Oleh: Moh. Anis Romzi

Pemimpin rela berkorban atas apa yang dipimpinnya. Dia menjadi tumpuan rekan kerjanya. Setiap usaha yang dilakukan diarahkan untuk kemajuan institusi dan keberhasilan rekannya. Kepentingan pribadi acap dinomor duakan karena rasa tanggungjawab. Ia tidak pernah memandang yang lain sebagai bawahan. Semuanya adalah anggota tim. Siapa saja dalam tim memiliki kontribusi signifikan terhadap institusi.

Teladan kepada nabi Muhammad di saat meletakkan Hajar Aswad. Saat renovasi Ka’bah telah selesai. Para pemimpin suku berebut kuasa untuk meletakkan sang batu hitam pada tempatnya. Titik temu tidak disepakati. Muncullah gagasan brilian dari Nabi Muhammad. Solusi jalan tengah agar semua merasa dihormati. Maka dibawalah sang batu dengan kain. Sedangkan para pemimpin suku memegang ujungnya. Sebuah sikap menghargai semua dan menanam kebaikan untuk semua. Dari sinilah julukan Al-Amin (yang terpuji) muncul. Inilah teladan kepemimpinan.

Lumrah manusia bekerja ingin mendapatkan pendapatan. Jika kepemimpinan dianggap sebagai sebuah profesi sah saja. Itu adalah hak bagi siapa saja yang memimpin. Namun jika pendapatan dijadikan satu-satunya alasan dalam memimpin, maka kecacatan akan didapatkan. Pemimpin mendahulukan kewajiban sebelum menuntut hak.

Ketika penghargaan dijadikan tujuan, yang ada adalah menghalalkan segala cara. Banyak manusia dibutakan karena hanya ingin mendapatkan penghargaan.  Apresiasi, upah, atau apapun namanya seyogianya adalah ikutan dalam proses Kepemimpinan. Ke semuanya akan  didapatkan apabila amanat kepemimpinan ditunaikan dengan sangat baik. Bagi pemimpin penghargaan adalah bagian dari proses perjalanan memimpin.

Pemimpin selalu berusaha menebarkan kebaikan. Banyak pemimpin dikenang karena pengorbanan pada pengabdian. Mereka menafikan dirinya untuk diserahkan pada sebuah karya dan cita-cita besar. Mereka tidak pernah lelah menanamkan kebaikan. Bahkan tidak jarang tidak menikmati hasil pengorbanan untuk diri sendiri. Mereka hanya berusaha terus menanam kebaikan. Perkara hasil biarkan menjadi urusan Sang Maha Pemberi. Dia tidak pernah tidur dan lupa.

Berharap terlalu banyak pada penilaian manusia sering kali luput. Tidak jarang bersandar pada penilaian manusia timbulnya kekecewaan. Biasa saja pada dunia. Dihina tidak akan rendah, dipuji tidak akan melayang. Tugas pemimpin hanya terus belajar dan berusaha memberikan yang terbaik. Perkara hasilnya pasti sudah Ada yang mengurus.

Adalah kisah seorang tua yang menanam pohon kelapa. Ia terus menanam walaupun usianya sudah senja. Saat datang seorang pemuda bertanya kepadanya. “ Untuk apa kakek menanam pohon yang engkau tidak akan menikmati buahnya?”

“ Aku menanam ini bukan untukku, tetapi untuk siapa saja setelah aku. Usiaku mungkin sudah tidak akan dapat menikmati hasil darinya. Namun ini akan ada manfaatnya untuk setelahku.”

Pemimpin hebat banyak menanam, memikirkan hasil kemudian. Ia rela berkorban untuk generasi penerusnya. Siapa saja mereka.

Sampit, Kalteng, 22/3/2021

0Shares

By Admin

One thought on “Kepemimpinan (43) Banyak Menanam Sedikit Mengingat Panen”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *