Oleh: Naufal Al Zahra


Keadaan dunia yang kita lihat hari ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh pelbagai peristiwa masa lampau. Salah satu dari sekian banyak peristiwa yang memengaruhi kondisi umat manusia dan geopolitik hari ini yaitu rentetan penyebaran Islam yang masif terjadi pada abad ke-7 M.

Disadari atau tidak, penyebaran Islam yang bermula pada abad ke-7 sangat memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, dimulai dari budaya, politik, hukum hingga agama. Sehingga, dengan tersebarnya ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia ini pada gilirannya memunculkan sebuah identitas dan peradaban baru dalam sejarah umat manusia.

Salah satu keistimewaan penyebaran Islam yang membuat beberapa ahli terheran-heran yaitu cepatnya persebaran agama ini sepeninggal Nabi Muhammad ﷺ (570-632). Beberapa ahli dari kalangan Muslim maupun Barat cukup banyak membuat analisis kunci keberhasilan generasi awal umat Muslim dalam menyebarkan Islam.

Penulis cukup tertarik pada analisis yang dikemukakan oleh salah seorang ahli sejarah Barat bernama Hugh Kennedy. Ia merupakan sejarawan dari Britania Raya yang mendalami bidang kajian sejarah serta kebudayaan regional Asia dan Afrika. Analisis ini ia kemukakan dalam salah satu karyanya yang berjudul The Great Arab Conquest yang kini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Penaklukan Muslim yang Mengubah Dunia.

Penyebaran Islam yang dimulai pada abad ke-7 tidak dapat dipisahkan dari pendukung utama “proyek” ini yaitu bangsa Arab. Bangsa Arab yang sebelum hadirnya Islam dikenal tak lebih sebagai bangsa pedagang dan penyair secara mengejutkan berubah ketika Islam datang kepada mereka. Pada masa-masa itu, hampir tidak ada sekat yang membatasi antara terminologi bangsa Arab dengan terminologi Muslim. Batas antara keduanya menjadi kabur pada abad ke-7. Hal ini menjadi sebuah kewajaran karena mayoritas generasi awal Muslim terdiri dari orang-orang Arab.

Penyebaran Islam fase awal secara masif dimulai pada era Khulafaur Rasyidin (632-661) hingga era Bani Umayyah (661-750). Meski pada beberapa masa mengalami stagnansi diakibatkan konflik internal Kaum Muslimin. Namun, dalam waktu yang tidak relatif lama, usaha penyebaran Islam dapat kembali digencarkan.

Secara umum, pola penyebaran Islam yang terjadi pada abad ke-7 dilakukan melalui pendekatan militeristik. Walaupun, melalui pendekatan militeristik, Hugh Kennedy mengakui penyebaran Islam pada saat itu membuahkan hasil yang luar biasa dan dampaknya terasa hingga hari ini. Maka, daripada itu penulis mencoba untuk mengelaborasikan pokok analisis Hugh Kennedy berkenaan kunci keberhasilan penyebaran Islam yang terjadi pada abad ke-7 yang cukup masif dilakukan oleh generasi awal umat Muslim.

Pertama, menurut Hugh Kennedy, generasi awal Muslim “tertolong” oleh “peluang cantik”.  Pada kurun waktu abad ke-6 hingga ke-7, internal Bizantium dan Persia mengalami kegoncangan. Semasa Nabi ﷺ masih hidup, dua imperium ini terlibat konfrontasi yang hebat, kemenangan dan kekalahan silih berganti di antara mereka. Di samping itu, terjadi penyusutan populasi manusia pada abad ke-6 akibat pandemi yang menjalar ke berbagai negeri. Kondisi itu memudahkan Kaum Muslimin untuk menyebarkan Islam ke wilayah dua imperium besar tersebut.

Kedua, cepatnya mobilitas pasukan Muslim yang didukung oleh resistensi fisik mereka. Sebagai komunitas yang terbiasa hidup dalam kondisi yang serba sulit. Orang-orang Arab yang menjadi pendukung utama penyebaran Islam memiliki daya tahan fisik yang luar biasa. Tatkala diterpa cuaca panas, mereka bisa saja memakan segala hal yang ada di sekitarnya seperti binatang yang mereka tunggangi sendiri seperti unta dan kuda. Sementara, pada saat diterjang cuaca dingin, mereka masih mampu bertahan dan dapat beristirahat sambil mengenakan mantelnya yang hangat. Selain itu, mereka juga mampu menjadi navigator di saat gelapnya malam dengan cara melihat arah bintang di angkasa. Sehingga, di saat siang atau pun malam mereka dapat melakukan perjalanan menuju wilayah yang mereka tuju.

Ketiga, mutu kepemimpinan pasukan Muslim yang tinggi. Figur-figur seperti Abu Ubaidah, Khalid bin Walid “Sang Pedang Allah”, Amr bin Ash “Sang Penakluk Mesir”, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair “Sang Penakluk Iberia”, Muhammad bin Qasim Sang “Penakluk Sindhu” mereka semua adalah pemimpin yang berintegritas tinggi dan berkomitmen terhadap pucuk pimpinan tertinggi negara (khalifah). Hampir tak pernah didengar rencana kudeta dari pemimpin-pemimpin Muslim meskipun beberapa di antaranya ada yang diperlakukan tak baik oleh khalifah setelah ekspedisi penaklukan selesai. Pemimpin pasukan Muslim benar-benar mewakafkan hidup untuk kejayaan agamanya.

Keempat, tidak ada intimidasi yang dilakukan pasukan Muslim kepada orang-orang non-Islam walaupun mereka menyebarkan Islam dengan jalan penaklukan. Namun, mereka sama sekali tidak menakut-nakuti dan membebani umat non-Islam. Pasukan Muslim tidak menuntut mereka untuk menjadi seorang Muslim. Sebaliknya, pasukan Muslim memberikan kebebasan beraktivitas dan beribadah kepada umat non-Islam asalkan mereka menunaikan kewajibannya dengan membayar jizyah.

Kelima, motivasi spiritual generasi awal umat Muslim. Sebagai kelompok yang tercerahkan oleh Islam, doktrin Al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ menancap kuat dalam jiwa mereka. Tak ada yang bisa menandingi kebesaran hati mereka dalam menyebarkan Islam. Dengan ketulusan dan keberanian jiwa, mereka berlomba-lomba mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk Islam. Sebagian besar dari mereka tak terlena oleh hal-hal duniawi. Contoh ini nampak pada kisah delegasi pasukan Islam kepada Kerajaan Persia.

Keenam, kedatangan Islam sama dengan pembebasan terhadap tatanan sosial kuno yang mengekang manusia. Islam sebagai ajaran yang bervisi universal memiliki daya untuk merombak tatanan sosial yang berlaku pada masa-masa kekuasaan Bizantium dan Persia. Dahulu rakyat biasa tidak memiliki ruang sedikit pun untuk duduk di kursi elite pemerintahan atau bahkan sekadar duduk di tempat yang sama. Hal seperti ini berubah drastis ketika Islam datang, rakyat biasa yang dahulu tidak mampu menjadi seorang birokrat atau tentara. Setelah memeluk Islam mereka bisa merasakannya. Inilah salah satu kehebatan yang ditawarkan Islam pada umat non-Islam. Sehingga, banyak rakyat non-Islam yang berbondong-bondong memeluk Islam tanpa harus mengalami intimidasi.

Ketujuh, pasukan Muslim-Arab membawa kultur Arab-nya ke wilayah yang berhasil mereka taklukan. Orang-orang Arab saat itu cukup bangga dengan kedudukannya sebagai bangsa Arab pengemban risalah Islam. Meski, sifat bangga semacam ini tidak dibenarkan dalam Islam. Namun, pada praktiknya orang-orang Muslim-Arab seperti itu. Dalam kehidupan sosial saat itu, pada umumnya orang-orang yang ditaklukan akan dihargai oleh orang-orang Muslim jika mereka dapat berbahasa Arab. Sebab di beberapa wilayah, bahasa Arab menjadi lingua franca dan ada juga yang dijadikan sebagai bahasa administratif pemerintahan saat itu seperti yang terjadi pada era Bani Umayyah. Arabisasi yang kuat pada era Khulafaur Rasyidin dan Bani Umayyah pada gilirannya cukup memberi dampak hingga hari ini. Contohnya, kita lihat negara Mesir, Syria, dan Irak hari ini, sebelum Islam datang mereka bukanlah pengikut kebudayaan Arab.

Demikianlah, pokok analisis Hugh Kennedy yang kiranya dapat menjawab pertanyaan pada tajuk tulisan, kenapa Islam bisa cepat menyebar pada awal kedatangannya? Penulis sengaja mengambil analisis Hugh Kennedy sebab penulis ingin menunjukkan bahwa meski dirinya mempunyai latar belakang yang berbeda dengan umat Muslim. Namun, ia dapat dengan adil menilai kegemilangan penyebaran Islam pada masa-masa awal. Analisisnya tentang ini, semoga menjadi hikmah bagi para pembaca agar semakin bersemangat menyebarkan nilai-nilai keislaman dengan cara yang relevan dengan kondisi hari ini.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *