Oleh: Moh. Anis Romzi

Kehidupan dalam beragama memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dengan Ikhlas. Termasuk di dalamnya berupa tugas kepemimpinan. Saat sudah menjadi pemimpin akan ada dorongan-dorongan ingin banyak hal. Saat berangkat menunaikan amanat penting untuk menanamkan niat. Hanya kepada-Nya niat tertinggi pantas disandarkan. Pemimpin wajib meletakkan ini sebagai fondasi dalam bekerja.

Tidak ikhlas harganya sangat mahal. Permintaannya menjadi bermacam-macam lagi sulit dipenuhi. Saat menjadi pemimpin yang baik semisal, ada mengundang rasa ingin diakui, dihargai, atau selalu diterima pendapatnya. Ini akan dapat merusak sistem sosial. Saat sudah berada pada kesalehan ritual, Terkadang tumbuh rasa merendahkan yang lain. Ini tidak positif. Maka ikhlas dalam setiap pengabdian kepemimpinan wajib hukumnya. Ini akan meringankan, karena penilaian makhluk berlalu.

Setiap usaha dan pekerjaan dipersembahkan untuk-Nya. Dampaknya apapun yang terjadi tetap akan berkarya untuk institusi saat tidak lagi menjadi pemimpin. Seorang pemimpin yang memiliki dasar keikhlasan akan senantiasa mengusahakan yang terbaik. Pengharapan reda-Nya adalah yang tertinggi. Dia menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan, pun untuk seorang pemimpin.

Saatnya kembali untuk menyegarkan niat. Ia adalah bab pertama dan penting untuk memulai apapun. Seorang pemimpin harus menyandarkan kebaikan dalam melaksanakan kepemimpinan. Setiap orang, termasuk  pemimpin akan ditanya perihal untuk siapa ia bekerja. Bersandar kepada manusia acap kali membuat kecewa. Awali dengan niat yang lurus.

Sebuah kebaikan harus diikuti kebaikan yang lain. Satu istighfar harus diikuti istigfar yang lain. Saat pemimpin sudah berada di jalan yang benar, belumlah cukup. Ada mental lain yang harus dijaga dan ditumbuhkan. Pujian, cercaan, ataupun penghargaan, ketika semuanya dijadikan tujuan, maka benarnya pemimpin masih menjadi pertanyaan.

Ikhlas dalam kepemimpinan akan menenangkan. Ia hanya akan menyandarkan segala usaha hanya kepada-Nya. Pemimpin tetap akan berlaku sama baik saat menjabat maupun tidak. Tetap akan berkontribusi positif pada institusi. Jangan terbalik, bersungguh-sungguh saat menjabat, menjadi malas dan mengganggu saat jabatan telah selesai. Ikhlas itu rata.

Ketulusan dalam pengabdian akan mengabaikan hal negatif di sekelilingnya. Itu akan dapat mengantar pemimpin ikhlas pada penerimaan. Kepemimpinan adalah kerja bersama. Sangat mungkin ada karakter yang berbeda-beda dalam tim. Pemimpin ikhlas tidak akan menganggap itu menjadi beban. Semua akan dianggap sebagai keberkahan. Kepala sekolah, dosen, guru atau profesi apa saja akan berhubungan dengan kepemimpinan. Pengabdian terbaik pada profesi adalah bagian dari keikhlasan. Bagaimanapun kondisinya.

Pemimpin ikhlas setia mengabdi di mana saja dan kapan saja. Ia tidak memandang tempat dan waktu. Semua akan mengarah menuju pengabdian kepada-Nya.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 19/2/2021

Bahan tulisan: ceramah KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha), Santri Gayeng.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *