Oleh: Moh. Anis Romzi

Pemimpin itu memberdayakan. Ia menggerakkan rekan kerjanya melalui proses kognitif. Di dalamnya juga terdapat nilai pembimbingan kepada anggota tim. Tim akan bekerja maksimal apabila turut merasakan bahwa apa yang dilakukan bagian dari perjuangan. Akan ada ketenangan dan kenyamanan apabila anggota tim merasa terdampingi dan terbimbing. Saatnya mereka akan menemukan jati diri dalam pembimbingan yang terbuka.

Ketika anggota memahami visi bersama sebagai kerangka kerja bersama, maka institusi telah menemukan separuh dari jalannya. Di sinilah pentingnya pemimpin menerjemahkan visi dalam berbagai tingkatan kecerdasan. Pemimpin mesti mengenal karakter anggota tim. Ragam kecerdasan memerlukan penjelasan yang berbeda. Seperti prinsip kecerdasan majemuk, pun begitu pula karakter manusia. Penting bagi seorang pemimpin mampu menyederhanakan bahasa visi dalam berbagai tingkatan kecerdasan.

Visi adalah ungkapan cita-cita lembaga jangka panjang. Itu menggambar harapan yang bersifat imajiner utopia. Ini seperti khayalan yang hanya ada dalam angan-angan, akan tetapi laksana dekat dengan kehidupan. Pemimpin hebat mampu membawa visi dalam strategi dan langkah-langkah kerja spesifik. Kemampuan ini akan terwujud dalam hasil kerja yang diembannya.

Saat visi telah menjadi keyakinan institusi akan melahirkan kekuatan yang dahsyat. Ia akan menuntun dengan sangat jelas kepada seluruh anggota tim. Ini akan membangun semangat untuk mewujudkan tujuan bersama. Saat keyakinan telah tumbuh kuat, apa saja upaya menjadi mungkin untuk menuju visi institusi. Ini memerlukan waktu yang tidak pendek. Saat sambil melakukan kepemimpinan, di situlah sebenarnya perwujudan visi dalam bentuk aksi. Inilah tugas pemimpin, menerjemahkan visi dengan gamblang kepada siapa saja.

Thomas Sergiovanni mengusulkan salah satu model pertama dari kepemimpinan pembelajaran. Dia mengidentifikasi lima unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan, yaitu: 1. Teknis/keterampilan, 2. Manusia, 3. Pendidikan, 4. Simbolik, dan, 5. Budaya. Kelimanya dapat dinilai dan diamati dalam keseharian perjalanan sebuah institusi. Sekolah misalnya, berbeda pemimpin, berbeda teknis, keterampilan dapat berbeda hasil. Walaupun pendidikan dan materi kepemimpinan sama. Pendapat Thomas dapat digunakan untuk menilai sebuah proses kepemimpinan.

Saat ada keraguan, pemimpin mampu kembali meyakinkan. Ini adalah tahap pertama dari bagian kepemimpinan. Kemampuan komunikatif pemimpin diuji saat berhadapan dengan keraguan. Pemimpin mempunyai tugas memengaruhi juga. Saat pemimpin melakukan penanaman pengaruh tidak selalu harus menggunakan komunikasi verbal. Simbol, dan tindakan langsung cocok untuk menumbuhkan keyakinan.

Menerjemahkan misi dengan gamblang, pemimpin melakukan apa yang ia ucapkan. Ini adalah titik balik seorang pemimpin.  Bagian dari  penerjemahan visi dengan jelas di atas, pemimpin wajib melakukan apa yang dia ucapkan. Ini penting, karena kepercayaan, keteladanan dalam kepemimpinan berawal di sini.

Pondasi sebuah institusi adalah visi yang menantang. Ini akan menjad dasar gerak langkah institusi mengarungi komunikasi, sekaligus kompetisi saat diperlukan. Ketika visi tersampaikan secara gamblang ia akan menjadi penerang perjalanan institusi. Inilah tugas utama pemimpin, membuat visi lembaga menjadi mudah bagi seluruh anggota tim. Visi yang jelas pondasi kokoh bangunan organisasi.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng, 12/2/2021 Bahan bacaan: Modul POS implementasi Kurikulum 2013 untuk Kepala Sekolah,2014, PPTK-BPSSDM Kemdikbud.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *