Oleh: Abdul Mutolib Aljabaly

Pada tulisan saya sebelumnya yang bertajuk “Menengok Penghargaan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan” telah diulas peranan penguasaan ilmu pengetahuan terhadap kemajuan dan kejayaan Islam, sehingga menjadi pemimpin peradaban dunia selama 7 s.d. 8 abad. 

Seiring dengan menurunnya penghargaan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan khususnya ilmu-ilmu rasional, maka peradaban Islam mengalami kemunduran. Sebaliknya dunia Barat mengalami era kebangkitan dalam ilmu pengetahuan dan diikuti dengan kemajuan dalam berbagai bidang lainnya. Peta peradaban dunia pun berubah. Jika pada abad pertengahan dunia Islam mengalami kemajuan dan dunia Barat dalam kegelapan, maka setelah kemunduran peradaban Islam dunia Barat memimpin peradaban dunia hingga saat ini.     

Geliat umat Islam untuk bangkit kembali sudah mulai muncul pada akhir abad IX dan menguat di abad XX. Keterpurukan umat Islam dalam kungkungan imperialisme dan kolonialisme Barat membangkitkan kesadaran umat Islam untuk melakukan pembaharuan (tajdid) pemikiran Islam dan menggairahkan kembali etos keilmuan umat Islam. Kebangkitan Islam juga ditandai dengan semangat untuk kembali kepada akar budaya Islam dan melawan penetrasi budaya Barat. Bahkan kebangkitan Islam juga diikuti oleh kesadaran penguatan ekonomi umat dan peran politik umat Islam dalam konteks negara modern (negara bangsa).

Di Indonesia, awal gerakan kebangkitan Islam ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi Islam modern seperti Syarikat Islam (1911), Muhammadiyah (1012), Al-Irsyad (1914), Persatuan Islam (1923) dan lain-lain. Gerakan-gerakan ini tidak hanya menumbuhkan kesadaran keagamaan, tetapi juga kesadaran ekonomi, sosial, dan politik untuk melawan penjajah secara terorganisir. (Haedar Nashir, Islam Syari’at:230). 

Namun gerakan kebangkitan umat Islam masih belum dekat dengan cita-citanya yaitu tegaknya kembali kejayaan umat Islam. Berbagai rintangan dan hambatan baik secara internal maupun eksternal terus menggelayutinya. Kondisi internal umat Islam sendiri masih mengkhawatirkan. Disintegrasi umat, fanatisme kelompok dan madzhab, mental yang masih mudah diadu domba, masih menyita banyak energi umat untuk membangun kembali kejayaan Islam.

Kondisi ini menjadi santapan empuk bagi musuh-musuh Islam untuk menghambat laju kemajuan peradaban Islam. Dunia Barat umumnya melihat fenomena kebangkitan Islam sebagai ancaman bagi eksistensi peradaban mereka. Tesis Samuel Huntington tentang benturan peradaban (clash of civilizations, yang dipercaya oleh sebagian besar orang Barat menempatkan Islam sebagai satu-satunya kekuatan yang akan berhadapan dengan Dunia Barat setelah runtuhnya komunisme.

Untuk menghambat dan menghalang-halangi laju peradaban Islam, mereka berusaha melakukan marginalisasi umat Islam dengan berbagai cara.  Di antaranya dengan mengadu domba negara dan umat Islam. Bukti yang tak terbantahkan adalah adalah konflik kekerasan (perang) antara Irak dengan Iran, Irak dengan Kuwait dan Saudi Arabia, dan Iran dan Yaman dengan Saudi Arabia. Untuk mengadu domba umat Islam mereka juga memanfaatkan perbedaan madzhab dan aliran teologi antar negara dan umat Islam. Seperti aliran Syi’ah dengan Sunni, fundamentalis dengan moderat dan sebagainya.

Negara-negara Barat juga mencampuri masalah separatisme dan konflik disintegrasi di negara-negara Islam seperti di Indonesia. Konflik disintegrasi  di wilayah Aceh, Ambon, dan Papua misalnya, tidak dipungkiri adanya campur tangan negara-negara Barat yang tidak rela melihat negara Indonesia bersatu dan maju, karena penduduknya mayoritas beragama Islam.

Negara-Negara Barat juga melakukan penjajahan gaya baru terhadap negara-negara muslim. Hal itu dilakukan dengan mengeksploitasi hasil alam negara-negara muslim melalui investasi besar-besaran, sehingga sumber kekayaan negara-negara muslim dikeruk oleh mereka dan hanya sebagian kecil keuntungan yang bisa dinikmati oleh negara pemiliknya.

Untuk memuluskan hal itu maka mereka berupaya mengendalikan dan menentukan suatu rezim di negara muslim dalam setiap momen suksesi kepemimpinan. Dengan kekuatan dana dan kemampuan yang mereka miliki, maka hal itu dapat mereka lakukan dengan mudah. Bahkan mereka tidak segan-segan mengobarkan perang untuk memenangkan pertarungan agar rezim yang berkuasa sesuai dengan kehendak mereka. Hal itulah yang terjadi di negara-negara muslim kaya minyak seprti Irak, Iran, Kuwait, dan Syiria.

Bahkan penjajahan gaya baru terhadap dunia Islam saat ini tidak hanya dilakukan oleh negara Barat tetapi juga oleh negera komunis Tiongkok (China) yang telah membuktikan menjadi pesaing berat negara-negara Barat. Investasi Tiongkok di negara-negara muslim Timur Tengah, Afrika, dan Asia telah dilakukan dengan besar-besaran. Dengan investasi tersebut Tiongkok berhasil membungkam negara-negara muslim soal perlakuan Tiongkok terhadap minoritas muslim Uighur. Jika ada negara muslim yang bersuara, suaranya pun tidak lagi lantang. Hal ini secara gamblang diberitakan dan diulas oleh berbagai media mainstream sejak pertengahan tahun 2019.      

  Selain itu, mereka berusaha menciptakan Islamophobia atau ketakutan dan kebencian terhadap Islam dengan menciptakan stigma buruk tentang Islam melalui penguasaan media global. Mereka berupaya menstigma umat Islam sebagai kaum yang peradabannya terbelakang, tidak menghormati wanita, melanggar HAM, kaum teroris, dan lain sebagainya.

Para pemimpin Barat yang menempatkan Islam sebagai musuh peradaban mereka dengan mudahnya menuduh para peminpin muslim seperti Sadam Husein dan Muammar Kadafy sebagai teroris, sementara para agresor terhadap negara muslim seperti pemimpin negara Israel dan Amerika tidak pernah disebut sebagai teroris. Mereka juga membiarkan terjadinya penistaan terhadap simbol-simbol Islam seperti terhadap Nabi Muhammad saw dan Al-Qur’an. Ketika ada sekelompok muslim yang melakukan tindakan kekerasan sebagai perlawanan, maka yang dipersoalkan hanyalah tindakan kekerasan tersebut tanpa menyelesaikan penyebabnya yang menjadi akar permasalahannya.

Islamophobia tidak hanya dihembuskan di kalangan non muslim, tetapi juga di tengah umat Islam sendiri. Dengan kekuatan dana yang besar mereka bisa menciptakan itu semua melalui gerakan pengarusutamaan gender dan HAM, serta deradikalisasi versi mereka. Hasilnya umat Islam tidak percaya dengan ajaran agamanya sendiri terutama yang menyentuh aspek-aspek tersebut. Aspirasi umat Islam untuk bisa menjalankan ajaran agamanya secara kaffah malalui saluran yang sah di negara demokrasi mendapat hambatan dari umat Islam yang tidak percaya diri bahkan takut kalau Islam mengendalikan kekuasaan. (al Islam mahjubun bil muslimin)              

Partai Islam di negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ini belum pernah menjadi pemenang pemilu. Di samping faktor Islamophobia, umat Islam juga kalah dengan kuasa uang yang dapat “membeli” suara orang-orang Islam pada setiap gelaran PEMILU. Keinginan umat Islam mewujudkan satu partai Islam juga sama peliknya, karena perbedaan cara pandang tentang Islam politik, terutama kelompok Islam yang curiga kalau Islam bukan mereka yang berkuasa akan terjadi otoritarianisme dan tirani mayoritas atas kaum minoritas agama.  

Berbagai tantangan inilah yang menjadikan umat Islam belum dapat mengejar ketertinggalannya dengan kemajuan bangsa-bangsa non muslim. Tidak hanya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan peratahanan.

Untuk itu diperlukan kesadaran dari semua elemen umat akan hal itu semua dan kesadaran untuk terus berjuang mencari solusi atas berbagai permasalahan dan mencari cara untuk mencapai tujuan tegaknya kembali peradaban Islam yang membawa rahmat bagi semua makhluk Allah di muka bumi. Wallahu al-musta’an.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *