Oleh : Yani Lestari

Waktu istirahat pun tiba, setelah minum dan makan kue di kantor aku pun keluar menuju sudut sekolah. Yang ku tuju adalah bangku kayu disana. Sembari duduk di bangku tersebut, kupandangi sekitar lingkungan sekolahku yang hijau penuh dengan tumbuhan paku.

“Bu Guru bisa makan itu?” Tanya muridku yang memudarkan pandanganku. “Memangnya bisa dimakan?” Sanggah ku kemudian. “Bisa Bu Guru, enak dibikin sayur.” Jawab muridku bersemangat. “Oh, begitu…” Kataku dengan rasa sedikit ragu. “Kalau Bu Guru mau, saya akan memetikkan.” Katanya. “Iya nak, tapi jangan terlalu banyak ya!” Pintaku kemudian. “Iya Bu Guru.” Sambungnya.

Akhirnya anak tersebut mengajak beberapa kawannya memetik daun paku, dan setelah dirasa cukup mereka membawa dan menyerahkan daun paku tersebut kepadaku. “Ini Bu Guru daun pakunya, nanti Bu Guru bisa memasaknya dengan cara di oseng tetapi jangan terlalu lama ya!” Pesannya. “Oh iya nak… terima kasih  nanti ibu akan mencoba memasaknya.” Kataku.

Siang itu sepulang dari sekolah aku bersama mbak Tik teman hidupku, mencoba memasak daun paku yang diberi oleh anak-anak tadi. Bumbu oseng pun kami siapkan dengan tidak lupa melebihi sejumlah cabe agar lebih ada rasa sensasi pedasnya. Tidak perlu waktu yang lama akhirnya oseng daun paku tersebut sudah siap untuk disantap.

Enak sih rasanya cuma ada sedikit rasa lendirnya, dan itu merupakan kali pertama bagi kami merasakan olahan masakan dari daun paku. Masyarakat di daerah ini menyebut tumbuhan paku tersebut dengan nama “kalakai”. Hari berikutnya jika tidak memiliki sayur, maka kami akan memasak kalakai. Lumayan… bisa untuk variasi sayur ketahanan hidup di bumi perantauan ini.

Ternyata tumbuhan paku ataukalakaibanyak manfaatnya. Sebuah laporan yang dibuat oleh Irawan et al (2003) menyebutkan,  tanaman Kalakai mengandung Fe yang tinggi dan kaya vitamin C dan betakaroten. Secara garis besar terdapat 2 (dua) jenis kalakai, yakni kalakai merah dan kalakai hijau.

Kalakai yang berwarna merah sangat potensial untuk mengatasi penyakit anemia (kekurangan zat besi).

Menurut Irawan, dari analisis gizi diketahui bahwa kalakai merah mengandung Fe yang tinggi (41,53 ppm), Cu (4,52 ppm), vitamin C (15,41 mg/100g), protein (2,36%), beta karoten (66,99 ppm), dan asam folat (11,30 ppm).

Keunggulan ini membuat, masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah secara turun temurun  memanfaatkan tanaman kalakai untuk tujuan merangsang produksi ASI bagi ibu-ibu yang baru melahirkan.

Selain sebagai obat tradisional penambah darah, Kalakai berdasarkan studi empirik, diketahui juga dipergunakan oleh masyarakat suku Dayak Kenyah untuk mengobati anemia, pereda demam, mengobati sakit kulit, serta sebagai obat awet muda.

Etnis Banjar di Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan dan Tengah juga menggunakan akar tumbuhan ini sebagai obat kuat (afrodisiak).

Di negara bagian Sarawak, Malaysia, tanaman ini disebut “Midin”. Disana tanaman ini populer di kalangan penduduk setempat. Daun muda biasanya disajikan dengan tumisan bawang putih, udang kering, atau pasta udang.

Fakta-fakta di atas juga terbukti dengan hasil penelitian dari Nur Andarwulan dan RH Fitri Fradilla dari South East Asia Food and Agricultural Science and Technology Center, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, dalam buku Senyawa Fenolik pada Beberapa Sayuran Indigenous dari Indonesia (Penerbit Seafast Center IPB, 2012).

Dikutip dari seafast.ipb.ac.id, penelitian keduanya tentang kandungan asam fenolat  pada 24 jenis sayuran indigenous Indonesia yang berasal dari Jawa. Salah satu diantaranya pakis sayur.

Senyawa polifenol yang ada di sayuran, buah-buahan, dan teh, menurut dua peneliti itu, dapat mencegah penyakit degeneratif. Salah satu senyawa polifenol yang banyak terdapat pada sayuran, yaitu flavonoid dan asam fenolat.

Asam fenolat merupakan antioksidan yang sangat kuat dan memiliki aktivitas  antibakteri, antivirus, anti karsinogenik, antiinflamasi, dan aktivitas vasodilatory. Selain itu asam fenolat juga mempunyai peranan untuk melindungi dari kanker dan penyakit jantung. Berdasarkan penelitian, pakis sayur terbukti memiliki senyawa fenol tinggi yakni 61,56mg/100 gr, dan merupakan sumber antioksidan yang tinggi. (BB-DIO)

Setelah tahu bahwa tumbuhan paku banyak manfaatnya, maka tak perlu ragu untuk mengonsumsinya, dan sekarang pun telah banyak resep menu masakan olahan dari daun paku atau kalakai. Selamat mencoba agar rasa ragu anda sirna.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *