Oleh: Moh. Anis Romzi

Belajar dari sosok SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) saat memimpin Indonesia. Ini adalah dari tulisan juru bicara presiden Dino Patti Djalal. Orang yang banyak membersamai SBY saat menjadi presiden Republik Indonesia. SBY adalah salah satu pemimpin Indonesia yang layak dijadikan acuan. Bangsa ini harus mengakui bahwa ia terpilih dalam sebuah proses pemilihan demokratis. SBY telah berjuang sampai dengan tampuk kepemimpinan bangsa ini, presiden. Kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.

SBY memulai memimpin Indonesia sebagai presiden dari tahun 2004 sampai dengan 2014. Ini artinya dua kali periode pemilihan ia berhasil memenangkan hati rakyat Indonesia. Pada masanya SBY mampu mengantongi 60% persen suara pemilih. Dalam dua periode inilah Dino menulis catatan harian yang berhubungan dengan kepemimpinan Indonesia ala SBY. Dino menerbitkan catatan itu dalam sebuah buku pada tahun 2008.

Ini bukan kampanye melainkan mencoba mengambil nilai-nilai kepemimpinan yang dibawanya. Ada satu yang menarik perihal SBY dalam hal kepemimpinan. Dia terpukau dengan gaya Mahatma Gandhi. Sosok pemimpin India yang berjuang melawan penjajahan negaranya tanpa kekerasan. Djalal (2008:198) dalam anekdot SBY ‘terpukau: Mahatma Gandhi. Gandhi menulis Seven Social Sins (Tujuh Dosa Sosial). Politics without principle, wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character, commerce without morality, science without humanity, worship without sacrifice. SBY membaca berulang-ulang kata mutiara Mahatma Gandhi itu dan tertegun sambil merenung cukup lama. Kemudian menyuruh Dino Patti Djalal mencatat mutiara di dinding itu.

Berangkat dengan jabatan terakhir sebagai Menkopolhukam sebelum berkontestasi dalam pemilu 2004. Saat itu ada gesekan antara Megawati dan SBY yang berujung digantinya SBY sebagai Menkopolhukam. Akhirnya nasib berbicara lain. SBY berhasil memenangi pemilu berhadapan dengan Megawati yang saat itu menjadi petahana.

Harus bisa adalah motto yang dipegang SBY saat menjadi presiden. (Djalal:2008) SBY selalu menyampaikan semboyan kopassus kepada para pembantunya. “ Lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas.” SBY berorientasi pada pencapaian tugas dalam kepemimpinannya. Prinsip ini biasa tumbuh lebih sistematis di kalangan militer atau swasta. Dalam menghadapi setiap situasi SBY selalu mengatakan kepada pembantunya ‘Harus bisa!” ini menandakan kepercayaan diri yang sangat tinggi.

Belajar dari SBY melalui tulisan orang yang mendampingi sangat mendekati fakta. Dalam testimoni Win Tangkilisan, CEO Globe Media menyatakan, ”Buku ini salah satu buku terbaik di Indonesia mengenai kepemimpinan.” Ada banyak hal positif yang dapat dijadikan pelajaran bagi generasi muda khususnya.

SBY adalah bagian sejarah kepemimpinan bangsa Indonesia. Beberapa kebijakan penting lahir dari sentuhan tangan kepemimpinannya. Setiap keputusan seorang presiden berdampak tidak hanya pada dirinya sendiri. Selama dua periode memimpin banyak pelajaran penting dalam hal kepemimpinan untuk diteladani. Pun ada pula yang menilai negatif. Itu wajar.

Siapa saja boleh dijadikan bahan belajar dalam kepemimpinan. SBY telah mengisinya dengan baik. Terlepas selalu ada pro dan kontra, SBY dapat melaluinya sampai waktu kepemimpinan berakhir. Siapa saja yang ingin menjadi pemimpin, atau telah menjadi pemimpin harus bisa adalah bukti kepercayaan diri yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 14/2/2021 Bahan bacaan: Djalal, Dino Patti, Harus Bisa Seni Memimpin a’la SBY, 2009. Red& White, Jakarta

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *