Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Besok kalian membawa karung bekas gabah. Pakai kaos  olahraga, jangan lupa maskernya.” Pak Ical mengakhiri pengumuman hari ini.

“ Untuk apa sih, dik disuruh membawa karung bekas?” Jono ngomel sambil berjalan menuju tempat parkiran sekolah.

“ Entah, aku juga tidak cukup mendengar. Di belakang ribut semuanya.”

“ Kita harus mencari informasi, dik. Kalau salah informasi kita harus bertemu Pak Ical lagi. Masa tiap hari harus diceramahi.”

“ Sepertinya masih ada hubungannya dengan kegiatan kita kemarin, Jon. Semua diminta wajib membawa karung berkas. Kolam dekat Musala kita hendak ditutup. Katanya sih terlalu dekat dengan pondasi teras.”

Sekolah JonSo berencana melaksanakan kegiatan Gotong-royong. Ini adalah sarana pembelajaran pendidikan karakter kepada peserta didik. Belajar bekerjasama untuk menyelesaikan masalah kehidupan di sekolah. Para peserta didik putri merawat kelas, sementara yang laki-laki menimbun kolam dekat Musala untuk keamanan pondasi bangunan.

“ Nanti kita akan berkeliling ke tempat penggilingan padi. Kalian bertanggungjawab untuk mewadahi sekam padi sejumlah peserta didik di kelasnya masing-masing. Bapak sudah berizin kepada dua pemilik penggilingan untuk meminta limbah sekam padinya. Beliau mengizinkan. Isi penuh, kemudian jahit pada ujungnya dengan tali rafia.” Pak Ical memberi pengarahan kepada peserta didik laki-lako sekolah JonSo.

“ Apakah bisa dipahami instruksinya?”

“ Bisa.” Jawab peserta didik serentak.

Segera setelah selesai pengarahan JonSo dan kawan-kawan segera menyebar. Dalam waktu sekitar 30 menit mereka sudah mulai berdatangan membawa sekam padi dalam karung. Setelah datang ternyata isian karung yang dibawa bervariasi. Ada yang penuh, setengah penuh. Namun semua sudah dalam bentuk terikat.

Pak Wanto memeriksa satu persatu karung yang dibawa JonSo dan kawan-kawan. Di tangannya ada data peserta didik berikut pulpen tidak ketinggalan.

JonSo memanggul karung sekam dari gerbang sekolah. Keringat bercucuran dari badannya. Kaos olahraga yang dipakainya basah kuyup oleh keringat. Namun mereka tetap tersenyum, karena semua mengerjakannya beramai-ramai.

“ JonSo membawa berapa karung?” Tanya Pak Wanto.

“ Dua pak. Satunya masih di depan gerbang sekolah. Nanti setelah ini dibawa masuk.”

“ Baik, ini sudah saya centang. Masukkan kolam!” perintah Pak Wanto.

“ byuur…!” JonSo melempar bersamaan karung berisi sekam bersamaan.

“ ehhh-ehhh. Pelan-pelan. Ini jadi basah semua.” Pak Wanto melompat kaget.

JonSo serentak tertawa. Mereka sengaja menggoda Pak Wanto yang sedang serius mendata jumlah karung sekam padi yang dibawa kawan-kawan JonSo.

“ Kolam yang tadinya dalam ketika ditimbun bersama jadi ringan ya, Dik?”

“ Iya. Nanti kita nyaman jalan dari kelas ke Musala. Tapi masih harus dirapikan ini tampaknya.”

Kawan-kawan JonSo bahu-membahu menimbun kolam di bawah pengawasan Pak Wanto. Setiap peserta didik diabsen untuk ketertiban. Mereka masih belajar bertanggung jawab, jadi masih diperlukan pendampingan. Pendekatan behavioristik masih diterapkan dalam pembelajaran ini. Harapannya di masa depan mereka dapat berkontribusi positif pada masyarakat tempat dia tinggal.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 23/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *