JonSo(6) Kikuk Saat Menyanyi

Oleh: Moh. Anis Romzi

“Anak-anak saatnya kita masuk pelajaran seni budaya hari ini. Standar kompetensi yang harus kalian capai adalah dapat mempraktikkan menyanyikan satu lagu wajib nasional. Kemudian setelah lagu wajib nasional, setiap orang juga harus menyanyikan satu lagu daerah.” Terdengar Bu Ida memulai pelajaran di kelas JonSo.
“ Huuu.” Serentak kawan-kawan sekelas JonSo ribut.
“Bu, lagu daerahnya campursari boleh?” Dede langsung bertanya setelah mendengar instruksi awal Bu Ida. Ia memang sangat percaya diri untuk pelajaran seni. Begitu percaya dirinya ia sering bersenandung lagu campursari di depan teman-teman perempuannya di kelas.
Namun tidak dengan JonSo. Keduanya terlihat kebingungan. Keringat dingin mulai membasahi baju seragamnya. Jono menoleh kanan-kiri, sedangkan Sodik memutar-mutar bolpoinnya. Ia tidak melihat Bu Ida sama sekali, walaupun ia duduk paling depan.
“Kalau lagu Korea boleh tidak Bu? Saya suka sekali.” Santi tampak tidak mau kalah mencari perhatian Bu Ida.
“huuu…” hampir seluruh siswa di kelas JonSo berseru tanpa komando.
“ Hah. Memang ada yang salah dengan pertanyaan saya?” Santi tidak terima di bully.
Bu Ida tersenyum mengamati polah tingkah peserta didiknya di kelas. Diperhatikan satu-satu seluruh peserta didiknya. Ia menatap satu persatu tidak lebih dari tiga detik. Saat berhenti pada Sodik, tatapan Bu Ida jatuh lebih lama sedikit. Maskernya masih terpasang rapi.” Sodik, apakah kamu paham instruksi ibu tadi?” Seperti biasa Sodik tidak langsung menjawab. Ia malah menatap balik Bu Ida. Kemudian ia menggeleng.
Dari sebelah lain Dede menyahut.” Ibu, bagaimana yang tadi campursari lagunya boleh apa tidak?” Ia meminta perhatian Bu Ida.
“Sudah ya anak-anak. Sekarang gantian ibu lagi yang berbicara. Standar kompetensi yang harus kita pelajari hari ini adalah seni suara. Dengan kompetensi dasar peserta didik mampu mempraktikkan menyanyikan salah satu lagu wajib nasional dan daerah. Memang tidak salah, lagu Korea juga merupakan seni suara. Namun alangkah lebih elok bila kita mengenal dan mampu mengapresiasi karya anak bangsa sendiri. Barulah nanti kita membandingkan dari liat negeri. “ Bu Ida mulai memberikan pengantar.
Tetiba Jono mengacungkan tangan. Pada mulanya Bu Ida tidak melihat. Setelah mengeluarkan suara, baru Bu Ida menoleh padanya.
“ Oh, iya Jon, ada yang ingin ditanyakan.” Bu Ida memberikan kesempatan Jono bertanya.
“ Itu Bu, Apakah lagu Bendera dari band Cokelat itu termasuk lagu wajib nasional?”
Deg! Bu Ida agak terlihat kaget. Namun namanya seorang guru yang cukup senior, Bu Ida segera mampu menguasai keadaan.
“ Lagu Bendera yang mana ya Jon?” Bu Ida menggunakan teknik memantulkan bola.
“ Itu Bu, yang potongan liriknya. Merah putih teruslah kau berkibar. Diujung tiang tertinggi, di Indonesiku ini.” Jono tampak percaya diri.
“ Adakah yang bisa menjawab pertanyaan Jono? Sodik mau menjawab?” Bu Ida.
Anehnya Sodik langsung melanjutkan lirik lagu Bendera dari Cokelat.” Ku kan selalu menjagamu’ suaranya tertahan karena gemetar. Hari itu walaupun kikuk Sodik telah berani melanjutkan potongan lirik lagu dari Jono. Sepertinya keduanya sehati.
Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 3/4/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *