Oleh: Moh. Anis Romzi

Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak yang mulia di lingkungannya

Puncak dari kompetensi kepribadian kepala sekolah adalah akhlak yang mulia. Ia ditandai dengan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lebih lanjut perilaku keberagamaannya akan ditunjukkan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan. Namun tetap mengedepankan toleransi sebagai sebuah keniscayaan bangsa Indonesia yang majemuk. Salah satu sumber norma akhlak mulia adalah ajaran agama yang dianut sang kepala sekolah.

Kerja satuan pendidikan adalah kerja tim. Itu mutlak. Bahwa akhlak mulia harus diajarkan, dikembangkan,  dan diteladankan oleh seluruh warga satuan pendidikan. Elok seorang kepala sekolah menjadi pelopor mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia di institusi yang dipimpinnya. Namun akan lebih ringan apabila, pendidik, staf administrasi juga peduli dan ikut ambil bagian dalam pembinaan dan penerapan akhlak mulia.

Kepala sekolah bersama warga satuan pendidikan membina dan mengamalkan akhlak mulia. Ini adalah misi besar satuan pendidikan. Akhlak mulia adalah bagian integral dalam pendidikan. Ia tidak semata tercakup dalam materi teori, melainkan praktik pembiasaan perilaku. Akhlak mulia tidak cukup hanya diajarkan di ruang-ruang kelas. Akhlak mulia terpadu pada seluruh aktivitas pembelajaran.

Capaian dari pembelajaran adalah terpenuhinya standar kompetensi lulusan sebagai keluaran. Ada dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipenuhi. Untuk kompetensi sikap diharapkan lulusan SMP mencerminkan perilaku orang yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam interaksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulannya.(SKL peserta didik SMP untuk kompetensi sikap)

Karakter adalah fondasi pendidikan untuk bangsa yang mandiri. Ini adalah modal dasar untuk penguatan sumber daya manusia. Karakter yang positif dan kuat akan mampu membawa manusia sebuah bangsa berkolaborasi, bahkan berkompetisi dengan bangsa manapun. Akhlak mulia adalah karakter dasar untuk diajarkan, diteladankan, dan dibiasakan dalam dunia pendidikan. Kepala sekolah diharapkan mampu memulainya.

Budaya dan tradisi mengayakan khazanah kebangsaan. Budaya sekolah adalah nilai yang dianggap penting oleh satuan pendidikan. Keduanya, tradisi dan budaya sekolah tidak terlepas dari budaya masyarakat sekitarnya. Maka penting bagi kepala sekolah dan pendidik menyarikan nilai positif dan memisahkan dengan nilai negatif untuk kepentingan pembelajaran dan perkembangan peserta didik di masa yang akan datang.

Ketulusan dan empati kepala sekolah mengarahkan institusi kepada tujuan. Ia akan rela berkorban untuk memberikan yang terbaik. Bukan untuk siapa sejatinya pengorbanan seorang pemimpin, kecuali akan kembali kepada diri, rekan kerja, institusi, masyarakat, bangsa dan negara. Ketulusan harus dibangun dalam waktu yang panjang. Merawat ketulusan dan empati bukan tanpa godaan. Jika hanya sesaat maka itu hanyalah sebuah pencitraan. Itu akan segera berlalu dan hilang. Ia akan kembali ke asal jika sekadar pencitraan.

Kepala sekolah teladan diri dan warga satuan pendidikan. Ia dapat berposisi di segala lini. Mulai dari depan, tengah, maupun belakang. Ini seperti filosofi Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Ing ngarep sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut Wuri handayani. Keteladanan saat di depan adalah keharusan bagi seorang pemimpin. Kepala sekolah yang memiliki kepribadian berakhlak mulia akan membawa perubahan ke arah kebaikan pada satuan pendidikan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 04/03/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *