Oleh: Moh. Anis Romzi

Jika ada seorang kepala sekolah ditanya berapa jumlah pendidik, siswa, anggaran yang diterima? Kemudian ia menjawab tidak tahu. Maka ini akan menjadi masalah besar. Seorang yang paling bertanggung jawab atas sekolah tidak mengenali potensi dan kelemahannya. Pertanyaan di atas adalah bahan masukan yang harus dikelola oleh kepala sekolah. Saat tidak mengenali potensi akan menjadi kesulitan untuk mengembangkan dan memberdayakan institusi yang dipimpinnya.

Pendidikan adalah upaya mewujudkan cinta negara pada rakyatnya. Kepala sekolah, pendidik, dan staf administrasi adalah penyempurna cinta. Pengabdian, kinerja, dan pelaksanaan amanat pekerjaan menjadi pertaruhan. Hari ini para pelaku pendidikan sama nilainya dengan para pejuang kemedekaan saat mendirikan bangsa ini. Maka para pekerja pendidikan yang abai pada tanggung jawab laksana mundur dalam medan perang.

Pendidik adalah pengobat jiwa dahaga sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Mereka adalah siapa saja yang mengabdikan diri pada transformasi nilai pendidikan. Baik untuk mereka yang digaji negara ataupun memang pengabdi pendidikan sejati. Negara percaya bahwa dengan pendidikan adalah salah satu upaya untuk mencapai kemajuan. Sikap profesionalitas terhadap pendidikan harus terus dipupuk dan ditambah kembangkan. Kepala sekolah, pendidik, dan staf administrasi seyogianya mampu menjadi oase di padang tandus. Mereka harus terus berupaya memenuhi harapan generasi bangsa untuk berdaya.

Anggaran adalah bahan bakar untuk menyalakan pendidikan. Kepala sekolah wajib mengetahui anggaran yang ada di satuan pendidikannya. Sebagai pemimpin ia wajib memegang prinsip-prinsip pengelolaan anggaran. Ada transparansi, akuntabilitas, efektif dan efisien. Prinsip-prinsip ini bukan semata jargon belaka. Ketepatan dalam mengelola anggaran tanda majunya satuan pendidikan.

Para peserta didik laksana pasien yang menunggu sentuhan lembut para pendidik. Ki Hajar Dewantara mengistilahkan pendidikan dengan taman. Pendidikan adalah sentuhan keindahan. Taman adalah sebuah analogi untuk menyejukkan jiwa dari kegersangan. Pendidik semestinya mampu menghadirkan keindahan pada taman-taman pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kehadiran peserta didik di sekolah adalah bagian untuk mengobati akan kebutuhan jiwa.

Kepala sekolah mengelola keduanya, sumber daya manusia, dan sarana. Semuanya diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang dipimpinnya.

Pendidik dan kepala sekolah hendaknya mencintai pekerjaannya. Mereka menggalang cinta-cinta kecil pada perjuangan bangsa untuk pendidikan. Dari rasa cinta inilah akan rela melakukan pengorbanan. Tidak sekadar mencari penghidupan dalam dunia pendidikan. Jangan hianati cinta negara yang telah menghadiahkan pendidikan untuk rakyatnya. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 8/3/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *