banner 728x250

JonSo(80) Tertib Dulu, Baru Maju

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Aduh, lima sekawan lagi. Rombongan belakangan datang.  Kalau begini terus Indonesia akan menjadi pengekor saja.” Pak Ical menyapa JonSo, Dani, Banu, dan Putra.

banner 325x300

“ Iya, pak. Tadi menunggu Banu, lama sekali dandannya.”

“ Kamu yang lama, Jon. Saya sudah menunggu sejak pagi tidak datang-datang.” Banu dan Jono saling menyalahkan.

Kesekian kalinya lima sekawan harus berdiri di depan gerbang. Tanda mereka melakukan pelanggaran ringan, terlambat. Namun ada sisi baiknya. Semuanya memakai telah memakai masker lengkap. Hari ini Sodik kena giliran membaca WQ. Dia memaksakan diri untuk berani. Karena keempat kawannya sudah pernah menjalani hukuman.

“ Jika waktu ini adalah uang, kalian telah menghabiskannya untuk hal yang tidak tepat. Seharusnya kalian sudah berada di lingkungan sekolah 10 menit yang lalu. Di dalam teman-teman kalian sudah hampir selesai melaksanakan Panji. Waktu berlalu begitu saja.”

“ Ya, Pak. Besok kami tidak akan terlambat lagi.” Dani kali ini memberanikan diri untuk menjawab.”

“ Kalau ternyata masih belum berubah sikap kalian, ini akan berbahaya untuk masa depan. JonSo, Dani, Banu, dan Putra, kalian semua akan menjadi calon pemimpin masa depan. Tanggung jawab itu adalah hal utama dalam kita berinteraksi dengan orang lain. Ini akan melahirkan kepercayaan kepada kita. Dan kepercayaan itulah hal utama untuk berhubungan dengan orang lain.”

Lima sekawan menunduk tidak bersuara. Kelimanya sedang menanti sanksi lanjutan, selain ceramah Pak Ical yang menyeruak lobang telinga mereka. Rasanya sulit kali ini untuk membuat alibi agar terhindar dari jeratan hukum.

“ Kepatuhan pada tata tertib adalah bagian dari pembelajaran sikap. Sekolah bukan hanya sekadar mencari pengetahuan semata. Banyak hal yang dapat diambil sebagai pelajaran. Sekolah kita ini adalah laboratorium mini kehidupan sosial yang ada di rumah kita masing-masing.”

“ Sodik, kamu maju ke depan bapak sini. Baca satu persatu WQ. Sedangkan yang lain, dengarkan dan tirukan.”

“ Saya tidak bisa pak.”

Membaca nyaring adalah sesuatu yang menakutkan bagi Sodik. Ini memang masalah yang saat ini harus ia hadapi. Dengan langkah yang berat , Sodik maju mendekati Pak Ical. Gemetar tangannya semakin mengisyaratkan rasa cemas. Pak Ical paham  akan permasalahan Sodik. Ia ingin membuat Sodik untuk berani bertanggung jawab.

“Ini dibaca semuanya, pak?”

“ Paling sedikit separuh, dik.”

Tampak Sodik tersenyum lega. Namun tidak terlihat senyum di bibirnya karena tertutup masker. Namun dari matanya yang menyipit, itu menandakan bahwa ia mulai tidak takut lagi.

“ Anak-anak sekalian, bahwa tertib pada waktu adalah modal kita untuk menuju kemajuan. Inilah bukti dari kedisiplinan. Besok tidak mengulang lagi, paham? Negara yang maju itu adalah negara’ yang tertib. Itu dimulai dari sini, kita sebagai kelompok terkecil. Sekarang masuk dan belajar!” Pak Ical membukakan gerbang untuk lima sekawan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 16/6/2021

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *