Oleh: Moh. Anis Romzi

Rombongan bebek-bebek sawah menyusuri tepian pematang. Sisa-sisa banjir rob tadi malam masih terlihat. Mungkin saja ada ikan-ikan sungai terperangkap di tepian pematang, pikir para bebek.

JonSo pun berpikir hal yang sama dengan para bebek. Ikan yang ada di benak mereka. Keduanya sedang asyik menikmati akhir pekan.

“Ehh. Jon. Besok kita ada tugas membaca buku di kelas kita ya? Itu yang ibu Sari perintahkan minggu kemarin. Kamu masih ingat?” Sambil memegang joran pancing JonSo duduk di sungai dekat sawah orang tua mereka. Keduanya sedang menikmati liburan akhir pekan. Minggu pagi yang cerah di awan atas mereka. Matahari bersinar terang, tetapi tidak terasa panas. JonSo bahagia sekali dengan kehidupan di desanya. Tidak polusi, ikan mudah di dapat dekat tempat kerja orangtua mereka. Desa laksana surga bagi mereka.

“ Oh. Ya, ya. Aku ingat. Tapi besok harus membaca buku apa ya, dik? Apakah kamu punya saran?” Jono balik bertanya. Sambil ia tetap asyik memperhatikan ujung tali pancing yang terlihat di permukaan air. Belum ada tarikan terasa pada ujung jorannya. Wajahnya serius.

“Kemarin aku jalan-jalan lewat depan perpustakaan sekolah. Aku melihat banyak sekali buku di sana.” Sodik menimpali.

“Namanya perpustakaan ya pastinya lah banyak buku. Kalau banyak jajanan itu namanya kantin, dik.” Kali Jono sok tahu.

“Bukan banyaknya buku maksudku, Jon. Itu lho tugas membaca satu buku dari Bu Sari. Kita pinjam saja satu buku dari perpustakaan.” Sodik menjelaskan pada Jono.

“Terus kita nanti apakan bukunya. Kamu tahu kalau aku agak sulit membaca. Lha wong kalau melihat buku aku hanya pilih lihat gambar-gambarnya saja. Sungguh tulisan itu tidak menarik bagiku.” Jono mencari alasan lagi.

JonSo memang diidentifikasi oleh bapak dan ibu gurunya agak lambat dalam membaca. Pada saat diminta membaca nyaring Jono sering menebak kata. Sedangkan Sodik lama baru mendapatkan mengeluarkan lambang bunyi kata. Belum lagi perihal fahamnya makna yang dibunyikannya.

“Tapi itu tugas wajib lho Jon. Kalau tidak dilaksanakan bisa-bisa kena masalah nanti kita di kelas. Begini saja Jon, bisa ataupun tidak yang penting kita pinjam buku saja. Biar satu saja tidak apa-apa. Nanti kita bawa pulang bukunya. Terus kita belajar sambil mancing seperti ini.” Sodik menawarkan gagasan pada Jono.

Jono mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia berpikir keras. Perlahan dia memegang dagunya. Ia lupa kalau sedang memegang joran pancingnya. “Ehh… Umpanku ditarik, dik. Mantap ini kelihatannya. Lihat dik, Strike.” Jono gembira sekali. Ia tidak tahu arti kata itu. Jono hanyab pernah melihat ungkapan itu pada acara mancing di televisi.

“ Terus tugas membaca dari Bu Sari besok, bagaimana Jon?” Sodik tampak khawatir.

“Kita pikir besok juga, dik.” Jawab Jono singkat. Seekor ikan Haruan seukuran pergelangan tangan nyangkut di pancingnya.

JonSo, membaca sulit dan lengket, tetapi tidak dengan memancing.

Jaya Makmur, Katingan,Kalteng. 10/4/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *