Oleh: Moh. Anis Romzi

Aneka permasalahan pendidikan datang silih berganti. Begitupun persoalan pendidikan. Kepala sekolah dan satuan pendidikan adalah dua elemen utama yang terdampak dari masalah tersebut. Pendidikan dalam perjalanan terus mengalami perubahan. Antisipasi dan kesiapan terhadap segala perubahan memerlukan kematangan Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab satuan pendidikan.

Ketidakpastian datang tanpa aba-aba. Ia seperti fenomena alam yang tidak terbaca. Namun kesiapsiagaan adalah keharusan. Kepala sekolah harus menyiapkan diri atas berbagai kemungkinan. Tidak satupun yang dapat menggaransi sebuah kepastian. Belajar tiada henti adalah bentuk kesiapsiagaan. Masa depan hanya milik bagi mereka yang terus belajar.

Kepala sekolah harus senantiasa belajar. Ide baru perlu terus dimunculkan. Inovasi saat ini adalah kebutuhan bagi satuan pendidikan. Kepala sekolah harus bersiap dalam segala posisi saat inovasi harus dimunculkan. Itu dapat berasal dari siapa, mana, dan kapan saja. Inovasi menjadikan sebuah institusi terus hidup dalam ketidakpastian. Inovasi berbeda dengan sensasi ya?

Komunikasi dan suasana yang sehat dalam lingkungan sekolah. Ini adalah kunci keberhasilan dalam sebuah tim. Kepala sekolah harus mampu menerjemahkan visi dan misinya ke dalam bahasa yang jelas bagi tim yang dipimpinnya. Dalam penerapan komunikasi prinsip keadilan harus ditegakkan. Ini bagian dari sikap pembangun kepercayaan. Adil tidak berarti harus sama, melainkan menempatkan sebuah perkara tepat pada tempatnya. Ingat komunikasi yang sehat kunci kepercayaan bagi pemimpin dan tim.

Interaksi positif antara Kepala sekolah, pendidik, orang tua, masyarakat harmonis. Kepala sekolah pembawa perubahan adalah jembatan dari seluruh elemen pendidikan di sekitarnya. Salah satu kompetensi dari tiga kompetensi utama yakni kewirausahaan memberikan peluang. Sinergi positif yang terbangun dapat mempercepat tujuan pendidikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan adalah tanggung jawab semuanya. Bukan hanya sekolah dan pendidiknya. Kepala sekolah harus mampu mengorganisir aneka potensi untuk keberhasilan pendidikan. Interaksi positif dapat menjadi pintu masuk.

Pemahaman dan kepatuhan pada nilai bersama penting. Oleh karenanya nilai ini harus senantiasa digaungkan pada warga sekolah. Nilai yang telah tertanam dalam ranah kognitif warga sekolah akan menjadi landasan gerak institusi. Nilai selayaknya dihafal dalam memori ingatan. Adalah sebuah motivasi keberhasilan diucapkan seratus kali sebelum memulai pekerjaan. Sukses 100x. Pun begitu pula dengan nilai satuan pendidikan.

Sekolah seyogianya adalah tempat belajar-belajar. Kepala sekolah pembelajar mengorganisir komunitas pembelajaran profesional. Sekolah adalah laboratorium mini masyarakat. Di tangan kepala sekolah pembawa perubahan adalah peluang untuk memecahkan persoalan kemasyarakatan.  Bila ini berhasil maka tujuan pendidikan sudah dekat.

Hasil dari kepemimpinan kepala sekolah salah satunya adalah budaya. Ia berisi cipta, rasa, dan karsa warga sekolah yang ada di dalamnya. Pun pula tradisi dan norma yang terbangun di dalamnya. Ada sentuhan kepala sekolah yang membuat budaya yang dipimpinnya berbeda. Pasti budaya dalam setiap satuan pendidikan, walaupun pelatihan dan usia sama misalnya. Ia adalah rangkaian panjang sebuah proses perjalanan. Ada seni kepemimpinan dalam Kepala Sekolah pembawa perubahan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng, 8/2/2021 Bahan bacaan: Prosedur Operasional Standar Penyelenggara Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk Kepala Sekolah, PPTK-BPSDM-PK Kemdikbud, 2014

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *