Oleh: Moh. Anis Romzi

“Pak saya mau menaruh gabah di kantor. Disuruh bapak mengantar untuk menyumbang pembangunan musala kita.” Jono berkeringat memanggul satu karung gabah.

“Oh iya Jon. Tolong sampaikan terima kasih pada bapaknya ya? Semoga panennya berkah dan banyak.”Pak Ical menyambut Jono. Sambil membantu Jono menurunkan panggulan gabah di punggungnya.

“Sama-sama Pak. Tadi bapak menyampaikan semoga musala sekolah kita cepat selesai.”

“Ohh. Begitu ya. Panen bapaknya banyak Jon? Kenapa tidak dijual saja dulu gabahnya, supaya tidak repot berat memanggul ke sekolah?” Pak Ical mengajak ngobrol Jono.

“Itu pak, gabah sekarang tidak laku kata bapak. Kemarin kami bawa ke pemilik penggilingan tidak ada uangnya. Padahal bapak sangat perlu untuk kebutuhan menggarap sawah lagi. Ini musim tanam lagi pak. Pemilik penggilingan berjanji akan membayar nanti pada bulan tujuh. Terpaksa bapak cari hutangan lagi untuk kebutuhan rumah dan sawah.”Jono bercerita. Raut mukanya terlihat sedih.

“ Ini tadi bapak menyisakan beberapa karung di rumah. Beberapa untuk benih, makan keluarga dan ini saya disuruh membawa ke sekolah untuk menyumbang pembangunan musala kita, pak.” Jono melanjutkan.

“Bapak ikut prihatin mendengarnya Jon. Semoga segera terbayar gabah bapakmu di penggilingan. “ Pak Ical mencoba menghibur.

“Sini Jon sebentar. Kita duduk-duduk dan ngobrol sebentar. Kira-kira menurut kamu kenapa gabah para petani di desa kita bisa sampai sulit lakunya. Padahal kita ini berharap dari penghasilan penjualan gabahnya.”Pak Ical memancing Jono.

“Saya tidak tahu juga pak. Tapi mungkin karena semua serentak sedang panen pak. Gabahnya terlalu banyak. Sedangkan pembelinya sedikit. Ini pun gabah yang di bawa ke penggilingan hanya untuk membayar hutang penggarapan kemarin pak. Sisanya belum dibayar. Kata yang punya penggilingan berasnya masih belum laku.” Jono fasih bercerita.

“Ooh. Begitu ya?” Pak Ical manggut-manggut mendengarkan penjelasan Jono.

“Itu belum seberapa pak. Banyak petani kawan-kawan bapak banyak mengeluh juga. Katanya kita ini panen, tapi kok tidak ada duitnya. Sementara kebutuhan mendesak tidak bisa menunggu.”

“ Apakah tidak ada yang bisa membeli gabah-gabah petani dalam jumlah yang besar begitu Jon? Misalnya perusahaan Pemerintah seperti Bulog begitu?” Pak Ical mencoba mengikuti pikiran Jono

“ Bulog? Apa itu ya pak? Saya tidak tahu itu. Kami hanya mengetahui kalau panen gabahnya dibawa ke pemilik penggilingan pemberi pinjaman semuanya. Kalau hanya cukup untuk membayar hutang ya tidak ada sisanya. Para petani berhutang lagi.” Jono tidak paham apa yang dimaksud Pak Ical.

“Badan urusan logistik Jon. Badan Usaha milik pemerintah yang mengurusi kebutuhan pokok rakyatnya. Biasanya Bulog membeli gabah langsung dari petani.” Pak Ical menjelaskan.

“ Tampaknya Pemerintah harus campur tangan untuk mengurus masalah gabah ini Jon.”

“Campur tangan? Apalagi itu pak? Saya menjadi bingung ini. Saya tahunya es campur buah pak.” Jono nyengir. Singam Raya, Katingan, Kalteng. 15/4/2021. Hari Ke-3 Ramadan 1442 H.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *