KEMAJUAN UMAT ISLAM ANTARA MODALITAS DAN REALITAS
(BAGIAN TERAKHIR DARI TIGA TULISAN)
Abdul Mutolib Aljabaly

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari tiga tulisan tentang “Kemajuan Umat Islam antara Modalitas dan Realitas”. Pada bagian kedua telah disajikan ulasan tentang keslahan sikap mental umat Islam terhadap Al-Qur’an yang menjadi salah satu penyebab efek Al-Qur’an terhadap kemajuan umat tidak sedahsyat apa yang dicatat sejarah pada generasi keemasan Islam. Dalam tulisan ini akan diualas kesalahan kedua dari umat Islam, yaitu penerapan pola interaksi yang salah terhadap Al-Qur’an.
Al-Qur’an akan berfungsi sebagai petunjuk bagi kehidupan, jika ia dibaca, dipahami, ditadabburi, digali inspirasi dan ilmunya, serta diterapkan dalam kehidupan. Interaksi muslim dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya pada level membaca dan menghafalnya. Ketika interaksi umat terhadap Alqur’an hanya pada level membaca dan menghafal, maka kebaikan Al-Qur’an tidak akan dapat memajukan peradaban umat. Jika umat Islam tidak menjadi lokomotif kemajuan peradaban manusia dengan basis Qur’ani, maka peradaban dunia akan cenderung sekuler-materialistik dan jauh dari nilai-nilai ilahiah dan nilai-nilai kemanusiaan.
Oleh karena itu, umat Islam harus memperbaiki paradigma dan pola interaksinya dengan Al-Qur’an. Umat Islam harus meningkatkan kualitas pembacaan terhadap Al-Qur’an dari sekedar pembacaan verbal menjadi pembacaan yang penuh kesadaran yang berujung pada pengamalan. Inilah yang diistilahkan oleh Al-Qur’an sebagai “pembacaan yang sebenarnya” (haqqa tilawatih).
Mentadabburi Al-Qur’an merupakan wasilah untuk membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya membaca. Kata tadabbur sendiri merupakan istilah yang disebut dalam Al-Qur’an yang mencakup makna memahami, memikirkan, mengkaji dan menggali ayat-ayat Al-Qur’an untuk menghasilkan inspirasi, pencerahan, ilmu, dan pedoman yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
Tentu diperlukan upaya sistematis keumatan untuk menjadikan tadabbur Al-Qur’an sebagai gerakan keilmuan dan kemanusiaan. Al-Qur’an jangan sampai hanya menjadi kitab suci yang disakralkan, diagung-agungkan dan selalu dibela dari upaya penistaan terhadapnya, tetapi ia tidak hidup nyata dalam perilaku dan peri kehidupan umat Islam. Aktivitas tadabbur Al-Qur’an harus diarusutamakan dalam gerakan pendidikan dan dakwah Islam agar umat Islam menjadi produktif dan tidak terjebak pada persoalan khilafiyah teologi dan fikih.
Tentu peningkatan kualitas interaksi umat terhadap Al-Qur’an akan tumbuh jika keimanan terhadap Al-Qur’an tumbuh subur dalam hati umat Islam. Ketika kesadaran bahwa Al-Qur’an itu kalamullah yang dihadirkan untuk panduan kehidupan kita kuat di masyarakat muslim, maka kebutuhan dan gairah untuk memahami dan mengkaji Al-Qur’an akan semakin meningkat.
Ini pula yang tergambar pada generasi awal umat Islam pada masa Nabi dan sahabat. Hasan bin Ali berkata, “Sungguh, orang-orang sebelum kalian telah memandang Al-Qur’an laksana surat-surat (perintah) dari Rabb mereka, maka senantiasa mereka selami maknanya pada malam hari dan mereka menerapkannya di siang harinya.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran).
Abdullah bin Mas’ud juga berkata, “Sungguh, dahulu kami kesulitan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an namun amat mudah bagi kami mengamalkannya.” Dan sekarang, generasi setelah kami begitu mudahnya menghafal Al-Qur’an namun amat sulit bagi mereka mengamalkannya.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran)
Abdullah bin Abbas berkata, “Dahulu para qari dan penghafal Al-Qur’an adalah orang-orang yang diprioritaskan hadir dalam setiap persidangan dan permusyawaratan Khalifah Umar bin Khattab, orang-orang tua dan para pemudanya.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran)
Tentu tantangan untuk memasyarakatkan Al-Qur’an dan meng-Al-Qur’ankan masyarakat, sedari dahulu hingga sekarang selalu ada. Upaya tasykik atau menimbulkan keraguan manusia termasuk umat Islam terhadap orisinalitas Al-Qur’an sebagai wahyu yang benar-benar datang dari Allah Swt telah ada sejak zaman Nabi saw. Para penentang Al-Qur’an pada zaman Nabi saw berkoar-koar bahwa Al-Qur’an buatan Nabi Muhammad atau berasal dari bisikan Jin atau kompilasi Nabi Muhammad dari dongeng-dongeng terdahulu.
Allah mematahkan tuduhan batil ini dengan menantang mereka agar mengumpulkan seluruh manusia dan seluruh jin untuk membuat seperti Al-Quran (QS.Al-Baqarah:23). Melalui tantangan ini Allah Swt hendak menjelaskan bahwa tuduhan itu terbukti tidak benar, karena mereka yang dipersilakan bersekutu pun tidak mampu membuat seperti Al-Qur’an, apalagi Nabi Muhammad seorang diri yang tidak punya kecakapan membaca dan menulis (ummi).
Di zaman modern, upaya menciptakan keraguan terhadap Al-Qur’an oleh kalangan orientalis juga terus terjadi. Intinya juga sama bahwa Al-Qur’an tidaklah murni seluruhnya wahyu Allah, tetapi juga berisi hasil pemikiran Nabi Muhammad sendiri. Bahkan ada yang menuduh bahwa Alqur’an merupakan kompilasi Nabi Muhammad terhadap tradisi, kebudayaan, dan ajaran dari Hindu, Yunani, dan Romawi.
Di internal umat Islam muncul liberalisasi pemikiran Islam yang lahir dari pandangan skeptis yang berlebihan terhadap kemampuan pemikiran Islam klasik dalam menjawab tantangan zaman. Akibat skeptisisme yang berlebihan ini maka merembet pada sikap dan pemikiran skeptis terhadap kemampuan Al-Qur’an menjawab problematika kehidupan di era posmodernisme ini.
Berbagai ide pemikiran reaktualisasi, sekularisasi, dan dekonstruksi Islam tidak hanya menawarkan ide pembaharuan pemahaman terhadap teks-teks syari’ah yang biasa, tetapi melabrak hal-hal yang selama berabad-abad diyakini sebagai permanent thesis atau perkara yang qath’i. ( apa?)
Ide mengubah formula pembagian warisan laki-laki dan perempuan dari 2:1 yang ditetapkan Alqur’an menjadi 1:1, pemikiran pluralisme yang menganggap semua agama adalah benar, legalisasi pernikahan sejenis, pandangan bahwa jilbab, hukuman rajam, potong tangan, dan qishash hanyalah ekspresi lokal partikular Islam Arab dan tidaklah universal, merupakan contoh produk pemikiran liberal dari kalangan pemikir Islam sendiri.
Belum lagi penafsiran-penafsiran terhadap terhadap teks-teks syari’ah yang konyol dan kontraproduktif seperti assalamu’alaikum bisa diganti dengan selamat pagi dan semisalnya, ayat-ayat konstitusi lebih tinggi daripada ayat-ayat suci, dan legalisasi seks pra-nikah dengan dasar ayat milkul yamin (kepemilikan budak).
Sesungguhnya pembaharuan pemikiran Islam adalah kelaziman untuk menjaga relevansi ajaran Islam dengan perkembangan zaman. Allah dan Rasul-Nya telah memberi ruang hal tersebut melalui pintu ijtihad. Semua upaya ijtihad mestinya dilakukan dalam koridor dan bingkai metodologi yang dikembangkan dari teks-teks syari’at. Namun nyatanya para pengusung pemikiran liberal menggunakan bingkai dan kacamata pemikiran Barat yang sekuler dan meterialistik.
Gugatan terhadap relevansi pemikiran Islam klasik umumnya dikaitkan dengan ketidakcocokan pemikiran tersebut dengan prinsip HAM, kesetaraan gender, dan pemisahan agama dan negara ala Barat yang sekuler.
Dari sudut pandang inilah muncul gugatan terhadap berbagai hukuman hudud dalam Islam seperti hukuman mati dan potong tangan, karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip HAM. Juga gugatan terhadap relasi perempuan dan laki-laki dalam sistem keluarga Islam maupun dalam kehidupan sosial, hingga muncul ide pengubahan ketentuan syari’at tentang warisan, pemberian hak bagi perempuan untuk menceraikan suami dan menjadi imam dan khotib Jum’at.
Dalam kaitan relasi agama dan negara, muncul ide dan upaya depolitisasi agama. Setiap gerakan umat untuk mendudukkan realitas politik dalam bingkai dan sudut pandang agamanya distigma sebagai gerakan yang kontra produktif dan mengusung politik identitas yang seakan-akan haram dalam demokrasi. Para ulama dan rohaniawan menjadi terpenjara dan tidak bisa bersuara melakukan kritik sosial ketika terjadi arogansi kekuasaan dan kapital, karena akan dituduh sebagai tindakan radikal. Padahal ulama memiliki peran korektif dan penyeimbang yang sangat dibutuhkan untuk menjaga perjalanan bangsa tetap pada relnya.
Tentu semua anak bangsa sepakat bahwa memanfaatkan agama untuk kepentingan politik kelompok bukan keumatan tidaklah dibenarkan. Demikian pula memecah belah bangsa atas nama agama seperti melakukan kritik dengan ujaran kebencian, penyebaran hoaks dan penyampaian pandangan yang tidak bijak, atau tindakan yang melanggar hukum tidaklahlah dibenarkan dan harus dihindarkan.
Cak Nur atau Emha Ainun Najib di salah satu kegiatan maiyahan dengan Kyai Kanjeng pernah mengatakan, “Yang selama ini mengacaukan bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia adalah sekularisme.” Sekularisme adalah cara pandang yang memisahkan urusan negara dan agama. Padahal dalam pandangan Islam tidak ada satu urusan pun dalam kehidupan yang tidak terkait dengan agama. Inilah yang menyebabkan berbagai pertentangan selama ini. Namun hal itu tidak disadari oleh banyak orang. Padahal mayoritas di negeri ini adalah umat Islam dan Pancasila sebagai dasar negara menegaskan prinsip berketuhanan sebagai landasan berkehidupan.
Saatnya umat dan bangsa ini menyadari “ketersesatan” jalannya ini. Kemudian mau kembali pada titik memulai. Kembali kepada nilai-nilai agama dengan menggali pentunjuk Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai landasan dan bingkai perjalanan berbangsa dan bernegara. Memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dari luar Islam perlu dilakukan, tetapi harus difilter dan dishibghah dengan nilai-nilai Islam sebagaimana dilakukan generasi Islam terdahulu terhadap ilmu pengetahuan Yunani dan Persia. Wallahu’alam bi as-shawab.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *