KEMAJUAN UMAT ISLAM ANTARA MODALITAS DAN REALITAS
(BAGIAN KE-2)

Abdul Mutolib Aljabaly
Pada tulisan saya tentang ‘kemajuan umat Islam antara modalitas dan realitas bagian pertama, telah saya ulas tentang peranan Al-Qur’an terhadap kemajuan umat islam di era kejayaan. Di akhir tulisan saya mengemukan sebuah pertanyaan yang mengusik kita sebagai umat Islam. Apakah Al-Qur’an masih memiliki dampak terhadap kehidupan umat Islam sekarang?
Tidak ada yang mengingkari bahwa kehebatan Al-Qur’an yang telah mengangkat derajat generasi terdahulu, sekarang ini kurang dapat dirasakan lagi dalam konteks keumatan. Kondisi umat Islam yang secara umum tertinggal dari bangsa-bangsa non muslim dibarengi terjadinya berbagai konflik dan perpecahan di antara umat Islam mengindikasikan bahwa umat ini memiliki jarak dengan Al-Qur’an.
Jika kita menginginkan kehidupan yang gemilang baik secara individu atau sebagai umat, maka kita harus hidup berdampingan dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an harus menguasai alam pikiran dan perilaku kita. Sehingga Al-Qur’an menjadi hudan/petunjuk kehidupan kita, menjadi nur atau cahaya yang menerangi kehidupan kita, menjadi zikr atau pengingat kehidupan kita dari kesesatan. Al-Qur’an menjadi syifa atau obat dan solusi bagi semua persoalan hidup kita, menjadi ruh atau spirit langkah dan perjuangan kehidupan kita.
Untuk itu Al-Qur’an harus banyak dibaca, dikaji, ditadabburi, diyakini kebenaran dan kemaslahatannya, di amalkan ajarannya, dan diterapkan inspirasinya.
Orang beriman selalu melihat Al-Qur’an secara positif. Ia meyakini bahwa semua yang ada dalam Al-Qur’an adalah kebaikan, kemaslahatan, dan kekuatan yang ‘dahsyat’, dan tidak sedikitpun memiliki keraguan, apalagi kecurigaan terhadap Al-Qur’an. Allah berfirman :
وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ
Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, ”Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, ”Kebaikan.” Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.

Namun tampaknya selama ini terdapat beberapa kesalahan mendasar umat Islam terhadap kitab sucinya, sehingga effect Al-Qur’an bagi kehidupan umat tidak seluar biasa dahulu saat generasi sahabat, tabi’in dan tabiut tabiin. Secara umum kesalahan ini dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, kesalahan sikap mental dalam menerima Al-Qur’an. Kedua, kesalahan pola interaksi dengan Al-Qur’an.
Adapun kesalahan sikap mental antara lain sebagai berikut terwujud dalam sikap tidak bersungguh-sungguh dalam menerima Al-Qur’an.
Konsekwensi keimanan manusia terhadap Al-Qur’an adalah penerimaan yang totalitas terhadap Al-Qur’an. Orang beriman tidak boleh ragu sedikit pun terhadap kebenaran Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri telah menegaskan bahwa kitab suci Al-Qur’an tidak ada keraguan di dalamnya baik dari segi orisinalitasnya sebagai wahyu dari Allah, maupun dari segi kebenaran dan kebaikan petunjuknya.
Namun dalam tataran realitas tidaklah seperti yang diidealkan. Al-Qur’an sendiri mensinyalir bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan dalam menyikapi Al-Qur’an. Hal ini dijelaskan dalam Surah Fathir ayat 32 yang artinya;
“ Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka orang-orang yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan apa pula yang terlebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
Realitas keumatan saat ini berada pada posisi yang cukup mengernyitkan dahi. Jika kehidupan ini diibaratkan sebuah pasar ide, ide-ide yang bersumber dari Al-Qur’an seringkali dipandang sebelah mata, atau bahkan dicurigai sebagai gagasan primordial, sektarian, dan anti kebhinekaan. Itu terjadi di masyarakat yang penganut Islamnya mayoritas.
Memang tidak ada masyarakat yang hanya diisi oleh manusia-manusia yang berhati malaikat. Pun di era generasi terbaik umat ini (masa Nabi saw dan sahabat) manusia tidak beriman dan menentang Al-Qur’an juga banyak. Tetapi ketika gagasan yang “berbau” Al-Qur’an sulit dipromosikan di tengah-tengah masyarakat muslim, dapat dipastikan ada yang salah dalam penerimaan umat ini terhadap kitab sucinya.
Penerimaan terhadap sitem ekonomi syari’ah Islam misalnya, dari awal kemunculan lembaga keuangan syari’ah sudah ditanggapi sinis oleh banyak kalangan. Dalam perjalanannya pun ,sejak tahun 1992 hingga sekarang, lembaga keuangan syari’ah belum mendapat dukungan yang cukup dari umat Islam. Partisipasi masyarakat dalam menggunakan jasa keuangan Syari’ah masih minim. Masyarakat Indonesia pada umumnya masih underestimated terhadap perbankan syari’ah.
Salah satu hal yang diyakini oleh orang-orang beriman adalah kewajiban berhukum dan hukum yang sesuai dengan ajaran agamanya. Tunduk dan patuh kepada hukum Allah, ridha dengan syari’atnya merupakan konsekuensi keimanan dan penghambaan kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman:
Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barang siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata. (QS. Al- Ahzab:36)
Konsep berhukum pada hukum Allah tidak serta merta mengharuskan umat Islam untuk membentuk negara teokrasi dengan menjadikan ajaran Islam sebagai satu-satunya landasaan bernegara. Secara konsep, Islam tidak mengajarkan negara teokrasi, tetapi tidak pula negara sekuler.
Di dalam negara demokrasi peluang penerapan syari’at Islam bagi pemeluknya sangat terbuka lebar melalui legislasi hukum positif. Di alam demokrasi kepartaian dibutuhkan partai politik yang dapat mengusung aspirasi penerapan syari’at Islam bagi pemeluknya dalam kerangka sistem hukum nasional.
Namun problemnya bahwa dukungan terhadap partai Islam juga sangat rendah jika melihat pada komposisi penduduk muslim di negeri muslim terbesar di dunia ini. Sejak gelaran pemilu 1955 perolehan total suara partai-partai Islam selalu kalah dari partai nasionalis. Belum lagi problem polarisasi dari partai-partai Islam antara yang memperjuangkan syari’at Islam dalam bernegara dan yang bepandangan tidak diperlukannya formalisasi syari’ah tapi cukup diamalkan oleh individu muslim.
Rendahnya perolehan suara partai Islam tentu menjadi salah satu cermin buruk perjuangan umat Islam untuk menerapkan syari’at agamanya dalam kehidupan berbangsa. Hal ini bisa jadi karena rendahnya kepedulian terhadap perjuangan tersebut atau rendahnya kepercayaan terhadap kebaikan penerapan syari’at dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal keberadaan beberapa undang-undang nasional yang bersumber dari syari’at Islam selama ini seperti undang-undang perkawinan, zakat, dan wakaf tidak menimbulkan masalah kebangsaan dan justru mendatangkan maslahat.
Islam sebagai agama yang menjujung tinggi nilai-nilai moral. Bahkan fokus utama risalah nabinya adalah menyempurnakan moral manusia. Namun problemtika moral di negeri ini tidak hanya berada di lapisan bawah, tapi juga lapisan elit mayarakat yang mayoritasnya adalah muslim. Korupsi dan suap-menyuap menjadi penyakit yang begitu sulitnya diobati. Adanya lembaga khusus anti korupsi tidak menurunkan tingkat korupsi secara signifikan.
Al-Qur’an mengajarkan keadilan dan berlaku adil kepada siapa pun. Bahkan pesan ini sangat jelas dan tegas adalam Alquran. Namun mencari keadilan ternyata tidak mudah. Orang kaya dan kaum elit bisa menggunakan kekayaan dan pengaruhnya untuk menghindar dari jerat hukum, sementara masyarakat lapisan bawah begitu mudahnya terjerat hukum tanpa bisa berbuat apa-apa. Jaksa Agung ST Burhanudin sebagaimana dikutip oleh Kompas.com 17 Februari 2020, mengakui bahwa penegakan hukum di Indonesia belum memenuhi rasa keadilan.
Al-Qu’an mengajarkan keadilan sosial dan ekonomi. Al-Qur’an mengingatkan agar harta tidak hanya berputar di antara orang-orang tertentu (QS. Al-Hasyr:7).
Namun yang terjadi di negara yang mayoritas muslim ini keadilan sosial ekonomi ini tidak kunjung terwujud. Sebagian kecil menguasai harta kekayaan. Karena kekayaan hanya berada di tangan sebagian kecil maka daya beli masyarakat rendah sehingga pertumbuhan ekonomi selalu rendah. Monopoli dan oligopoli ini melahirkan oligarki dalam dua perpolitikan tanah air. Kekuasaan cenderung berpusat pada sekelompok orang yang memiliki kekuatan modal atau didukung oleh pemilik modal. Kepemimpinan lahir bukan dari putra terbaik bangsa, tapi dari mereka yang memiliki kekuatan modal.
Amanah dalam kehidupan kita cenderung menjadi ajaran moral yang berada di awang-awang. Gema pendidikan karakter di sekolah seolah berada di dunia yang asing dan tidak nyata. Karena kehidupan sosial kita menampilkan fakta yang berbeda dari apa yang dididikkan di persekolahan. Belum lagi kalau kita memotret produksi dan penyebaran hoaks di jagad internet tanah air. Kementerian komunikasi pernah menyatakan ada 800.000 situs penyebar hoaks di Indonesia. Terkait covid-19 ada 1.400-an hoax pada bulan Mei 2020.
Sungguh seandainya ajaran Al-Qur’an diterapkan dalam kehidupan kita, niscaya kehidupan ini akan penuh kebaikan dan keindahan. Antara sesama saling menghargai dan menyayangi. Allah pun pasti menurunkan keberkahan sebagimana janji-Nya.
Ketidaksungguh-sungguhan penerimaan umat Islam terhadap kitab sucinya menurut hemat penulis minimal disebabkan oleh dua faktor.
Pertama, kebutaan terhadap huruf Al-Qur’an. Di antara problematika keumatan yang sangat memperihatikan adalah masalah buta huruf Al-Qura’n. Penelitian yang dilakukan oleh Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) pada tahun 2018 menghasilkan fakta bahwa 65 persen umat Islam Indonesia masih buta huruf Al-Qur’an. Hal ini tentu menjadi masalah serius yang memerlukan kemauan dan kesungguhan kolektif umat untuk mengatasinya.
Sulit tentunya untuk menerima dan menerapkan ajaran-ajaran Al-Qur’an tanpa bisa membaca huruf-huruf Al-Qur’an dan mengetahui makna yang dikandungnya. Meskipun seseorang bisa memanfaatkan terjemahan Al-Qur’an dan penjelasan ulama untuk mengetahui isinya, tetapi seseorang yang tidak bisa membaca Al-Qur’an umumnya tidak memiliki motivasi kuat untuk memahami kandungannya.
Kedua, penyebab umat Islam tidak sungguh-sungguh menerima Al-Qur’an secara totalitas, dikarenakan mereka tidak betul-betul memahami kedudukan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah petunjuk ilahi bagi manusia. Karena ia datang dari Zat yang mengatur kehidupan, maka Al-Qur’an adalah petunjuk terbaik dan pedoman hidup. Mengikuti petunjuk Al-Qur’an mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan dunia akhirat. Sebaliknya, mengabaikan petunjuk Al-Qur’an menyebabkan datangnya berbagai bencana dalam kehidupan baik moral, fisik, sosial, ekonomi, dan keamanan.
Untuk kesalahan kedua dari umat Islam, yaitu penerapan pola interaksi yang salah terhadap Al-Qur’an, insya Allah ulasannya akan datang pada bagian selanjutnya dari tulisan ini. Wallahu a’lam bi as-shawaab.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *