banner 728x250

JonSo(21) Yakin dengan Doa

banner 120x600
banner 468x60

JonSo(21) Yakin dengan Doa
Oleh: Moh. Anis Romzi
Suasana pagi ini agak lebih panas dari biasanya. JonSo tiba di sekolah paling belakang hari ini. Tidak tahu apa yang terjadi. Dari raut muka keduanya terlihat terburu-buru sekali. Sehari sebelumnya mereka terlihat tidak hadir. Setelah ditanya ternyata mereka tidak tahu kalau sekolah masuk. Informasi disampaikan di grup kelas via pesan WhatsApp. Keduanya memang belum memiliki gawai android.
“JonSo kalian tahu dari mana kalau hari ini sudah masuk. Dan ini hari kedua sudah.” Pak Ical menginterogasi keduanya.
“Itu pak. Kemarin siang waktu saya sedang di sawah, saya melihat kawan-kawan pulang berombongan. Saya pikir itu dari sekolah. Saya tahunya sudah siang pak. Maaf kalau kemarin tidak berangkat ke sekolah.” Jono memberanikan diri menjawab.
“ Apakah kalian tidak pernah berkumpul atau bermain dengan kawan-kawan sekelas saat di rumah. Bermain misalnya.” Pak Ical mendesak.
“ Jarang sekali pak. Karena ketika berkumpul semuanya asyik bermain dengan gawainya masing-masing. Sedangkan kami belum memiliki. Kalau hanya melihat saja rasanya tidak enak. Jadinya saya lebih senang bermain dengan anak-anak SD.” Jono berterus terang.
Sodik hanya melirik saja ketika Jono menjawab pertanyaan-pertanyaan Pak Ical. Tampaknya dia harus setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jono.
“ Kalau kamu Sodik. Apakah kamu juga tidak tahu kalau sejak kemarin kalian sudah harus masuk sekolah?” Pak Ical mengalihkan pertanyaan kepada Sodik.
“ Saya tahu pak sebenarnya. Namun tidak berangkat. Itu karena kalau sendiri saya tidak berani. Takut ditanya macam-macam. Saya akan bingung menjawabnya.” Polos sekali Sodik menjawab.
“ Setidaknya kalian berdua ini agak aktif sedikit ya. Coba kalau ada apa-apa itu bertanya kepada kawan-kawan sekampung. Agar tidak terjadi lagi salah informasi seperti ini lagi.” Pak Ical menasehati.
“Saya sudah bertanya pak. Tetapi seringkali saya dibohongi sama kawan-kawan. Jadinya saya enggan lagi bertanya.” Sodik menunjukkan rasa tidak sukanya karena dikibuli kawan-kawannya sendiri.
“Ya. Bapak juga meminta maaf kepada kalian. Karena memang pengumuman masuk hanya disampaikan melalui grup kelas.” Pak Ical merasa bersalah juga atas apa yang menimpa JonSo.
“Oh, ya JonSo. Apakah kalian tidak ingin memiliki gawai android seperti anak-anak lainnya? Agar kamu juga terbiasa membaca informasi. Baik itu dari sekolah maupun yang lain.”
“ Ya pinginlah Pak. Namun saya harus menyadari kalau bapak saya masih belum bisa membelikan. Lagi pula sekarang ini kita sudah belajar dengan tatap muka. Jadi gawai nanti saja kalau bapak saya sudah longgar rezekinya.” Jono yang menjawab.
“ Benar Jon. Kamu pengertian sekali dengan orangtuamu. Itu baik untuk dilakukan. Tidak perlu memaksakan diri harus sudah mempunyai gawai.” Pak Ical menyemangati.
“Kami yakin pak. Nanti bapak pasti membelikan. Sekarang saatnya membantu mereka di rumah. Kami akan terus berdoa semoga lekas kesampaian punya gawainya.”
Perilaku yang baik ditunjukkan JonSo hari ini.
Sampit, Kalteng. 18/4/2021. Hari ke-6 Ramadan 1442 H

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *