Oleh: Moh. Anis Romzi

Situasi masih pandemi covid-19. Ini karena banyaknya desakan para orangtua. Kapan belajar di sekolah lagi. Dengan berbagai upaya akhirnya keluar surat izin tatap muka pembelajaran untuk sekolah JonSo. Syarat yang harus dipenuhi adalah sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas. Syarat yang lainnya adalah tidak ditemukan kasus positif baru terpapar covid-19 di desa Jamur Pedas. Desa lokasi sekolah JonSo.

“Sodik, sekali-kali boleh diturunkan maskernya saat berbicara.” Suatu waktu ketika mendampingi JonSo belajar di kelas. Ia tidak bersuara, hanya menggeleng. Sodik memang hampir tidak pernah bicara saat bersama kawan-kawannya di kelasnya.

Sodik memang sangat irit bicara. Dalam dua jam tatap muka kelas kata-kata yang keluar dari bibirnya bisa dihitung dengan jari. Entah apa yang ada di pikirannya. Kalau saya jadi guru di kelas, sudah keluar puluhan kata, bahkan ratusa, Sodik hanya satu-dua saja.

“Kita boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka, namun wajib memenuhi protokol kesehatan.” Senin pagi saat beberapa didik masuk gerbang sekolah. Peringatan ini terus didengungkan untuk memastikan protokol kesehatan berjalan.

“Pak, kalau pakai masker terus di sekolah, malah sesak. Bagaimana nih?” Protes Santi. Siswi paling bongsor di kelasnya JonSo. Para siswi justru lebih berani mengutarakan pendapat. Kalaupun dibandingkan, Santi sepuluh Kalimat. JonSo satu kalimat bisa kurang.

“Paling maskermu tidak ganti tiga hari, San?” ledek Dede. Ketua kelas yang duduk bersebelahan dengan Santi.

“ Ya enggak lah, setiap hari aku beli yang baru, Wek..! Kata Bu perawat puskesmas kemarin, kamu dengar tidak? Masker itu harus ganti setiap empat jam sekali. Nah …Lo. atau kalau pakai masker kain harus lapis tiga. Paling kamu dengarnya kue lapis. Ya, kan?” Santi melawan Dede.

JonSo, keduanya bergeming. Mereka tak bergerak sedikitpun. Walaupun kawan-kawannya di kelas saling berargumentasi berebut kebenaran. Mereka asyik dengan dunianya sendiri. Kadang menatap buku, kemudian corat-coret yang sulit dibaca. Namun tidak mengeluarkan suara. Kalau tidak disuruh bergerak mereka hanya akan duduk di kursinya saja. Terkecuali Jono agak mau sedikit bergerak.

“Coba lihat itu, Sodik. Dari pagi sebelum masuk gerbang hingga kita mau pulang, dia tenang saja tetap pakai masker. Nggak kaya kamu San. Baru 10 menit, sudah ributnya minta ampun.” Dede coba mencari dukungan.

“Aku kan bukan Sodik. Wajahku yang glowing tidak akan kelihatan, kalau aku pakai masker. Ya, kan Dik?” Santi tidak mau kalah menggalang dukungan.

Seperti titik nol, Sodik bergeming. Hanya anggukan ringan yang tidak kentara. Dua-duanya, Dede dan Santi mendapat dukungan anggukan ringan. Namun namanya Sodik, entah itu iya atau tidak tahu nobody knows. Perlu dicatat, Sodik salah satu dari JonSo tidak pernah melepas masker dari datang sampai pulang lagi. Percaya diri banget..! Sampit, Kalteng. 31/3/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *