Moh. Anis Romzi

Emosi adalah kata Penting bagi seorang pemimpin. Ia adalah bukti kemampuan pemimpin dalam mengendalikan dirinya. Kegagalan dalam mengelola emosi dapat berdampak jangka panjang pada anggota institusi.  Kemampuan mengendalikan emosi diri dan orang lain dalam institusi membuktikan kecerdasan seseorang dalam memimpin. Bukan karena umur kecerdasan emosional itu ada, melainkan karena proses belajar yang terus-menerus.

Ada masa seorang pemimpin akan berhadapan dalam situasi dalam tekanan. Emosi dalam KBBI V memberi makna sebagai kata benda berupa perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu yang singkat. Emosi juga bermakna keadaan dan relasi psikologi dan fisiologis ( seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan); keberanian yang bersifat subyektif. Pandangan umum emosi dimaknai sebagai kemarahan.

Menurut Goleman via Jurnal Inspirasi BPSDM Provinsi Jawa Barat, 2019 mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai suatu kesadaran diri, rasa percaya diri, penguasaan diri, komitmen, dan mempengaruhi, melakukan inisiatif perubahan dan menerimanya. Atau dengan kata lain kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi secara baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Saat berada dalam tekanan kondisi jiwa akan diuji. Ragam permasalahan datangnya tanpa permisi dalam sebuah institusi. Kematangan dalam mengelola emosi pemimpin tanda kedewasaan. Saat inilah seorang pemimpin dituntut mengenali rasa diri dan orang-orang dalam tim. Saat anggota kelompok meluapkan rasa dengan cara yang negatif misalnya, pemimpin dengan emosi stabil masih tetap mampu mengendalikan diri.

Pemimpin ‘jangan marah’. Ini adalah ungkapan sederhana, namun bermakna lebar. Kemarahan dapat membawa bencana dalam institusi walaupun sebentar saja.  Pemimpin tetap harus memperhatikan keluhan anggota institusi bagaimanapun caranya. Sebagai pemimpin hendaknya menghindari mengambil keputusan saat dalam keadaan marah.

Stabilitas emosi sangat diperlukan dalam menghadapi setiap masalah dalam kepemimpinan. Entah dengan cara apa saja masalah itu datang. Pemimpin dengan emosi stabil tetap tenang. Stein dan Book (2000) via Jurnal Inspirasi BPSDM Provinsi Jawa Barat, 2019 berpendapat bahwa para pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional yang lebih besar akan menjadi pemimpin yang efektif.

Pengendalian diri adalah inti dari kepemimpinan. Banyak fakta menunjukkan bahwa pemimpin yang memiliki emosi yang stabil memberikan pengaruh besar pada dunia. Winston Churchill dengan kecerdasan interpersonal dan intrapersonalnya mpi membawa negaranya menjadi berpengaruh dalam percaturan dunia.

Emosi sebagai reaksi psikologis dan fisiologis mesti disalurkan dengan benar pada proses Kepemimpinan. Emosi yang stabil akan membawa harmonisasi dalam tim kerja. Mereka dapat termotivasi untuk dapat menunjukkan kinerja terbaiknya. Ini karena pemimpin memiliki stabilitas emosi dikombinasikan dengan kecerdasan interpersonal dan intrapersonalnya.

Kasongan, Katingan, Kalteng, 23/3/2021 Bahan bacaan: Jurnal Inspirasi, BPSDM Provinsi Jawa Barat, Volume 10, Nomor 1, April 2019.7

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *