Oleh: Moh. Anis Romzi

JonSo duduk berhadapan langsung dengan Pak Ical. Keduanya sangat serius tetapi belum juga paham. Sodik mencoba berpikir keras. Ia mencoba menarik simpulan sederhana. Perubahan iklim adalah akibat, sebabnya adalah efek gas rumah kaca. Peningkatan efek gas rumah kaca karena ulah manusia.” Ah, sudah mulai terlihat agak jelas.”

“Apakah Pak Diding menjelaskan apa itu perubahan iklim, pak?” Sodik memberanikan diri bertanya. Ini agar Jono merasa terkawani.

“Tidak sepenuhnya, dik. Kita bisa mencari sendiri, kok. Nanti coba kita lihat bersama-sama.”Pak Ical mencoba mengambil hati JonSo.

“Oke, kita mulai dari perubahan iklim. Dengarkan, ya!, Kapan perlu dicatat.”

“Saya tidak membawa buku tulis, pak.” Jawab Sodik polos.

“Maksudnya Pak Ical itu tidak harus dicatat sekarang. Tapi ini sangat penting untuk diperhatikan. Mencatat adalah bagian dari mengawetkan informasi di kepala kita. Masa begitu kamu tidak tahu, dik.” Jono menyahut sambil terlihat kesal dengan Sodik.

“Dalam Kamus Besar Bahas Indonesia V perubahan iklim bermakna sebagai Peralihan cuaca yang sangat mencolok yang terjadi antara dua periode waktu tertentu dari suatu wilayah iklim.” Pak Ical memulai penjelasanya.

“Maaf, pak. Iklimnya yang berubah. Saya kok tidak bisa merasakannya, ya? Yang mana iklim itu.” Sodik mulai ikut serius.

“Benar, dik. Banyak di antara kita yang kurang, atau bahkan tidak menyadari akan adanya perubahan iklim itu. Okelah kita mundur sejenak penjelasannya. Iklim masih menurut KBBI V diterjemahkan sebagai keadaan hawa meliputi suhu, kelembaban, awan, hujan, dan sinar matahari, dalam jangka waktu yang agak lama 30 tahun) suatu daerah. Jadi mudahnya kalau dahulu  kita bisa menandai musim, cuaca sebagai suatu teratur. Tidak lagi sekarang. Itu salah satu dampak dari perubahan iklim. Dan yang paling menonjol adalah cuaca yang lebih panas dari tahun ke tahun. Sampai di sini paham?” Pak Ical berhenti sebentar.

JonSo tidak menjawab.  Keduanya memperlihatkan Pak Ical, namun raut muka kebingungan sangat nampak.”Kalau efek gas rumah kaca pak?” Sodik memberanikan diri untuk bertanya.

“Gas rumah kaca, benar. Para ahli menyatakan bahwa inilah yang menyebabkan pemanasan global. Bapak mengambil dari KBBI V lagi ya. Di sana mengartikan bahwa gas rumah kaca adalah gas dalam atmosfer yang dapat menjebak panas, terdiri atas karbondioksida, metana, dan Klorofluorkarbon.” Pak Ical melanjutkan penjelasannya.

“Lantas, apa hubungannya pak, dengan peti putih di sawah kemarin. Yang dipasang orang-orang berseragam biru-biru itu?”Jono kali bersuara.

“Nah, kalau yang ini bapak bertanya pada Pak Diding. Salah satu dari orang-orang yang berseragam biru yang kalian maksud. Ia mengatakan bahwa peti putih itu adalah alat pengukur efek gas rumah kaca. Peti putih itulah alat yang kamu curigai sebagai peti harta Karun.” Pak Ical tersenyum.

“Kenapa di sawah, pak?” Sodik lagi beraksi.

Pak Ical belum bereaksi.

Sampit, Kalteng. 5/7/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *