Oleh: Abdul Mutolib Aljabaly

Melihat realitas umat Islam secara global di era modern, muncul pertayaan kritis. Apakah Islam menjadi sebab ketertinggalan bangsa-bangsa muslim dari bangsa-bangsa Barat yang sekuler? Apakah Islam menjadi sandungan bagi kemajuan masyarakatnya? Apakah masyarakat Islam seharusnya menjadi sekuler agar bisa menyejajarkan diri dalam kemajuan dengan masyarakat Barat?

Pertanyaan-pertanyaan ini masih sangat relevan untuk dilontarkan di alam pikiran umat Islam dan sangat penting untuk dijawab agar dapat menghasilkan pencerahan bagi umat Nabi Muhammad saw ini.

Tidak salah jika dalam melihat kemajuan dan kemunduran suatu masyarakat kemudian mengarahkan pertanyaan pada agama yang diyakini oleh masyarakat tersebut. Sebagai sebuah sistem keyakinan agama menjadi kekuatan yang mengarahkan (driving) jalan dan langkah masyarak tersebut. 

Bagi generasi yang memahami sejarah paradaban Islam, tentu pertanyaan –pertanyaan itu tidak begitu merisaukan karena sejarah telah menunjukkan bahwa selama berabad – abad Islam telah menjadi pemimpin peradaban dunia dengan kemajuan dan kegemilangan masyarakatnya. Barat yang saat ini memimpin peradaban dunia, pada abad pertengan mereka adalah bangsa-bangsa terbelakang dan berada pada masa-masa kegelapan. Dari Islam Barat belajar ilmu pengetahuan dan peradaban, terutama melalui pintu masuknya Islam di Andalusia (Spanyol). 

 Namun bagi generasi Islam yang belum memahami sejarah peradaban Islam, pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa jadi sangat merisaukan. Saat ini kita tidak hidup di era keemasan Islam seperti pada masa Umayyah dan Abbasyiyah. Saat ini kita hidup di zaman kebangkitan umat dari tidurnya. Sementara Barat yang menguasai media informasi global senantiasa terjangkit sindrom Islamophobia (anti Islam) dan selalu menggambarkan Islam dan umatnya sebagai masyarakat terbelakang, penghasut perang, dan kurangnya etos ilmu.

Kemajuan yang diperoleh oleh Barat saat ini bukan sesuatu yang istimewa sehingga tidak bisa disaingi oleh dunia Islam. Nilai-nilai dan karakter positif yang dikembangkan oleh Barat adalah nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam. Islam adalah agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan. Nilai liberasi (pembebasan) dan emansipasi (persamaan derajat)  adalah ruh gerakan Islam, di samping transendensi (kesadaran ketuhanan) dan humanisasi (memanusiakan manusia). Namun nilai-nilai tersebut tidak berarti apa-apa jika umat Islam justru meninggalkan ajaran Islam sendiri dan tidak memiliki kepercayaan terhadap kekuatan ajarannya.

Itulah catatan besar Amir Syakib Arselan dalam bukunya yang berjudul Limadza Ta’akkhara Al-Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum (Mengapa Orang-orang muslim mengalami kemunduran dan orang-orang non muslim mengalami kemajuan).

Syakib Arselan menjelaskan bahwa kemunduruan umat Islam disebabkan oleh memudarnya semangat menerapkan nilai-nilai ajaran Islam di tengah umat. Secara rinci beliau menyebutkan tujuh faktor kemunduran umat Islam, yaitu: kebodohan dan kekurangan ilmu, rusaknya moral, mental pengecut dan panik, keputusasaan, lupa pada sejarah masa lalunya yang gemilang,  syubhat (perkara yang tidak jelas) yang dihembuskan oleh orang-orang bodoh dan pengecut, hilangnya Islam di antara orang-orang berpikir kaku dan orang-orang yang menentang Islam.

Umat Islam memiliki modal yang cukup untuk membangun peradaban yang gemilang. Paling tidak ada tiga modal dasar umat ini untuk menjadi umat yang hebat dan mencapai kemajuan yang gemilang seperti pada masa-masa keemasannya bahkan lebih dari itu. Tiga modal dasar tersebut yaitu; Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi kemajuan, ajaran washatiyah (moderasi) dalam Islam, dan mental khairu ummah  (umat terbaik).

Qur’anic Effect

Al-Qur’an juga dinyatakan oleh Allah sebagai pentunjuk yang paling baik. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (9)

Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar

Kata أَقْوَمُ  dalam berbagai literatur tafsir  artinya paling lurus (أعْدَلُ), paling tinggi (أعلى) paling benar ( أسَدُّ), dan paling maslahat (أصلح).

Sejarah telah membuktikan dampak positif Al-Qur’an (Qur’anic effect dan Qur’anic impact) terhadap peradaban manusia. Al-Qur’an telah mengubah masyarakat Arab yang primitif. Masyarakat Arab pra-Islam menganut paham kesukuan yang kental, penuh penindasan dari yang kuat atas yang lemah.  Al-Qur’an mengubahnya menjadi masyarakat  berkeadaban dan berperadaban (mutamaddin).  

Sebelum mengenal Islam mereka adalah penyembah berhala, meyakini kemuliaan ada pada kekuatan dan kekayaan. Berbagai permasalahan antar suku diselesikan dengan pedang dan peperangan. Penghargaan terhadap wanita sangat rendah. Wanita dianggap makhluk rendah yang dapat diwariskan. Pernikahan poligami dan poliandri adalah hal yang biasa. Judi dan mabuk-mabukan menjadi kebanggaan.

Nabi Muhammad hadir sebagai rasul utusan Allah Swt, membawa misi perubahan dan mengantarkan rahmat bagi kehidupan. Nabi Muhammad saw mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah al-Munawwarah (kota yang bercahaya).  Kata madinah satu akar dengan kata tamaddun (peradaban). Penamaan kota Yatsrib dengan Madinah menunjukkan bahwa Nabi saw hadir membawa ajaran Islam untuk mengubah masyarakat yang belum berperadaban atau yang berperadaban rendah menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi.

Kata peradaban sendiri erat kaitannya dengan kata “dien” atau agama. Agama  hadir membawa aturan, sistem perilaku dan tata nilai yang menjadi penopang penting peradaban. Semakin tinggi ketaatan masyarakat pada aturan, tata nilai, dan  norma yang  ada, maka semakin tinggi peradaban masyarakat tersebut.

Dalam mayarakat yang beradab yang paling disegani adalah aturan dan hukum, bukan orang yang melaksanakan hukum itu. Nabi Saw mengeluarkan pernyataan yang cukup ekstrim untuk menggambarkan pentingnya ketaatan pada hukum’ beliau bersabda, ”Seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri pasti aku potong tangannya.”(Hadis Bukhari Muslim)

Dunia Barat khususnya dan dunia pada umumnya sebenarnya berhutang pada Islam. Hal ini diakui juga oleh banyak ilmuan Barat. Sebelum mengenal peradaban Islam, dunia Barat berada pada masa kegelapan. Dalam banyak buku sejarah seperti karya Levis dan Rambon dijelaskan bahwa Eropa masih merupakan negri-negeri yang tandus, terisolir, kumuh dan liar. Eropa mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi dari Islam. Maka tidak heran jika seorang penulis Barat Michael Hart dalam ensiklopedinya yang berjudul “The One Hudred: A Rangking of The Most Influential Person in History”  ia menempatkan Nabi Muhammad saw pada urutan pertama.

Al-Qur’an membebaskan manusia dari tirani dan penghambaan manusia kepada manusia lain. Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia di hadapan Allah adalah sama. Tidak ada suku, bangsa, ras atau kelompok manusia yang lebih tinggi derajatnya sehingga boleh memperbudak, menguasai dan menganggap rendah suku, bangsa, ras atau kelompok manusia lain. Allah berfirman:

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al Hujurat:13)

Dalam sejarah futuhat Islamiyah (penaklukan Islam), bangsa-bangsa yang ditaklukkan oleh Islam seperti Syiria, Mesir dan Spanyol lebih senang berada di bawah kekuasaan Islam karena penaklukan Islam itu bersifat pembebasan dan bukan menghadirkan tirani. Mesir misalnya, sebelumnya adalah bangsa yang beragama Kristen dan berada di bawah kekuasaan Romawi Benzantium. Dalam penjajahan Benzantium bangsa Mesir hidup menderita karena diskriminasi, penindasan, dan beban pajak yang tinggi. Inilah yang menyebabkan bangsa Mesir senang ditaklukkan oleh bangsa Arab yang Islam.

T.W Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan pemerintahan Daulah Usmaniyah terhadap non-muslim yang hidup di bawah pemerintahannya. Dia menyatakan, “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintah Ottoman –selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang panatik. Kaum Protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam… Kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”

Al-Qur’an memang diturunkan oleh Allah sebagai petunjuk dan rahmat untuk mengangkat derajat manusia bukan untuk merendahkannya apalagi menyengsarakannya. Allah Swt. berfirman dalam QS. Thaha:2;

Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar kamu menjadi susah (sengsara) Ada pertanyaan yang mengusik kita sebagai umat Islam. Apakah Al-Qur’an masih memiliki dampak terhadap kehidupan umat Islam sekarang? Insya Allah perpektif saya tentang pertanyaan ini akan saya ulas di kelanjutan tulisan ini. Wallahu a’lam bis shawab.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *