Oleh: Moh. Anis Romzi

Kepemimpinan adalah sebuah pekerjaan. Ia bukan hanya persoalan jabatan, gengsi ataupun harta. Itu adalah kewajiban, tanggung jawab, dan amanah yang harus ditunaikan. Akan ada aneka pertanggung jawaban yang akan menghadang. Mulai dari moral, administrasi, dan hasil dari kepemimpinan. Banyak orang yang hanya melihat hasil daripada sebuah proses. Pada proses kepemimpinan ada turunan dan tanjakan yang terkadang di luar perkiraan. Apapun itu tetap harus ditunaikan.

Pemimpin itu menginspirasi yang lain. Ia tidak memaksa kepada siapa pun untuk seperti dirinya. Semua bermula dari diri pemimpin bukan yang lain. Hanya ada kemungkinan kecil bahwa inspirasi hanya berupa sekadar kata tanpa perbuatan. Inspirasi lahir dari tindakan yang membawa kepada perubahan. Walaupun perubahan itu kecil, asalkan baik dan berkelanjutan akan membawa dampak besar bagi sebuah organisasi. Di sinilah para pemimpin mengambil peran sebagai inspirator, perubahan baik, walaupun kecil tetapi kontinyu.

Berharap sedikit kepada manusia, menyandarkan segalanya kepada-Nya. Ini adalah landasan ideal. Jika kepemimpinan dianggap sebagai sebuah ibadah ia akan memberikan semangat jangka panjang. Bukan karena atasan, bukan pula karena anak buah, akan tetapi sebuah pengabdian kepada Yang Tertinggi. Penilaian manusia hanyalah ikutan dan itu pasti. Ini karena kepemimpinan berhubungan dengan orang lain.

Semua dalam kehidupan adalah pengabdian. Termasuk kepemimpinan dan proses yang ada di dalamnya. Memimpin itu menghormati para pendahulu. SBY dalam (Djalal:2008:98) “ memimpin dengan menjelekkan para pendahulu tidak akan membuat diri kita lebih bagus.” Lebih lanjut ketika ditanya soal kalau sudah berhenti menjadi presiden. “ tidak apa-apa. Semua pemimpin ada masanya. Kalau masa bakti saya sudah habis, saya harus berhenti. Saya harus siap dan ikhlas menerimanya. Mengapa? Karena selama mengemban amanah saya telah melakukan yang terbaik. Saya yakin Allah SWT akan mencatat sekecil apapun, hati, pikiran, dan upaya untuk memajukan negeri ini.”

Bukti empirik menyatakan pemimpin banyak yang lahir dari genetik. Banyak dan ada namun tidak semua. Para pemimpin yang berasal dari genetik dapat belajar dari dekat. Mereka dapat secara langsung melihat, mengamati, bahkan meniru apa yang telah dilakukan orangtua dalam praktik kepemimpinan. Ini penjelasan yang paling masuk akal.

Kepemimpinan pada hakikatnya bisa dipelajari. Dalam konteks manajemen modern bahwa semua dapat dipelajari. Termasuk kepemimpinan. Siapa saja yang terus belajar, bekerja keras tanpa banyakn pamrih ada kesempatan untuk menjadi pemimpin. Hanya tinggal nasib dan takdir-Nya datang saat kita pantas. Banyaklah bekerja dan belajar. Kecilkan pamrih kepada manusia. Berharaplah hanya kepada-Nya.

Saat tidak terasa lagi kapan saat istirahat dan bekerja, itulah salah satu tanda ketekunan. Sang pemimpin melewati penilaian manusia. Saat ramai bekerja, di saat sepi pun sama. Dia sendiri yang menentukan jam kerja dan istirahatnya. Pemimpin sejati mengabdikan seluruh kehidupannya pada-Nya. Adalah mustahil untuk dapat membuat orang menerima atas pekerjaan yang telah dilakukan. Terpenting adalah memberikan yang terbaik pada setiap proses kepemimpinan.

Menjadi pemimpin rela mengabdi dan banyak beramal(bekerja) serta menyepikan diri dari pamrih. Sebuah kebaikan tidak akan pernah hilang. Pun begitu pula dengan sebuah keburukan. Pamrih kepada manusia akan sangat melelahkan. Ini karena setiap kepala berbeda isinya. Untuk para pemimpin bekerjalah dengan hati, namun tidak sesuka hati.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 15/2/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *