Oleh: Moh. Anis Romzi

Sebagai sebuah produk layanan jasa, pendidikan juga layak untuk dipasarkan. Sebuah produk tidak akan diketahui khalayak apabila dipublikasikan. Hari ini ragam media memudahkan untuk memasarkan produk pada berbagai jenis platform. Agar lebih tepat sasaran pemasaran pendidikan perlu dikelola agar berhasil maksimal. Pemasaran terbaik adalah praktik baik dan prestasi satuan pendidikan.

Kepala sekolah sebagai pemimpin mengendalikan pemasaran produk pada institusi yang dipimpinnya. Praktik ataupun hasil baik satuan pendidikan harus dikelola sebagai media pemasaran. Keduanya adalah bahan mentah yang harus ada. Kompetensi manajerial kepala sekolah berperan besar dalam pengelolaan pemasaran ini. Untuk melaksanakan pemasaran kepala sekolah perlu membentuk tim. Arahan dari Fisk (2007) kepala sekolah dapat membentuk Chief Marketing Officer (CMO).

Fisk (2007) menyatakan bahwa untuk memasarkan sebuah produk perlu membentuk Chief Marketing Officer (CMO). Seiring dengan pemasaran yang meningkat pada fungsi dan pola pikir bisnis, peran marketing leader juga naik dan melintas ke bawah (hirarkis). Ini memerlukan fokus lebih besar, pengaruh dan keahlian kolaborasi yang lebih kuat dari pada sebelumnya, dan pengakuan atas ‘kekuatan’ yang dapat ditingkatkan oleh para pemasar.

Lebih lanjut masih menurut Fisk, CMO fungsional perlu mengaplikasikan kepemimpinan dan bakat manajemennya untuk:

  1. Orang dan tim. Pemasar kreatif jarang memimpin suatu komunitas yang lembut dan penurut. Energi, kreativitas, karisma, dan ego mereka harus disalurkan dan dihubungkan dalam sebuah kekuatan yang sangat fokus.
  2. Kerja sama internal dan eksternal. Tim pemasar pendidikan wajib mampu membaca peluang dari dalam dan luar institusi. Kemampuan ini berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman pemasar. Keduanya berpotensi sama dalam membawa kemajuan sebuah institusi. Baik dari aspek komersil dan non-komersil.
  3. Perencanaan dan anggaran. Ini meliputi kompetensi manajerial dasar. Perencanaan yang baik memungkinkan keberhasilan yang baik pula. Prinsip efektif dan efisien dalam penggunaan anggaran adalah bagian penting. Dalam perencanaan harus menetapkan target yang hendak dicapai. Ini yang akan menjadi pemicu semangat tim pemasar pendidikan.
  4. Prioritas dan integrasi. Dalam pemasaran tim perlu diarahkan kepada target dan tujuan yang jelas. Ini menjadi pilihan utama untuk apa jasa layanan pendidikan di publikasikan.
  5. Proses dan efektif. Perlu dipahami bahwa pemasaran pendidikan beroreintasi pada waktu. Ada tenggat waktu dan biaya yang harus dikalkulasikan.
  6. Bakat dan sumber daya. Pemilihan tim pemasar pendidikan didasarkan atas ketersediaan sumber daya manusia dan bakat. Sekalipun ada pandangan bahwa pemasaran dapat dipelajari, kepala sekolah perlu memandang bakat personal dalam satuan pendidikan.
  7. Kinerja dan laporan. Bentuk pertanggung jawaban dan administrasi harus diukur. Ini menjadi bahan evaluasi program pemasaran selanjutnya.

Pendidikan terlepas dari nilai idealnya adalah non-komersil. Namun pemasaran pendidikan bukan hanya sebatas untung rugi. Sebuah nilai positif pendidikan harus mampu menjangkau ‘pelanggan’. Di situlah peran pemasar pendidikan berkiprah. Manajemen pemasaran memudahkan langkah dalam aksi publikasi pendidikan. Pemasaran yang jenius mampu menarik pelanggan pada apa yang dibutuhkan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 9/3/2021 Bahan bacaan: Fisk, Peter, Marketing Genius, Elex Media Computindo, Jakarta, 2007

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *