Oleh: Moh. Anis Romzi

“Kami akan membujuk ayah kami agar diperbolehkan membawa Bunyamin. Kami akan benar melaksanakannya. “Itu ucapan saudara-saudara nabi Yusuf. Saat diminta membawa adik bungsunya.” Sodik bercerita lagi.

Walaupun hari sebelumnya sempat tersinggung atas ucapan Jono. Namun itu hanya sebentar. Sore ini kembali terlihat keduanya bersama di dangau sawah seperti biasanya. Mereka menjemput buka puasa. Memang terkadang kata-kata Jono mengandung unsur verbal bullying. Boleh jadi karena tidak tahu ia melakukannya. “Dimaafkan sajalah “, pikir Sodik. Memaafkan lebih baik, itu bagi yang tahu.

“ Pasti karena saudara-saudara nabi Yusuf itu takut tidak akan dapat jatah gandum lagi. Bukan karena mereka berniat baik. Namanya orang biasanya hanya mementingkan perutnya sendiri. Walaupun dengan ‘ memakan’ saudara sendiri.” Kali Jono emosional. Dia ingin berempati pada nabi Yusuf yang telah disakiti. Sekaligus agar Sodik tidak marah lagi.

“ Ya, tidak sepenuhnya benar, Jon. Kamu tahukan, sebelumnya nabi Yakub telah kehilangan Yusuf. Mereka pasti berpikir ayahnya tidak akan mengizinkannya.” Sodik sedikit meluruskan pendapat Jono.

“ Selanjutnya nabi Yusuf berkata kepada para pelayannya,” masukkanlah barang-barang (penukar) mereka ke dalam kantong mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.(QS. Yusuf: 62). “ Itu adalah siasat nabi Yusuf untuk menanam Budi kepada mereka, agar nanti mereka bersedia kembali lagi ke Mesir membawa Bunyamin.

“Cerdas nabi Yusuf ya dik?  Itu siasat bisa ditiru. Menanam Budi agar kembali kepada diri.” Jono menarik simpulan.

“Terus apakah mereka berhasil membujuk nabi Yakub, agar mengizinkan membawa Bunyamin ke Mesir?” Jono tidak bisa bersabar.

“ Sebentar. Benar ketika mereka kembali kepada nabi Yakub mereka berkata, “ wahai ayah kami tidak akan mendapat jatah gandum lagi jika tidak membawa saudara kami, oleh karena itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah gandum dan kami benar-benar akan menjaganya.”(QS. Yusuf: 63) Sodik memberikan penjelasan.

“ Nabi Yakub berkata,” Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu? Sebagaimana aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?”(QS. Yusuf:64) Sodik lebih dalam, bahwa masih berat bagi nabi Yakub. Ia teringat akan kakak Bunyamin nabi Yusuf.

“ Aku pikir kalau aku menjadi orangtuanya seperti nabi Yakub, maka akan berat. Anak yang disayanginya sudah hilang. Ini adiknya juga hendak dibawa lagi. Siapa saja pasti berat, dik.” Jono bisa emosional kali ini.

“ Namun mereka (saudara-saudara Yusuf) tetap berusaha untuk membujuk. Mereka berkata,” Wahai ayah lihatlah, barang-barang kita telah dikembalikan kepada kita. Kita akan dapat memberi makan keluarga kita, dan kami akan memelihara saudara kami, dan kita akan mendapatkan jatah gandum seberat seekor unta. Hal yang demikian adalah mudah bagi raja Mesir.” (QS. Yusuf: 65)

“ Ah, nafsu sekali mereka ini. Hanya karena makanan apa saja akan ditempuh. Lantas bagaimana dengan nabi Yakub, dik?” Jono mengejar.

“ Sudah hampir magrib Jon. Ayo kita pulang.” Sodik tidak menjawab Jono.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 4/5/2021. Hari ke-22 Ramadan 1442 H.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *