photo lavender flower field under pink sky

Kepemimpinan (49) Berani Hidup
Oleh: Moh. Anis Romzi
Setiap yang hidup dipastikan mati. Ini berlaku bagi siapa saja. Ketakutan menghadapi kematian adalah sesuatu hal wajar. Ini karena tidak fakta yang mati tidak pernah kembali. Kemarian sebagai sesuatu yang pasti biarkan saja. Jika banyak yang merelakan diri untuk berani mati, saatnya ada paradigma perlu dibalik. Yakni paradigma berani hidup. Saatnya memberikan hidup terbaik pada diri dan institusi. Kesemuanya dilakukan untuk menunggu kematian yang pasti datang. Berani hidup untuk kebaikan yang lebih banyak.
Persiapan menghadapi kematian adalah mengisi kehidupan dengan yang terbaik. Jika berharap surga dan neraka adalah dua hal yang bersifat muajjal (terhutang) (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim). Sedangkan pemiliknya sudah, sedang, dan akan tetap ada sampai kapanpun. Bukankah lebih baik berbuat baik kepada pemilik segala saat masih hidup? Sekarang Dia memelihara seluruh alam. Termasuk kita. Hidup ini adalah tugas pengabdian terbaik kepada-Nya. Surga adalah simbol reda-Nya, sebaliknya neraka adalah penanda murka-Nya untuk kita. Maka mari berikan hidup terbaik untuk-Nya.
Pemimpin membawa diri dan institusi pada kehidupan. Selama dalam kehidupan akan mengalami naik turun. Pemimpin meniatkan diri memberikan terbaik di mana saja berada. Kehidupan ini adalah anugerah yang harus disyukuri. Cara bersyukur adalah dengan melakukan Perbuatan-perbuatan terbaik untuk menggapai reda-Nya. Setelah itu relakan Dia mengatur untuk kita. Dia menyukai pada kebaikan.
Institusi pada masa kini tidak berhenti pada kemapanan. Mereka senantiasa kritis terhadap bermacam keadaan. Kehidupan tidak berhenti seiring berjalannya waktu. Institusi wajib belajar terus menerus untuk perbaikan. Makna kritis adalah bahwa yang hari ini terlihat belum tentu esoknya. Pemimpin dan anggota tim senantiasa waspada pada perubahan. Sampai saatnya kematian itu datang. Karena kematian itulah perubahan yang nyata.
Institusi modern menuntut kolaboratif. Saat ini semua hidup dalam bingkai kemanusiaan. Termasuk sebuah institusi. Kolaborasi adalah hal wajib. Pemimpin bertanggungjawab atas apa, bagaimana, dan untuk apa kolaborasi institusi dibangun. Bukan jamannya lagi pemimpin saat ini adalah boss, namun sebaliknya unboss. Dalam tim semua dapat menjadi pemimpin terbaik untuk dirinya sendiri. Selanjutnya berkolaborasi dalam kebaikan untuk kemajuan institusi.
Adaptif terhadap beraneka kemungkinan. Situasi yang sangat dinamis memerlukan kesiapan institusi. Perubahan apapun dapat saja terjadi. Kecepatan adaptasi institusi adalah jawaban untuk menyelesaikannya.
Pemimpin tidak melupakan humanisme dalam proses kepemimpinan. Inilah uniknya manusia. Maka wajib hukumnya bagi pemimpin menghargai kemanusiaan. Secanggih apapun teknologi masih belum dapat menggantikan peran manusia. Teknologi memudahkan tidak menggantikan manusia. Maka manusia kreatif dan inovatif yang nantinya akan tetap bertahan dan tidak tergantikan. Ini alamiah.
Daya tahan, kesabaran, dan semangat adalah modal keunggulan institusi.

Sampit, Kalteng. 27/3/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *