banyak yang mengajukan tanya, bahkan tidak sepakat dengan keputusan tersebut. Dalih bahwa departemen sosial untuk membantu menyejahterakan rakyat tanggal. Ini karena beberapa menteri yang mengurus urusan sosial tersandung korupsi. Bahkan sampai saat ini.

Berani melawan arus besar utama untuk membela yang minor. Ini memerlukan keberanian yang sangat tinggi. Keberanian bersumber dari keyakinan dan kecerdasan yang tidak biasa. Lazimnya orang berpikir linear, pemimpin pemeran antagonis berpikir terbalik. Ia rela mendapatkan hujatan dan cemooh. Namun dengan keyakinan ia akan tetap tenang.

Adakalanya seorang pemimpin menjadikan dirinya tumbal demi keselamatan yang lebih banyak. Ini adalah pengorbanan tertinggi. Bahkan Mahatma Gandhi pun menyatakan no worship without sacrifice. Jika kepemimpinan itu adalah ibadah maka harus ada pengorbanan. Lebih lanjut Gandhi menyatakan bahwa ibadah tanpa pengorbanan adalah salah satu dari tujuh dosa sosial. (Djalal:2008)

Seperti guru, pemimpin adalah pemeran segala. Terkadang ia berada di depan, di tengah, dan di belakang. Ia memegang ban kapten. Keberlangsungan institusi menjadi tanggung jawabnya. Ia wajib menggerakkan agar semua tim bekerja pada tujuan yang sama. Bahwa semua anggota berhak dan dapat mencetak gol ( baca;prestasi) bagi institusi. Namun terpenting tidak melalaikan tugas pokok utama. Prestasi anggota tim adalah prestasi semua, kegagalan adalah kegagalan pimpinannya.

Sangat sedikit yang pemimpin yang berani berperan antagonis. Ini karena akan mengundang risiko. Pemimpin yang mengambil peran ini boleh jadi akan menjadi  ‘musuh’ bagi banyak orang. Mereka akan baru menyadari beberapa waktu kemudian ketika sebuah proses kepemimpinan berakhir. Ternyata ini maksudnya.

Ada risiko di muka saat harus mengambil keputusan yang tidak populis. Saat kebijakan diambil  terlihat merugikan dari dalam ternyata ada yang ingin dicapai dari luar. Pemimpin antagonis berpikir ganda memajukan institusinya dengan strategi dan cara berbeda.

Pemimpin dapat berperan apa saja. Ia dapat menjadi protagonis maupun sebaliknya, antagonis. Namun dibalik semua peran yang diambil harus ada tujuan kemanfaatan. Pemimpin memiliki tanggungjawab besar atas institusi yang dipimpinnya. Ambil peran sesuai kebutuhan yang diperlukan untuk kemajuan institusi yang Anda pimpin. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 16/2/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *