Oleh: Moh. Anis Romzi

Ini adalah salah satu praktik baik di SMPN 4 Katingan Kuala. Sebuah upaya sekolah untuk mewujudkan sekolah berwawasan sejarah. Oleh-oleh dari guru IPS Saiful Rohman dari kegiatan seminar nasional di Pangkal Pinang. Gagasan itu dibawa ke forum diskusi guru. Pada akhirnya diputuskan lomba kelas berwawasan sejarah. Tema yang diambil adalah pahlawan Kalimantan Tengah. Ada enam pahlawan yang diambil sebagai nama kelas. Kelas H. Asan, G. Obos, Tjilik Riwut, HM. Arsyad, dan Christian Simbar.

Salah satu data yang ditemukan adalah sosok Pahlawan Kalimantan Tengah, HM. Arsyad. Ia adalah pahlawan perintis kemerdekaan. Ia dilahirkan di kampung Maliku Bati-bati, Pelaihari, Kalimantan Selatan pada tanggal 7 Mei 1874. Dia adalah anak ke-2 dari tujuh bersaudara dari pasangan H. Dukarim dan Siti Jaleha. H. Dukarim adalah anak dari saudagar Bugis bernama Kusin dan Siti Jaleha adalah anak dari Kepala Suku Dayak Hengang Sabung. HM. Arsyad tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Pada tahun 1920 mendapat kepercayaan dari pimpinan Partai Sarikat Islam (PSI) HOS. Tjokro Aminoto dan H. Agus Salim untuk memimpin PSII Zuider en Oosterafdeling Van Borneo. Pada tahun 1926 HM. Arsyad mendirikan lembaga pendidikan pribumi pertama dengan nama Sekolah Sarikat Islam di Samuda. HM. Arsyad satu dari sedikit tokoh yang terlibat langsung dalam merintis, merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Riwayat perjuangan HM. Arsyad dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Tahun 1931 ditangkap dan diinterogasi oleh intelejen NICA akibat adanya laporan ‘spion’ namun tidak ditahan. Tahun 1934 diajak berunding oleh Controleur NICA Sampit di atas kapal ‘IRMA’ dengan maksud untuk menghentikan kegiatan politik, dan sebagai gantinya NICA akan membangun pabrik pengasapan karet. Tahun 1942 seluruh kegiatan politik dan pendidikan HM. Arsyad dibekukan oleh pemerintah pendudukan Jepang. Pada Januari 1946 HM. Arsyad ditangkap dan ‘diinterneering’ di Banjarmasin dan dibebaskan pada November 1946. Pada bulan Maret 1947 kembali ditangkap dan diinterneering di Banjarmasin karena dikhawatirkan masih melakukan kegiatan politik dan dibebaskan pada bulan April 1947.

Sejarah yang lain tentang HM. Arsyad, peristiwa apel proklamasi sekaligus mendirikan darurat RI wilayah Samuda yang dipimpin oleh Muhammad Baidawi Udan pada 08 Oktober 1945. Pembentukan batalyon BPRI atau TKR pertama Badrun Maslan pada tanggal 11 Oktober dengan pembentukan kompi-kompi TKR di Samuda, Kuala Pembuang, Mendawai, Pegatan, Pembuang Hulu, Tumbang Samba, dan Kasongan untuk mengepung pemerintah NICA Sampit. Pada tanggal 24-28 Oktober 1945 delegasi pemerintah Darurat RI Samuda melakukan perundingan dengan NICA untuk menyerahkan Sampit secara damai. Peristiwa perebutan Sampit ‘ Coup de etat’ Sampit tak berdarah 1945. Peristiwa serangan umum Banjarmasin 15 Desember 1945. Peristiwa serangan 7 Januari 1946 di Samuda oleh tentara KNIL dari Banjarmasin di mana dalam peristiwa tersebut telah menyebabkan seorang pejuang Kurdi Puas gugur dan tertangkapnya sejumlah pejuang termasuk HM. Arsyad. Bahkan akibat kerasnya siksaan KNIL dua orang pejuang yakni H. Umar Hasyim dan M. Helmi Aspar meninggal di penjara Sampit.

Kata-kata bijak HM. Arsyad yang dapat dijadikan teladan generasi muda. “ kaki kananku ada di masjid, sedangkan kaki kiriku di penjara”. “ Aku tiada meninggalkan harta kekayaan buat kalian, aku hanya mewariskan sebuah keyakinan iman yang selama ini kupegang teguh melebihkan keteguhanku dalam menentang bangsa penjajah.”

Nilai-nilai kepemimpinan yang dapat diambil dari HM. Arsyad. Dia adalah pendakwah, pelopor pendidikan, kepanduan dan perkoperasian serta politikus yang handal bertaraf nasional, dan patriot yang sangat gigih dan tak pernah menyerah hingga usia 70 tahun.

Bahwa dalam kehidupan penting untuk melakukan hal yang bermanfaat. Itu akan menjadi sejarah kehidupan. Belajar dari HM. Arsyad bahwa ada keyakinan yang kuat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Ini merupakan informasi penting untuk generasi muda bangsa ini. Di saat nilai-nilai kepahlawanan dan kepemimpinan mulai langka.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng, 17/2/2021 Bahan bacaan: Majalah dinding Kelas 9a SMPN 4 Katingan Kuala, HM. Arsyad, 2019.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *