Oleh: Moh. Anis Romzi

Ini tentang kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Ia nahkoda perjalanan satuan pendidikan. Pada pundaknya ada tanggung jawab maju, mundurnya institusi pendidikan. Pemimpin pendidikan harus mampu membuat peta jalan ke arah cita-cita satuan pendidikan. Untuk mengarahkan jalan menuju kemajuan pendidikan, penting bagi kepala sekolah mengenal, memahami dan mempraktikkan piranti-piranti kemajuan pendidikan. Dalam hal ini kemajuan pendidikan saya menyebutnya dengan mutu.

Kepala sekolah sebagai pemimpin perlu mengetahui piranti-piranti untuk mencapai mutu total terpadu. Sallis (2010) memperkenalkan mutu, sinonim dengan lingkaran mutu. Lingkaran mutu merupakan ciri penting dari metode kontrol mutu terpadu (TQC). Filosofi TQC Jepang sebenarnya merupakan perpaduan antara ide-ide kontrol proses statistik Deming dengan lingkaran mutu. Setsuo Mito dalam bukunya The Honda Book of Management mengatakan:” aktivitas perkumpulan TQC dan QC telah terbukti efektif mengangkat moral pekerja dan membawa peningkatan kualitatif dalam manajemen kapanpun dan di manapun ia dipraktikkan”.

Lingkaran mutu dalam pendidikan diarahkan utamanya pada pengalaman belajar peserta didik.  Di mana dalam mewujudkan pengalaman peserta didik harus didukung beberapa piranti yang saling terkait sebagai sebuah siklus. Piranti-piranti itu antara lain; Kepemimpinan, strategi, sistem, alat-alat mutu, evaluasi, motivasi staff, dan tim-tim kerja. Kaoru Ishikawa seorang penulis terkemuka Jepang tentang mutu, memandang lingkaran mutu sebagai dasar proses peningkatan mutu.

Lingkaran mutu menurut Ishikawa( Sallis:2010) bertujuan untuk:

  1. Memberi kontribusi pada peningkatan dan pengembangan perusahaan. Saya menambahkan dengan satuan pendidikan.
  2. Menghormati kemanusiaan dan membangun sebuah kebahagiaan yang layak serta wilayah kerja yang bermanfaat.
  3. Melatih kemampuan manusia secara maksimal, dan mengurangi kemungkinan yang tidak terbatas.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki kerelaan dalam upaya memajukan pendidikan di institusinya. Berbicara tentang lingkaran mutu seperti yang diungkapkan Sallis di atas berdasar pada voluntarisme. Kerelaan dari upaya kepala sekolah, pendidik, dan staf administrasi. Ini bukan tentang tim pembuat kurikulum misalnya. Namun ditekankan pada aneka usaha untuk mendukung pengalaman belajar peserta didik yang bervariasi dan berkualitas.

Bagian tidak terpisahkan dalam kepemimpinan pendidikan. Jika pemimpin, pendidik, dan staf berorientasi sama pada kemajuan pendidikan, mereka tidak akan pernah berhenti belajar. Semua fokus akan diarahkan pada pengalaman belajar peserta didik. Saat ada pemahaman yang sama daya yang dihasilkan akan semakin besar. Ingat kemajuan pendidikan adalah hasil kerja tim.

Catan akhir dari Tim Atkinson (Sallis:2010) yang menulis tentang eksperimen terhadap lingkaran mutu dalam pendidikan tinggi.  Dia menutup akhir penelitiannya dengan kalimat:”Lingkaran mutu memang bukan obat mujarab, tapi ia mampu memberikan hasil yang memuaskan menyangkut keterlibatan, moral serta identifikasi staf dalam tujuan organisasi. Memperkenalkan lingkaran mutu akan menghasilkan tingkat kesuksesan yang bervariasi, bukan kerugian.”

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 14/3/2021 Bahan bacaan: Sallis, Edward, Total Quality Management in Education, Ircisod, Yogyakarta, 2010

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *