Oleh: Moh. Anis Romzi

Menjadi orang dewasa bukan orang ‘kantoran’. Adalah sebuah dialog antara Katsuto Imai dengan Yukio Otsuki yang menjadi manajernya. Imai merasa heran sejak bergabung di perusahaan yang dipimpin Otsuki tidak pernah mengadakan pelatihan dan pengarahan secara mendetail. Namun setelah melihat tindakan kegiatan sehari-hari oleh Otsuki selaku manajernya, perlahan-lahan ia mulai menyadari bahwa itu didasarkan pada teori tertentu.

Imai : “Saya sudah bergabung di Cybozu selama dua bulan, tetapi merasa kebingungan. Karena hampir tidak ada pengarahan yang diberikan kepada saya, dibandingkan dengan perusahaan saya sebelumnya. Waktu pelatihan di departemen juga mereka mengatakan,” ini sudah direkam, silakan ambil yang kamu suka.” , dan ketika konsultasi masalah perencanaan, saya tidak diarahkan secara mendetail.”

Otsuki:” Wah, ternyata anda merasakan seperti itu. Ya, Tetapi apa sebenarnya apa hal yang membuat kami berbeda dengan perusahaan anda sebelumnya?”

Imai: “ Di tempat kerja sebelumnya, manajer memiliki standar baik-buruknya suatu pekerjaan dengan jelas, sehingga pemeriksaan atau arahan pekerjaan diberikan secara mendetail berdasarkan standar tersebut. Saya pribadi juga merasa bahwa “saya sedang dididik”.

Otsuki:” begitu, ya. Memang di Cybozu secara keseluruhan yang diutamakan adalah “kemandirian”. Sehingga kami tidak memikirkan untuk “mendidik”. Manajer memang secara sengaja tidak memberikan pengarahan secara mendetail agar anggotanya bergerak secara independen. Karena saya ingin anggota menjadi orang yang ‘dewasa’ bukannya menjadi ‘orang kantoran’. ”

Terlalu berlebihan jika dikatakan ‘mendidik’. Manajer bukanlah orang yang sempurna. Ia dapat bersalah kapan saja. Berkenaan dengan itu ‘wajar’ seorang pemimpin menunjukkan sebuah kesalahan dalam institusi. Namun ingat bahwa tidak semua kesalahan itu diizinkan.

Tugas manajer menjaga semangat agar tetap menyala. Otsuki mengistilahkan dengan menjaga api unggun tetap menyala. Bahwa kemandirian harus didukung dengan semangat. Manajer tetap memastikan bahwa semua berjalan pada relnya masing-masing. Semangat akan tumbuh dengan dukungan, bukan cercaan.

Pemimpin mendelegasikan wewenang dan percaya. Setiap anggota seyogianya merasa bagian dari tim yang utuh. Mereka berkontribusi sama terhadap maju dan mundurnya organisasi. Pemimpin mendelegasikan dengan sepenuhnya percaya pada rekan kerja.

Kepemimpinan mengarahkan kepada kemandirian anggota institusi. Otsuki menyatakan bahwa,” hal-hal yang dianggap penting oleh Cybozu seperti ‘keadilan’, memperhatikan keanekaragaman individu”, dan “ kemandirian dan diskusi” merupakan keterampilan yang mutlak dibutuhkan dalam bersikap sebagai orang dewasa.”

Sukses rekan kerja adalah kebahagiaan pemimpin. Ini adalah bagian dari tugas utama seorang pemimpin. Sukses institusi adalah sukses tim yang pada akhirnya menuju sukses individu. Mereka telah menjadi pribadi mandiri. Inilah penanda kesuksesan seorang pemimpin.

Bangun kepercayaan bersama secara terbuka. Gagasan brilliant muncul di saat-saat tidak terduga. Pemimpin tidak mendikte, melainkan melepas tim untuk memutuskan bertindak sendiri demi kemajuan organisasi.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 19/2/2021 Bahan bacaan: blog.Kintone.id, Apakah Bapak Manajer tidak Berniat Mendidik Saya?

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *