Oleh: Moh. Anis Romzi

“Aku pinginnya liburan ke kota, dik. Di tempat kita itu-itu saja adanya.” Hari ke-2 liburab JonSo mulai gelisah. Dia merasa kebingungan apa yang harus dilakukan di rumah. Rotasi kegiatannya adalah rumah, sawah, sungai, dan rumah lagi.

Kabar berita tidak sedap di kota sekarang ini. Banyak kasus covid-19 melonjak tajam. Banyak rumah sakit kewalahan merawat pasien. Sementara ingin JonSo ke kota sulit dibendung. Ah, Covid-19 sudah dua tahun hampir belum pergi-pergi juga. Kalau tidak bisa berlibur, sama saja harinya dengan hari-hari biasa.” Kita harus cari cara bisa berlibur di luar kampung kita, dik.” Jono berkeras.

“Kamu apa tidak mendengar, Jon? Kalau di kota situasinya sedang gawat. Semua serba dibatasi sampai tingkat lingkungan terkecil. Kalau kita ke kota, terus tidak bisa kemana-mana. Apalah guna?” Sodik berniat menyadarkan Jono yang mabuk liburan ke kota.

“Ya, aku mendengar. Bahkan juga melihat di TV. Namun di TV itu hanya sepotong-sepotong saja. Kabar kawanku yang di kota, biasa saja situasinya.” Jono masih ngeyel.

“Ya sudah. Sak karepmu kalau begitu. Walaupun sepotong-sepotong kalau terjadi di banyak kota maka dapat disimpulkan terjadi di banyak kota. Apakah kawanmu yang memberi kabar itu telah berkeliling kota? Mencari siapa saja yang terpapar virus begitu?” Sodik mulai tinggi suaranya.

“Tidaklah. Dia itu bukan petugas. Hanya orang biasa saja. Dia menyampaikan ke aku kalau di kota itu sama saja situasinya. Seperti tidak wabah. Dia hanya mengamati saja.” Jono mulai goyah pendiriannya.

“Coba tanyakan padanya kondisi di rumah sakit di kotanya? Apakah dia pernah melihat atau berkunjung hari-hari terakhir ini?” Sodik terus menyerang kengeyelan Jono.

“Kurang kerjaan kalau itu. Walaupun gedungnya indah, aku ogah berlibur ke sana.”

“Bukan liburan, Jono. Tadi kamu tidak percaya kalau wabah itu tidak ada. Berita di TV juga kamu bantah. Terus cara apa lagi yang harus ditempuh kalau tidak dengan membuktikannya sendiri.” Sodik mendapat momennya kali ini.

“Yang aku heran itu, kenapa di negara kita saja yang ribut masalah covid-19 ini. Satu disembuhkan muncul jenis baru. Kalau begini caranya kita tidak akan bisa ke mana-mana, dik.”

“Ya, sudah kamu coba saja berangkat ke kota sendiri.” Sodik dongkol

Dua hari kemudian Jono nekat berangkat ke kota. Dia berangkat penuh semangat membara, liburan. Segala bekal telah disiapkan, pun termasuk uang saku dari orangtuanya. Dengan kendaraan transportasi air umum Jono ikut menumpang. Klotok masyarakat kampung JonSo menyebutnya. Namun ketika hendak memasuki perbatasan, kelompok satgas menghadang.

“Demi keamanan bersama, seluruh penumpang diminta kembali ke daerah asal. Ini karena kasus positif Covid-19 meningkat tajam.” Pesan tim satgas melalui megaphone.

“Yah, tidak jadi liburan di kota. Benar kata Sodik” Jono bergumam sendiri. Singam Raya, Katingan, Kalteng. 29/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *