MaryatiArifudin, 19 Maret 2021

Percaya adalah sesuatu yang berhubungan dengan hati, yang dibuktikan dengan lisan dan perbuatan. Percayakah kita bahwa rezeki itu sudah ada yang mengaturnya?

Manusia hanya berikhtiar sekuat tenaga, namun apa yang ada di tangan kita itulah yang ditetapkannya. Rezeki kita tidak mungkin tertukar dengan rezeki orang lain. Dudukkan, dalam hati kita sehingga kita tidak lelah memikirkan rezeki orang lain.

Melihat ke atas rezeki orang lain, sangat capek kita menengadahnya. Apalagi sampai-sampai menghitung rezeki orang, lelahlah pikiran ini di buatnya. Tengoklah yang dibawah sana, jika ingin merasakan akan syukur nikmat yang ada dalam diri.

Takdir adalah suatu ketetapan-Nya, yang harus kita terima dengan lapang dada. Ada takdir yang membuat hati bersedih, cukuplah kesedihan itu menjadi pengingat bahwa kita masih bergantung pada-Nya.

Sungguh raga kita ini sangat  lemah masih menginginkan kasih sayang-Nya. Sang kekasih yang Maha Rahman dan Maha Rahim selalu dirindukan dan dibutuhkan oleh semua makhluk di muka bumi ini. Tanpa kasih sayang-Nya percayalah bahwa kita bukan siapa-siapa.

Percaya akan kehendak-Nya itu manifestasi iman. Sesungguhnya, setiap pagi hari Alloh telah menetapkan rezeki masing-masing. Rezeki yang telah kita usahan kemarin, telah kita petik hari ini atau hari lain. Setiap usaha yang kita usahakan, hasilnya yang terbaik telah ditetapkan atas kehendak-Nya. Terimalah dengan rasa syukur akan anugrah yang telah diberikan pada kita semua.

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu, apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat At-Taubah, Ayat 105)

Syukurini nikmat itu, sehingga keberkahan hidup mampu dirasakan. Semakin kita ingkar akan nikmat Tuhan-Nya maka Azab-Nya sangat pedih. Jika selalu merasa kurang akan pemberian-Nya, tengoklah di sekitar kita masih ada masyarakat yang tak mampu dari kita. Mereka masih berpikir, besok pagi makan tidak?

Jika belum yakin akan nikmat Tuhan-Mu. Tengoklah, saudara kita yang sedang di rundung musibah sakit. Kunjungilah  atau tengoklah di rumah sakit, bahwa nikmat sehat itu adalah nikmat yang tiada tara.

Kita baru merasakan nikmat itu ada, manakala nikmat itu dicabut sebentar saja oleh sang pemilik-Nya.  Baru sebelas hari ujian sakit itu memimpa, hidup ini udah terasa hampa. Itulah, lemahnya raga tanpa bersandar pada-Nya kita bukan siapa-siapa.

Apalagi masa pandemi covid-19 ini. Covid itu ada, ia akan menempel pada siapa yang dikehendaki-Nya. Tanda awalnya, bermacam-macam apa yang dirasa. Setiap korbannya, akan muncul bermacam-macam gejala.

Banyak gejala yang berbeda hadir pada jiwa yang berbeda tergantung imunitas tubuhnya. Syukurilah, nikmat sehat itu sehingga tahu rezeki Alloh berupa kesehatan itu tak mampu digantikan oleh nikmat apa saja.

Saat diri kita sehat, pedulilah pada saudara kita yang sedang dirundung sakit.  Bersapa menanyakan kondisinya, akan menjadi penyejuk jiwa bagi si sakit. Suara-suara sahabat menyapa, akan menambah semangatnya jiwa untuk bangkit dari sakit. Apalagi sapaan doa dari sahabat, yang telah lama tak berjumpa akan menenangkan jiwa. Dukungan saling mendoakan dan saling sayang adalah bentuk silaturahmi yang terpuji. Kepedulian ini, memang biasa tumbuh di tanah air tercinta yang terkenal budaya ketimurannya. Tumbuhkan sikap itu dimanapun kita berada. Mudah-mudahkan menjadi negeri yang dirahmati.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *