Oleh: Ade Zaenudin

Nabi Ibrahim Alaihissalam begitu mencintai Nabi Muhammad Shallalohu Alaihi  Wasallam.

Bayangkan! Nabi Muhammad Shallalohu Alaihi  Wasallam belum lahir saja sudah dicintai para Nabi terdahulu, bagaimana dengan kita yang mengaku umatnya?

Bukan isapan jempol, kecintaan Nabi Ibrahim Alaihissalam tersebut menyisakan bukti nyata sampai saat ini. Cinta beliau berbuah garam.

Dalam Kitab An-Nawadir, Syekh Syihabuddin Al-Qolyubi mengisahkan kecintaan Nabi Ibrahim Alaihissalam begitu besar sampai lahir sebuah keinginan membuat jamuan khusus yang bisa dinikmati oleh Nabi Muhammad Shallalohu Alaihi  Wasallam kelak dan bisa dinikmati sampai hari kiamat. Ide yang luar biasa.

Atas keinginan tersebut Allah Subhanahu Wa Taala  menyampaikan bahwa Nabi Ibrahim tidak akan mampu merealisasikannya. Nabi Ibrahim kemudian menjawab, Wahai Tuhanku, engkau yang Maha Mengetahui keadaanku dan Maha Kuasa untuk mengabulkan permintaanku.

Allah Subhanahu Wa Taala mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan menugaskan Malaikat Jibril untuk membawakan segenggam kapur dari surga lalu dibawa ke gunung Qubais serta meniupkannya dari udara sehingga kapur itu tersebar ke mana-mana. Setelah Malaikat Jibril melaksanakan seluruh tugasnya itu maka setiap kapur yang jatuh menjadi garam yang rasanya asin hingga hari kiamat nanti.

Kehadiran Nabi Muhammad Shallalohu Alaihi  Wasallam memang sudah menjadi perbincangan di kalangan umat Nabi sebelumnya. Dalam Q. S. Al Baqarah ayat 146 Allah Subhanahu Wa Taala berfirman: “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”

Kita masih ingat bagaimana seorang Buhaira, orang Yahudi yang kemudian menjadi rahib, beliau tahu persis tentang kenabian Muhammad Shallalohu Alaihi  Wasallam berdasarkan ciri-ciri yang tercantum dalam Taurat dan Injil, padahal saat itu Nabi masih belia.

Begitulah beragama, tidak cukup ber-Islam tanpa ber-Iman. Tidak cukup hanya dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan saja tanpa tebalnya keyakinan akan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Bahwa beragama bukan hanya persoalan rasional dan irasional saja, bahkan segala hal yang kita anggap irasional sesungguhnya bisa dirasionalisasikan, hanya saja kapasitas berfikir kita yang terbatas untuk menjangkau semua hal.

Tebalnya keyakinan sering kita sebut dengan manisnya iman, dari manisnya iman ini akan muncul rasa cinta teramat dahsyat. Oleh karenanya, kita bisa mencoba menerka seberapa besar iman kita berdasarkan seberapa besar cinta yang ada. Bukankah tanda-tanda cinta itu sangat nyata? seberapa sering kita mengingat-Nya, seberapa bergetar saat mendengar asma-Nya? seberapa takut mendapat murka-Nya? Bukankah kita sangat takut ditinggal sang kekasih dan bahkan bertekuk lutut di hadapannya?

Kekaguman orang-orang terdahulu kepada Nabi Muhammad Shallalohu Alaihi  Wasallam begitu luar biasa, walau banyak diantara mereka menyembunyikannya. Nabi Ibrahim Alaihissalam memilih mengekpresikan rasa cintanya dengan jamuan yang manfaatnya bisa kita rasakan saat ini. Kado teramat indah dan dibutuhkan oleh semua orang.

Saya jadi membayangkan, bagaimana rasanya makanan tanpa garam?

Lalu saya pun merenung, menghela nafas saat jari-jari tangan ini menghentak keyboard dan sesekali melirik kitab An-Nawadir di samping komputer yang menjadi referensi tulisan ini, muncul pertanyaan, apa kado yang bisa menjadi penanda cintaku pada Nabi? Katanya Cinta? Allohu Akbar.

Setidaknya mari kita sampaikan shalawat untuk Baginda Nabi!

Alloohumma sholli alaa sayyidinaa Muhammad wa alaa aalihi wa sohbihi ajma’iin. Aamiin.Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *