Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Ada anak-anak kita di kelas 7 yang belum lancar membaca, pak. Perkiraan saya sekitar 6 atau 7 anak.” Bu, Yati. Guru JonSo mata pelajaran Bahasa Indonesia melaporkan hasil observasinya. Ia adalah guru senior, sekaligus bertugas sebagai pustakawan di sekolah JonSo.

“ Apakah mereka ini telah diuji kemampuan membacanya, ibu?” Pak Ical memberikan umpan balik.

“ Iya, Pak. Apalagi Wawan. Ketika diminta membaca nyaring dia masih menebak, pak.” Bu Sari menambahkan.

“ Wawan itu sudah kelas delapan, bukan?”

“ Benar, pak. Namun kemampuan membacanya berkembang sangat lambat. Saya khawatir nanti dia akan kesulitan kalau dipaksakan naik ke tingkat berikutnya.” Bu Sari menguatkan pendapatnya.

Akhir pekan adalah hari pemeriksaan kegiatan di SMP JonSo. Saat seluruh peserta didik telah mengakhiri kegiatan, para pendidik berkumpul untuk melakukan evaluasi bersama. Jika Pak Ical tidak sedang melakukan perjalanan dinas, ia yang memimpin. Saat sedang dinas pak Ical digantikan pendidik yang lain. Evaluasi kegiatan adalah wajib di sekolah JonSo.

“ Bapak dan ibu pendidik sekalian, kembali saya tegaskan bahwa tidak semua peserta didik kita memiliki kecepatan yang sama dalam belajar. Terimakasih bapak dan ibu telah mengobservasi beberapa anak didik kita yang mengalami keterlambatan. Khususnya kemampuan membaca. Ini bukan takdir, ya bapak dan ibu?”

“ Bukan pak, ini adalah murni kemampuan mereka yang lambat. Kita perlu analisa lebih mendalam.” Bu Imah, guru sains berkomentar.

“ Saya menduga bisa bawaan orangtuanya, pak. Jika orang tua intelektualitas rendah dapat menurun kepada anaknya.”

“ Apakah mungkin karena gaya belajar yang tidak sesuai, bapak dan ibu? Seperti teori tentang gaya belajar visual, audiolingual, dan kinestetik. Kita memperlakukan anak-anak unik ini sama. Adakah pengaruhnya?” Pak Ical memperlebar bahan diskusi.

Kegiatan evaluasi itu membahas detail permasalahan pembelajaran di sekolah JonSo. Para pendidik mengumpulkan informasi bersama. Ini adalah salah sarana deteksi dini cacat produk layanan jasa pendidikan. Ketika permasalahan ditemukan segera dicarikan jalan keluar penyelesaian.

“ Saya usul, Pak.” Tiba-tiba Bu Yati mengangkat tangan.

“ Iya, ibu. Silakan!”

“ Bagaimana kalau perpustakaan ambil bagian dalam membina JonSo dan kawan-kawannya secara khusus. Maksud saya mereka dibina di perpustakaan selama tiga bulan. Dengan gerakan wajib kunjung dan baca setiap hari.”

Sementara itu JonSo yang menjadi bahan diskusi para gurunya tetap tenang saja di rumah. Lihat esok hari, apa yang akan terjadi pada hidup mereka. Adakah nanti ketika lulus SMP keduanya sudah mahir membaca. Literasi adalah proyek sekolah JonSo yang menjadi prioritas sambut AKM.

“ Bagaimana dengan Wawan?” dia yang akan menghadapi AKM untuk pertama kalinya.

Singam Raya, Katingan, Kalteng. 20/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *