Oleh: Moh. Anis Romzi

Belajar dari Burung Enggang. Dalam budaya Dayak di Kalimantan, burung Enggang mempunyai posisi yang istimewa bagi mereka. Satwa tersebut membantu melestarikan kehidupan hutan. Menurut mereka biji-bijian yang dimakan burung Enggang akan terus tumbuh menjadi pohon dan dapat berkembang menjadi hutan.(Kalender Bank Kalteng 2021, lembar Maret-April)

Manusia terbaik adalah yang memberikan manfaat bagi yang lain. Ini adalah pesan moral dari sang Nabi. Pada konteks institusi pemimpin mendampingi anggota tim untuk berhasil. Pemimpin laksana pelayan untuk para tuan di institusi. Keberhasilan tim adalah prestasi tidak ternilai bagi pemimpin. Ada bahagia yang tidak dapat terlukiskan. Pemimpin menebarkan manfaat bagi siapa saja dalam sebuah institusi. Tim tumbuh bersama menghadapi segala rintangan.

Seorang pemimpin bertanggung jawab penuh atas institusi. Dalam konteks pendidikan Ki Hajar Dewantara memperkenalkannya dengan nama among. Pemimpin itu membimbing dan mengarahkan tim. Saat berada di belakang ia menjadi bilah kemudi kecil. Mungkin saja ia tidak terlihat populer, tetapi menentukan arah institusi.

Saat menghadapi masalah ia berdiri paling depan. Ini adalah bagian tanggung jawab inti seorang pemimpin. Tidak istilah anak buah kecuali pemimpinnya. Pun begitu pula seorang pendidik, tidak ada peserta didik yang tidak cerdas melainkan belum mampunya pendidik menemukan potensi mereka. Inilah tanggung jawab sebenarnya kehidupan. Itu adalah meninggikan nilai kemanusiaan. Apabila hanya bermanfaat untuk diri sendiri maka ia adalah biasa. Nilai sejati ada pada kemanfaatan yang ditebar dalam menghadapi permasalahan.

Pemimpin rela menikmati kesuksesan paling akhir. Sebuah riwayat tentang Umar bin Khattab yang rela berkeliling untuk mengetahui derita rakyatnya. Apakah semua dapat menikmati kehidupan yang layak. Saat mengetahui seorang ibu merebus batu untuk mengelabui putra-putrinya, ia menangis. Kemudian rela memanggul gandum sendiri dari baitul maal. Teladan pengorbanan seorang pemimpin untuk pemimpin kekinian. Ia rela menerima paling akhir sebuah kesuksesan.

Pemimpin mendengarkan keluhan rekan kerja. Setiap orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Maka penting bagi pemimpin untuk menjadi pendengar. Dengan mendengar setidaknya mampu mengurangi beban keluhan rekan. Walaupun belum mampu memberikan solusi terhadap keluhan. Pemimpin tidak menambahi beban bagi rekan kerja. Menjadi pendengar yang baik cukup pada awalnya. Bantulah dengan ketulusan setelahnya.

Saat berada di depan ia rela meneladankan hal baik yang dianggap remeh. Dalam sebuah praktik baik kepala sekolah pada Modul Induksi Sekolah Baru (2014)). Kepala sekolah yang baik itu tidak menyuruh memungut sampah kepada yang lain, tetapi memungut sendiri. Hal yang sangat sederhana dalam peneladanan. Syaratnya adalah bukan untuk pencitraan. Itu adalah keteledanan yang seyogianya dibiasakan.

Seperti sang burung Enggang pemimpin meninggalkan jejak kebaikan. Keluaran dari sebuah kepemimpinan adalah kemanfaatan yang lebih luas. Pemimpin terbaik menebarkan manfaat lebih banyak pada yang lain. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 16/3/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *