Oleh: Triznie Kurniawan

Dengan sigap Nadia menaiki sebuah “Bentor” dari sebuah gedung pertemuan di Hotel Milik Pemerintah, di tengah kota itu. Terik matahari tak lagi dihiraukannya, perih perutnya dari subuh tak lagi dirasakannya, tanpa sadar kini ia sedang duduk termangu di atas roda tiga itu. Entah pesan apa yang ia telah sampaikan pada pengemudi becak bermotor tersebut, sampai akhirnya ia diturunkan di sebuah halte. Ia segera naik ke dalam bis mini warna merah menyala itu, tanpa pikir panjang ia mengambil langkah dan melabuhkan tubuhnya di kursi penumpang paling belakang. Dekat jendela, pikirannya masih belum sepenuhnya menyadari keberadaannya, ia menatap pemandangan lalu-lalang di jalanan. Wajah ya tersapu angin siang itu, kerudung kuningnya mengibas-ibaskan ujungnya sampai menutup mukanya. Ah, Nadia sudah terlalu lama larut dalam percakapan whatsapp dengan suporter terbaiknya kala itu. Hatinya yang memang sedari pagi tak karuan membuatnya semakin linglung, tatkala membaca pesan yang menusuk hatinya. Hatinya ambyar, itulah salah satu kelemahannya. Selalu saja tak bisa menata hati dengan baik. Kalut.

Bis mini merah itupun melaju dengan kencang dari Kota Bahari menuju Kota Dzikir di ujung pulau. Riuh penumpang berdiskusi tak lagi mengganggunya, suara rem yang berderit-derit tak lagi memekakkan telinganya. Ia tetap terpaku dengan percakapan dan diskusinya sendiri dengan seseorang di ujung sana. Ia seseorang yang juga manusia biasa. Nadia berada dalam situasi tak terkendali yang meruntuhkan segala pertahanan dirinya. Hatinya tak lagi kokoh, kini pikirannya terbang entah kemana. Ia malah masuk ke dalam sebuah putaran pikiran buruknya sendiri.

Di tengah perjalanan. Di sebuah gunung dengan ratusan pohon Jati menjulang itu, Gunung Gigir. Gigir dalam bahasa Madura adalah Marah. Tepat di gunung itu, seluruh penumpang dipindahkan ke sebuah bis mini lain yang sudah menunggu di depannya. Satu demi satu, mereka keluar. Seorang nenek dengan membawa bakul besar, terbuat dari bambu turun dan masuk ke bis yang telah disediakan. Sampai pada penumpang terakhir, turunlah seorang anak kecil laki-laki dengan beberapa tas plastik yang ia jual di pasar. Suara sopir yang sedang membagikan uang ongkos sayup terdengar di telinga Nadia. Dengan cepat bis merah itu putar balik ke arah timur dan semua penumpang sudah berada di bis lain, sudah biasa memang kalau bis-bis itu main oper-operan penumpang. Nadia memegang ponsel miliknya yang masih terbuka percakapan itu, di pangkuannya, sudah ada tas ransel hitam lusuh kesayangannya. Resleting tas hitam itu terbuka, nampak beberapa benda di dalamnya, termasuk sebuah amplop putih bertuliskan “Bupati Kota Bahari” . Ia tersenyum, meraba apa isinya, bersyukur atas izin Allah ia bisa berada di tengah acara besar tadi pagi itu. Walau hati dan pikirannya masih galau dengan percakapannya, banyak yang terpikirkan. Sampai tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang ganjil dalam oerjalanannya kali ini, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Bingung. Kosong. Tak ada satupun penumpang dalam bis ini. “Mas? Mas? Ini mau kemana? Kok ke timur lagi?” teriaknya pada sopir yang juga tak menyadari bahwa ada seorang penumpang yang tertinggal di pojok belakang kendaraannya. Astaghfirulah, itulah betapa sangat besar pengaruh kondisi hati pada keadaan diri. Setan selalu membisikkan hal-hal buruk agar kita selalu berpikir negatif, dan kita sendiri yang akan dirugikan. Nadia turun dan berlari mengejar bis rombongan penumpang.

Pentigraf3_April2021

0Shares

By Admin

2 thoughts on “Kalut”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *