banner 728x250

JonSo(71) Gotong-royong Bangun Desa

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Besok kita disuruh membawa sabit bagi yang laki-laki. Sedangkan yang perempuan membawa sapu lidi.”

banner 325x300

“ Kerja bakti lagi, Jon? Memang akan ada tamu ya di sekolah kita?”

“ Aku tidak tahu, dik. Hanya disuruh membawa sabit saja yang aku dengar.”

Tradisi sekolah JonSo setiap akhir tengah semester menjelang Penilaian. Bhakti lingkungan untuk persiapan menghadapi penilaian. Sekolah ingin menanamkan karakter Gotong-royong dalam pembelajaran. Bhakti lingkungan salah satunya. Harapannya akan tumbuh kesadaran bersama, kerja bersama untuk kepentingan bersama.

Namun hari ini berbeda. Itu karena ada lomba desa, dan kelurahan. Pemerintah desa meminta instansi yang ada di lingkungan desa JonSo kembali menggalakkan Gotong-royong.

“Katanya Gotong-royong itu budaya Indonesia lho, dik.”

“ Kalau aku, sebenarnya semua negara ada budaya gotong-royong. Mungkin namanya saja yang berbeda. Namun yang penting bahwa semangat kebersamaan itulah yang penting.”

“Gotong-royong ini akan mengikis egoisme. Dalam bekerja bersama kita mesti memperhatikan kepentingan yang lain.”

“Zaman internet ini Gotong-royong mulai menurun sepertinya. Semua asyik dengan gawainya masing-masing.” Sodik mengamati keadaan saat ini.

“ Dik, kita ini anak desa to? Maka tugas kita adalah menyiapkan diri untuk membangun desa. Kita mungkin bisa tiap Minggu bisa melihat bapak-bapak kita bergotong-royong. Umumnya kita lihat mereka melakukannya di fasilitas-fasilitas umum. Ini dapat menjadi bahan belajar juga lho.” Jono meyakinkan.

“ Gotong-royong yang umum ya seperti yang kita lihat, Jon. Namun ke depan Gotong-royong bisa saja berbeda dengan yang sekarang ini. Ragam pekerjaan yang berbeda, teknologi informasi yang cepat tampaknya berpengaruh pada semangat gotong-royong. Walaupun pemerintah telah sedang berusaha untuk terus menghidupkan nilai-nilai Gotong-royong ini.”

JonSo memang sudah terbiasa dengan gotong-royong di sekolahnya. Keduanya lihai mengoperasikan sabit untuk memotong rumput dan tanaman liar di lingkungan sekolah. Bagi mereka bergelut dengan rumput adalah biasa dilakukan sehari-hari. Jadi kalau dibawa ke sekolah boleh jadi mereka lebih lihai daripada bapak dan ibu gurunya. Terkhusus dalam menggunakan sabit dan cangkul.

“ Katanya lagi ini, dik. Pemerintah sedang membangun mulai dari desa. Ketika desa berdaulat, negara menjadi kuat. Berarti pemerintah sedang memperhatikan kita sekarang ini.”

“ Sepertinya Gotong-royong sekarang ini harus bergeser nilai-nilainya. Kalau di kampung kita gotong royong ini masih bersifat fisik semata. Padahal katanya Pak Ical bahwa kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan adalah musuh masyarakat pedesaan. Kita saat ini berada di desa. Kita harus berupaya bersama untuk tidak bodoh, miskin, dan terbelakang. Sudah saatnya kita bergotong-royong memeranginya dari desa. Bersama kita bisa.”

“ Namun terkadang yang ada itu membodohi kita. Terus kapan majunya desa kita?” Tutup Jono pendek.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 07/6/2021. Hari ke- 26 Syawal 1442 H

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *